Kereta uap itu mengeluarkan lengking panjang yang menggema di antara lereng-lereng pegunungan. Asap hitam membubung dari cerobong lokomotif, menari pelan di udara pagi yang dingin sebelum larut bersama kabut. Roda-roda besi yang sejak subuh berdentang tanpa henti kini mulai melambat, seolah enggan mengakhiri perjalanan panjangnya dari Batavia menuju daerah pedalaman Priangan.
Di balik jendela gerbong kelas dua, Elena Baskoro memandang keluar dengan diam. Matanya mengikuti hamparan perkebunan teh yang membentang sejauh pandangan. Barisan tanaman hijau tersusun begitu rapi mengikuti lekuk bukit, seperti permadani raksasa yang dibentangkan oleh tangan-tangan tak terlihat. Beberapa buruh pribumi tampak bekerja di antara semak-semak teh. Tubuh mereka membungkuk sejak pagi, memetik daun demi daun di bawah pengawasan mandor yang berjalan perlahan sambil membawa buku catatan.
Pemandangan itu tidak asing baginya. Namun entah mengapa, setelah lima tahun hidup di Batavia, semuanya terasa berbeda. Atau mungkin bukan tanah kelahirannya yang berubah; mungkin dirinya sendiri.
Elena mengembuskan napas perlahan. Pantulan wajahnya muncul samar pada kaca jendela. Ia bukan lagi gadis empat belas tahun yang dulu meninggalkan desa dengan mata penuh rasa ingin tahu. Kini ia telah berusia sembilan belas tahun. Rambutnya tersanggul rapi, cara duduknya lebih tenang, dan cara berbicaranya lebih terukur. Pikirannya telah dipenuhi banyak hal yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Batavia telah mengajarinya tentang dunia. Tentang sejarah Eropa, ilmu alam, filsafat, hingga bagaimana kekuasaan bekerja dan bangsa-bangsa besar membangun peradaban. Namun, ada satu pelajaran yang tidak pernah berhasil diberikan kota itu: cara melupakan rumah. Atau lebih tepatnya—cara melupakan seseorang.
Tanpa sadar jemarinya menyentuh liontin kecil yang tergantung di lehernya. Liontin itu sederhana, terbuat dari kayu pinus yang diukir kasar—hadiah dari seorang anak laki-laki yang pernah berjanji akan menunggunya.
Gani. Nama itu kembali hadir begitu saja, seperti angin gunung yang menyelinap melalui celah jendela. Lembut, namun tidak mungkin diabaikan.
Elena tersenyum tipis. Ingatannya melayang jauh ke masa kecil. Ke jalan-jalan tanah yang dipenuhi jarum pinus, ke sungai kecil yang mengalir di belakang desa, dan ke pohon besar tempat mereka berdua sering berlindung ketika hujan turun mendadak. Ia juga teringat kepada seorang anak laki-laki berkulit gelap yang selalu membiarkannya menang setiap kali mereka berlomba memanjat bukit. Saat itu semuanya terasa sederhana. Mereka tidak mengenal perbedaan derajat, pendidikan, ataupun jabatan. Mereka hanya mengenal persahabatan, dan sesuatu yang tumbuh diam-diam di baliknya.
Kereta berguncang pelan, membuyarkan lamunan Elena. Seorang perempuan tua yang duduk di hadapannya tersenyum ramah.
"Sudah dekat, Nona?"
Elena mengangguk. "Ya. Tinggal satu pemberhentian lagi."
"Ah, pasti keluarga sudah menunggu."
Elena tersenyum sopan. "Mudah-mudahan."
Perempuan itu terkekeh kecil. "Bapak pasti bangga punya anak perempuan sekolah tinggi di Batavia."
Elena tidak segera menjawab. Ia menoleh kembali ke luar jendela. Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun sesungguhnya tidak sesederhana itu. Ayahnya memang bangga. Sangat bangga. Mungkin terlalu bangga. Sejak awal Pak Baskoro selalu berkata bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengangkat martabat keluarga. Karena itulah ia mengirim Elena ke Batavia dan menghabiskan tabungan bertahun-tahun. Karena itulah Elena kadang merasa menjadi harapan yang terlalu besar untuk dipikul seorang diri.
Kereta kembali membunyikan peluit, kali ini lebih panjang dan nyaring. Stasiun tujuan sudah terlihat. Bangunan kecil beratap merah muncul dari balik deretan pohon. Di sampingnya berdiri gudang kayu dan menara air untuk mengisi kebutuhan lokomotif. Bendera Belanda berkibar pelan di depan kantor stasiun.
Sejumlah pedagang mulai terlihat di peron—penjual kopi, penjual pisang rebus, hingga penjual rokok linting. Suara-suara mereka samar terdengar dari kejauhan.
Jantung Elena mulai berdetak lebih cepat. Entah mengapa, lima tahun bukan waktu yang singkat. Banyak hal bisa berubah selama itu. Mungkin wajah-wajah yang dikenalnya sudah berbeda, mungkin desa ini sudah berkembang, mungkin hutan pinus sudah menyusut... atau mungkin Gani juga berubah.