Serpihan Surga

Bobby Mahmud
Chapter #4

Bab 1 — Pagi yang Masih Jernih

Bagian I — Asap Pertama

Juli – Agustus


Kabut tipis masih tersangkut di pucuk-pucuk pohon ketika Ayu menyusul langkah Haji Samad masuk ke Rimba Bahalap. Udara pagi dingin dan basah, berbau daun busuk, kulit kayu, dan sesuatu yang manis yang tidak pernah bisa Ayu namai, bau yang hanya ada di dalam hutan dan hilang begitu ia keluar ke jalan desa.

"Jangan di belakang terus, Ayu," kata Haji Samad tanpa menoleh. "Hutan tidak suka orang yang berjalan sambil melamun."

"Ulun tidak melamun, Abah Haji. Ulun menghitung langkah."

"Berapa?"

"Dua ratus empat puluh sejak pagar kebun Uwak Rahim."

Lelaki tua itu terkekeh, suaranya serak seperti kerikil digosokkan pada kayu. Usianya enam puluh delapan, tetapi ia berjalan di atas akar-akar yang licin dengan kaki telanjang tanpa pernah tergelincir. Sarung kotak-kotaknya disingsingkan sampai lutut, parang kecil terselip di pinggang, dan di bahunya tergantung kantong anyaman rotan yang sudah menghitam oleh keringat bertahun-tahun.

Di belakang Ayu, adiknya, Dika, berjalan sambil mendongak. Anak sembilan tahun itu tidak pernah melihat ke tanah. Matanya selalu tertambat ke atas, ke cabang-cabang, ke lubang-lubang di batang pohon, ke mana saja burung mungkin bersembunyi. Karena itu Bungai yang berjalan di sampingnya, gadis Dayak bertubuh kecil dengan rambut dikepang dua, bertugas menarik ujung bajunya setiap kali ada akar yang melintang.

"Dika, awas."

"Aku lihat kok."

"Kamu lihat langit. Akar itu di bawah."

"Burungnya di atas."

"Burungnya tidak akan lari, tapi hidungmu bisa patah," kata Bungai datar, dan Ayu menahan tawa.

Mereka sudah sering melakukan perjalanan ini, tiga anak kecil dan seorang penjaga hutan, hampir setiap Sabtu pagi sejak libur sekolah dimulai. Orang tua mereka tidak keberatan. Abah Karim, ayah Ayu dan Dika, hanya berpesan agar mereka pulang sebelum azan zuhur. Nini Dahiang, nenek Bungai, malah menitipkan sebungkus nasi ketan dan satu pesan yang selalu sama: "Jangan petik apa pun yang tidak ditanam tanganmu sendiri."

Jalan setapak itu menurun landai, lalu berbelok ke sisi rawa gambut. Tanahnya empuk dan berwarna cokelat tua kemerahan, dan air yang menggenang di antara akar-akar bakau rawa tampak seperti teh pekat. Ayu selalu merasa janggal setiap kali melewati bagian ini. Rasanya seperti berjalan di atas kasur raksasa yang sedang bernapas pelan.

"Berhenti di sini," kata Haji Samad.

Ia berlutut, menekan telapak tangannya pada tanah di tepi jalur. Anak-anak berkumpul di sekelilingnya. Haji Samad menutup mata sebentar, seperti orang yang sedang mendengarkan sesuatu yang sangat jauh, kemudian membuka mata dan tersenyum.

"Kalian tahu kenapa Abah mengajak kalian pagi ini?"

"Karena Abah mau menunjukkan tujuh serpihan," jawab Dika cepat.

"Karena Abah kesepian," tambah Bungai.

"Dua-duanya benar." Haji Samad tertawa lagi. "Ayo. Kita mulai dari yang paling dekat."

Lihat selengkapnya