Rana masih ingat, bagaimana reaksi Jati ketika di teras belakang dia menyampaikan hal yang mungkin lima tahun lagi pun belum ada dalam rencana Jati. Menikah.
"Kak, saya anak paling besar. Keluarga juga pas-pasan, Kak. Jangankan untuk menikah, uang kos tiap bulan seringnya nunggak." Wajah Jati lebih pucat dari tisu yang tadi sempat diambil Rana untuk melap hidungnya yang mulai meler.
"Saya tidak butuh uangmu Jati. Pernikahan ini juga bukan seperti dalam bayanganmu." Rana susah untuk mengungkapkan apa yang menjadi ketakutan di hatinya.
"Saya juga nggak bisa membayangkan kalau sampai orang tua tahu saya menikah. Cuma saya harapan Ayah dan Ibu, Kak. Jadi tolong, Kak, saya mohon. Kita bisa jelaskan ini dengan Papa Kakak, saya berani sumpah apa saja, saya nggak buat jahat ke Kakak."
Rana memijat pelipisnya. "Jati," ia membuang malu. "Saya janji ini hanya sementara. Paling lama satu tahun, atau tiga bulan. Saya akan menanggung semua biaya hidupmu selama setahun ini, dan kamu bisa tinggal di rumah ini, ada kamar lain." Ia menggigit bibirnya. Betapa susahnya dia untuk mengatakan sesuatu seperti, 'kalau kita tidak menikah, aku akan mati di rumah Papaku sendiri.'
Seperti mama!
"Dan orang tuamu tidak perlu tahu," Rana menunduk. "Anggap kamu menolong saya sambil menyelamatkan dirimu sendiri." Sungguh Rana benci dengan kalimat ini, tapi sudah terlanjur. Itu seperti ancaman orang dewasa ke 'anak kecil'. Bah.
"Saya nggak mengerti, Kak," Jati menggeleng, wajahnya tampak gusar.
"Papa tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Dia akan membuatmu hancur kalau tidak menikahi saya. Setidaknya untuk hari ini. Papa lebih takut kehilangan nama baik dan harga dirinya di depan warga kompleks dan Pak RT, ketimbang menyuruh orang menyakitimu. Dia punya banyak anak buah, dan saya tidak bisa menjamin dirimu akan selamat di luar sana."
Itu bohong. Memalukan. Ia yakin Papa justru akan 'rela' melepas Jati setelah tahu anak itu cuma anak ingusan yang orang tuanya tinggal di kampung. Rustam Malik, pemilik RM Furniture yang terkenal itu gengsinya selangit. Huh! Sekarang saatnya aku benar-benar mempermalukan kamu, Papa.
Jati masih terdiam, cukup lama untuk membuat Rana hampir menyerah, ketika akhirnya Jati menjawab pelan. "Baik, Kak, satu tahun saja, kan?"
Rana menatap Jati tak percaya. "Ya, satu tahun," Rana mengangguk. "Kuliahmu akan selesai dalam waktu itu juga kan?"
Jati mengangguk, menatap Rana dengan ekspresi yang membuat dada Rana bergejolak. Bukan karena senang, tapi karena tiba-tiba merasa sangat bersalah. Seperti dipaksa mengakui bahwa dia telah menyeret seorang laki-laki untuk membuat keputusan paling penting dalam hidupnya. Laki-laki yang mungkin tidak sadar, ini akan membuatnya menyesal seumur hidup.
"Saya akan membiayai kuliahmu satu tahun ini sampai kamu wisuda dan kita juga berpisah," Rana berjanji. Sombong, sisi hatinya yang lain menertawakan. Seolah uangmu bisa membeli apa saja, termasuk anak magang ini!
Dua jam kemudian ijab kabul itu berlangsung. Seakan hanya sebuah peristiwa makan siang. Sat-set. Walau Jati yang gugup harus mengulang melafalkan kabul sampai tiga kali, tapi akhirnya saat saksi mengatakan, sah, maka mereka menjadi pasangan suami istri.
Rustam langsung pulang setelah akad selesai. Rana melihat wajah Papanya yang merengut sepanjang proses pernikahan berlangsung. Rana tahu, Papanya tidak akan menyerah. Tapi kali ini laki-laki itu tidak punya pilihan; ia harus melihat Rana menikah. Anaknya lebih memilih jalan ini daripada kembali ke rumah !