Setahun Terindah Bersamamu

Risna Dabliyuti
Chapter #2

1- Pagi yang Mengubah Segalanya

Rana menatap layar laptop tanpa benar-benar melihat desain gedung yang muncul di layar. Ia justru menatap penunjuk waktu pada sudut kanan layar.

Hampir jam delapan pagi. Kemarin, di jam yang sama, hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Sebuah kesalahan, sebuah tindakan yang tak pernah ada dalam rencana hidupnya, terjadi begitu saja.

Rana mengelus jemari. Ada sebuah cincin kecil di jari manis, itu bukan cincin nikah, itu cincin peninggalan almarhum Mama. Satu-satunya benda yang 'sempat' diselamatkan Rana sebelum semuanya ia 'buang' seminggu setelah Mama meninggal karena OD. Kematian yang diyakini Rana terjadi karena perlakuan buruk sang Papa.

Laki-laki itu, selalu saja menyakiti Mama. Dan kini, ia menyakitiku.

Rana mendengus. Ia meneguk kopinya yang sudah hampir dingin. Rana tahu, hubungannya dengan sang Papa tidak pernah membaik setelah kepergian Mama. Sejak Rana duduk di bangu kelas dua SMP, ia sudah melihat perlakuan Papa. Perempuan datang silih berganti dalam kehidupan Papa, dan Mama tidak pernah terima diduakan. Pertengkaran jadi santapan Rana sehari-hari. Tak ada damai di rumah mereka meski megah dan mewah.

Pernah suatu hari Rana menyarankan Mama untuk tidak marah-marah. Terima saja fakta bahwa Papa memang tidak setia. Nikmati hidup. Pergi belanja, liburan, bersenang-senang, habiskan uang Papa.

Tapi Mama justru makin menangis. "Kami menikah dengan cinta yang begitu besar, Rana, kenapa sekarang Papa berubah?"

Sejak itu Rana percaya, pernikahan adalah hal bodoh yang tidak akan dipilihnya. Tetapi kemarin Rana menyadari satu hal lagi yang lebih bodoh; kembali ke rumah Papa! Ia tidak bisa membayangkan hidup seatap dengan Papa dan perempuan yang telah menyakiti Mamanya.

Tante Fitri!

Jadi, mungkin ide menikah tidak seburuk itu.

Rana tersenyum sumbang.

Jati Salman. Kasihan dia.

Mimpinya masih panjang dan aku menyeretnya dalam pernikahan gila ini, hanya untuk membuat Papa menyerah dan kalah.

===

Rana ingat lagi kejadian pagi itu. Pagi yang mengubah segalanya.

"Rana, Papa serius. Ini bukan masalah kecil. Pak RT bilang orang kompleks sudah resah karena kamu sering membawa tamu bermalam."

"Sialan..." Rana mengumpat pelan. "Sering?" Rana menggeleng tak percaya.

"Panggil orang tuamu!" Rustam menyapu wajah Jati yang kebingungan. "Saya ingin bertemu! Telepon sekarang!"

"Pak ... maaf." Jati menelan ludah. "Orang tua saya di luar kota, Pak. Saya cuma ngekos di Medan. Saya berani sumpah, saya dan Kak Rana tidak ngapa-ngapain." Ia menunjuk tubuhnya. Kaos polo putih, jeans hitam tadi malam masih utuh di badan. Teman-temannya kenapa meninggalkan mereka berdua?

"Berani kamu bilang begitu?" Rustam membentak.

"Sumpahmu tidak berarti apa-apa, Anak Muda. Karena Pak RT dan orang kompleks sudah cemas dengan tingkah kalian." Tante Fitri menarik kursi dan duduk dengan wajah dingin.

"Cukup!" Rana mengangkat tangan dengan wajah merah. "Ini berlebihan, Pa. Katakan saja apa mau Papa!"

"Kalian harus menikah!" kalimat yang hampir sama dengan ucapannya tadi. Rustam menatap Jati.

"Jangan mengada-ngada, Pa. Jati ini mahasiswa yang magang dan tadi malam bersama teman-temannya ...." Rana kehilangan kata-kata saking marah.

Sementara di luar terdengar suara ramai. Entah karena Jati yang paling dekat ke jendela, refleks dia melihat ke luar dan seketika wajahnya pucat.

Rana melihat itu dan bergerak ke jendela.

Rombongan ibu-ibu kompleks sudah memenuhi halaman rumah Rana.. Ini gila apa? Kayak aku kriminal saja!

" Rana pulang ke rumah. Jual atau disewakan saja rumah ini. Urusan dengan Pak RT dan orang kompleks biar Papa selesaikan! Mereka tidak akan menuntut apa-apa jika Rana sudah tidak tinggal di rumah ini lagi."

Detik itulah Rana sadar. Ini bukan soal moral, ini bukan soal Papa malu melihat anak gadisnya tidur dengan laki-laki. Ini soal kontrol. Papa ingin ia kembali ke rumah dan mengontrol hidupnya. Membuatnya tidak punya pilihan, mati seperti Mama.

Rana mundur.

"Jati," Rana menatap Jati yang masih berdiri. "Kita perlu bicara," ia mengisyaratkan Jati untuk mengikutinya.

Lihat selengkapnya