Pagi itu kabut turun lebih tebal dari biasanya. Kabut pegunungan yang lembap menggantung rendah di antara batang-batang pinus, membuat hutan tampak seperti dunia yang setengah terbangun dari tidur panjang. Aroma getah bercampur tanah basah memenuhi udara.
Gani berdiri di tepi lereng dengan kedua tangan bertaut di belakang punggung. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat sebagian besar kawasan hutan yang menjadi tanggung jawabnya. Deretan pinus menjulang seperti barisan penjaga tua yang setia menjaga gunung selama puluhan tahun.
Bagi banyak orang, pohon-pohon itu hanya kayu. Bagi pemerintah kolonial, mereka adalah angka dalam laporan produksi. Bagi para pedagang, mereka adalah keuntungan yang menunggu ditebang. Namun bagi Gani, hutan itu adalah rumah. Lebih dari itu, hutan ini adalah warisan—warisan ayahnya, warisan kakeknya, warisan orang-orang yang telah hidup berdampingan dengan tanah itu jauh sebelum bendera Belanda berkibar di wilayah tersebut.
"Mandor Gani!" Seorang pekerja berlari kecil mendekat dengan napas memburu.
"Ya?"
"Lima orang dari blok selatan sudah datang."
"Bagus."
"Mereka menunggu arahan."
Gani mengangguk. "Ajak mereka ke petak tujuh. Ada beberapa pohon yang perlu diperiksa akarnya setelah hujan kemarin."
Pekerja itu segera pergi mematuhi perintah. Gani kembali menatap hutan, namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Pikirannya tertinggal di stasiun kecil yang saat ini mungkin sedang dipenuhi suara peluit kereta.
Elena pulang. Kalimat itu berulang-ulang muncul dalam kepalanya sejak beberapa minggu terakhir.
Lima tahun lamanya. Ia masih ingat hari ketika gadis itu berangkat ke Batavia, membawa koper kecil dan impian yang jauh lebih besar daripada desa mereka. Saat itu Elena menangis diam-diam karena takut. Gani, yang tidak pandai merangkai kata-kata, hanya memberikan sebuah liontin kayu pinus yang dibuatnya sendiri.
"Aku akan kembali," kata Elena waktu itu. Dan Gani mempercayainya, sama seperti ia mempercayai matahari akan terbit setiap pagi.
Namun hidup tidak selalu berjalan sesederhana itu. Lima tahun mengubah banyak hal—terlalu banyak. Gani menundukkan kepala. Tangannya yang kasar menyentuh bekas luka kecil di telapak kiri, luka lama akibat kapak. Luka yang mengingatkannya bahwa hidupnya tetap berada di jalur yang sama, sementara Elena telah berjalan jauh ke dunia yang berbeda.
Ia hanyalah seorang mandor hutan, anak petani, lelaki yang setiap hari bergumul dengan tanah, hujan, dan pohon. Sedangkan Elena sekarang adalah perempuan berpendidikan tinggi, lulusan sekolah Belanda. Perempuan yang bisa berbicara dalam bahasa yang bahkan tidak dipahami sebagian besar warga desa, yang mungkin telah bertemu banyak laki-laki yang jauh lebih pantas darinya.
Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak. Bukan karena iri, melainkan karena sadar bahwa cinta saja tidak selalu cukup.
Suara langkah kaki memecah lamunannya. Seorang pemuda pekerja datang tergesa-gesa. "Wisnu bilang Tuan Opzichter datang lagi."
Rahang Gani mengeras. Nama itu cukup untuk mengubah suasana hatinya menjadi keruh. "Di mana?"
"Di batas barat."
Gani langsung melangkah cepat menuruni lereng. Beberapa menit kemudian, ia tiba di kawasan perbatasan hutan. Di sana sudah berdiri tiga orang Belanda bersama dua mandor perkebunan. Yang paling depan adalah pria tinggi berusia sekitar lima puluh tahun dengan kumis tebal berwarna abu-abu: Tuan Opzichter Willem van Houten. Pria itu adalah pengawas perkebunan yang beberapa tahun terakhir terus berusaha memperluas wilayah perusahaan.
Begitu melihat Gani, pria Belanda itu tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip sebuah peringatan. "Tuan Gani." Bahasa Melayunya cukup lancar.