Cerita ini berawal dari sebuah gambaran yang tidak mau pergi dari kepala saya: hutan yang terbakar, atau sengaja dibakar, dan di dalamnya hidup serpihan-serpihan surga yang tidak sempat berpamitan. Ada pohon yang umurnya lebih tua dari nama desa mana pun. Ada air yang jernih seperti kaca. Ada burung yang setia pada satu lubang di satu batang, dan induk yang menggendong anaknya melintasi dahan seolah dunia akan selalu menyediakan dahan berikutnya.
Lalu ada manusia. Mereka bukan penonton yang jauh dari kobaran api. Mereka adalah orang-orang yang setiap pagi membuka mata di bawah langit berwarna jingga, yang batuknya tidak berhenti, yang anak-anaknya diliburkan dari sekolah karena udara tidak lagi layak dihirup. Mereka perih. Dan perih itu, saya kira, adalah satu-satunya bahasa yang bisa dipakai alam untuk berbicara kepada kita.
Karena begitulah keadaannya. Hutan tidak bisa menulis surat. Gambut tidak bisa berunjuk rasa. Burung tidak bisa bersaksi di ruang sidang. Apa yang ingin mereka katakan harus dititipkan kepada seseorang, dan seseorang itu adalah kita, manusia yang masih sempat bernapas, masih sempat melihat, dan masih bisa memilih untuk tidak diam.