SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #3

Kecanggungan yang Menggantung

Rumah Pak Baskoro berdiri di atas tanah yang sedikit lebih tinggi daripada rumah-rumah lain di desa. Bukan rumah terbesar di wilayah itu, tetapi cukup luas untuk menunjukkan bahwa pemiliknya hidup berkecukupan. Bangunan utama bergaya limasan Jawa dengan serambi lebar menghadap kebun depan. Namun di beberapa sudut, tampak pengaruh Eropa yang mulai merambah kalangan priyayi pribumi: jendela-jendela besar berdaun kaca, kursi rotan impor, serta lampu gantung dari kuningan yang dibeli dari toko Belanda di kota kabupaten.

Ketika delman berhenti di halaman, Pak Baskoro sudah berdiri menunggu di beranda. Usianya kini mendekati lima puluh tahun. Tubuhnya masih tegap, meskipun rambut di pelipis mulai dipenuhi uban.

"Elena!" Suara itu membuat hati Elena menghangat.

Ia turun dari delman dan segera menghampiri ayahnya. Pak Baskoro memeluk putrinya erat—sangat erat—seolah lima tahun yang hilang tidak bisa ditebus hanya dengan kata-kata.

"Nduk..."

Elena tersenyum sambil menahan air mata. "Aku pulang, Yah."

"Ya. Akhirnya pulang."

Di belakang mereka, Bu Sri—ibunya—sudah lebih dulu menyeka mata dengan ujung selendang. Tak lama kemudian, suasana rumah dipenuhi tawa, pertanyaan, dan cerita yang saling bertumpuk. Tentang Batavia, sekolah, tetangga lama, hingga kasak-kusuk tentang siapa yang telah menikah dan siapa yang merantau. Semua orang tampak bahagia, kecuali satu bagian kecil dalam hati Elena yang terus bertanya-tanya: Mengapa Gani tidak datang?

Dua hari berlalu. Elena mulai kembali mengenali ritme kehidupan desa. Pagi hari diisi suara ayam dan embun, siang hari oleh aroma kayu bakar dari dapur-dapur warga, dan sore hari oleh angin gunung yang turun perlahan dari hutan pinus. Namun selama dua hari itu, ia hanya melihat Gani sekali. Dari kejauhan. Di lereng bukit. Tidak lebih, tidak kurang.

Hal itu mulai mengusiknya. Lima tahun lalu, mereka hampir tidak pernah terpisah lebih dari beberapa hari. Sekarang, mereka tinggal di desa yang sama, tetapi terasa seperti dipisahkan oleh jarak yang jauh lebih besar daripada Batavia.

Pada sore ketiga, Elena akhirnya memutuskan pergi sendiri ke hutan pinus. Ia berpamitan kepada ibunya hanya untuk berjalan-jalan. Sebagian itu benar, sebagian lagi tidak.

Langit sore berwarna keemasan ketika ia menyusuri jalan setapak yang dikenalnya sejak kecil. Jarum-jarum pinus berserakan di tanah, aroma getah memenuhi udara. Semuanya terasa sama, dan justru karena itulah hatinya terasa semakin tidak tenang.

Ketika ia tiba di sebuah area terbuka dekat lereng, suara kapak terdengar dari kejauhan.

Tok. Tok. Tok.

Elena mengikuti arah suara itu. Beberapa saat kemudian, ia melihat sosok yang dicarinya.

Gani. Lelaki itu sedang membantu beberapa pekerja memindahkan batang pohon yang tumbang akibat hujan minggu lalu. Kemejanya digulung hingga siku, keringat membasahi leher dan dahinya. Tubuhnya tampak jauh lebih kuat daripada yang diingat Elena—tidak seperti pemuda-pemuda Batavia yang sering ditemuinya. Tidak seperti mahasiswa atau pegawai kantor yang selalu berpakaian rapi, tubuh Gani dibentuk oleh pekerjaan, oleh tanah, oleh hujan, dan oleh kerasnya kehidupan.

Entah mengapa, pemandangan itu membuat Elena merasa gugup, seperti seorang gadis yang baru pertama kali jatuh cinta.

Salah seorang pekerja melihatnya lebih dulu. "Nona Elena!"

Gani menoleh. Gerakan tangannya berhenti seketika. Waktu seakan melambat. Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang, lalu Gani berjalan mendekat dengan langkah tenang. Terlalu tenang.

"Selamat sore, Nona Elena."

Elena berkedip. Nona Elena? Dulu lelaki ini memanggilnya Elena saja, atau bahkan Nduk ketika sedang bercanda. Kini, nada suaranya terdengar seperti orang asing yang sedang menjaga sopan santun.

"Selamat sore."

Lihat selengkapnya