Yang Tidak Bisa Dikatakan
Kami tidak punya mulut, tetapi kami selalu berbicara.
Kami berbicara dengan cara daun menurunkan embun pada subuh yang tidak ditunggu siapa-siapa. Kami berbicara lewat akar yang saling menggenggam di bawah tanah, tempat air disimpan seperti ingatan. Kami berbicara melalui kepak tingang yang terdengar seperti kain basah dikibaskan, melalui lenguh kecil induk orangutan yang menimang anaknya di ketinggian, melalui kodok yang menyanyi serempak setelah hujan pertama, seakan-akan seluruh rawa sedang mengucapkan terima kasih.
Kami sudah berbicara sejak sebelum ada yang menamai kami hutan. Sejak sebelum ada yang menamai sungai itu Sungai Lunuk dan tanah itu Tumbang Lunuk. Sejak sebelum ada manusia yang datang membawa parang, lalu membawa gergaji, lalu membawa surat izin yang kertasnya lebih putih dari batang kayu mana pun.
Tetapi bahasa kami adalah bahasa yang lambat. Satu kalimat kami membutuhkan seratus tahun untuk selesai. Pohon yang kalian sebut ulin menuliskan satu cincin setiap musim, dan ketika kalian memotongnya, kalian membaca empat ratus kalimat dalam satu tebasan lalu mengatakan, "Kayunya bagus."
Maka kami belajar memakai bahasa yang lain. Bahasa yang kalian mengerti.