Sejak kepulangan Elena, rumah Pak Baskoro tidak pernah benar-benar sepi. Tetangga datang silih berganti, kerabat jauh berdatangan membawa buah tangan. Para ibu ingin mendengar cerita tentang Batavia, sementara para bapak ingin tahu bagaimana kehidupan di sekolah Belanda. Anak-anak kecil pun ikut mengintip dari balik pagar, penasaran melihat gadis desa yang pulang dengan pendidikan tinggi dan cara bicara yang sedikit berbeda.
Namun sore itu, suasananya terasa lain. Para pembantu rumah terlihat lebih sibuk dari biasanya. Meja-meja tambahan dipasang di halaman, lampu minyak dibersihkan, dan kursi-kursi rotan ditata rapi di bawah pohon sawo tua. Di dapur belakang, aroma santan, rempah-rempah, dan mentega bercampur menjadi satu, menciptakan wangi yang menggugah selera.
Elena, yang baru selesai membantu ibunya mengatur rangkaian bunga melati, akhirnya bertanya, "Ini hanya syukuran kepulanganku, atau Ayah sedang mengadakan pesta besar?"
Bu Sri tersenyum samar. "Ayahmu memang sedikit berlebihan kalau urusan anaknya."
"Itu bukan jawaban, Ibu."
Ibunya tertawa kecil. "Sebenarnya ada beberapa tamu penting yang diundang."
"Tamu penting?"
"Salah satunya dokter pemerintah yang baru ditempatkan di kota kecamatan."
Elena mengangguk tanpa terlalu memikirkan hal itu. Selama di Batavia, ia sudah bertemu banyak dokter, pejabat, maupun guru dari berbagai kalangan. Kedatangan seorang dokter pemerintah sama sekali tidak terdengar istimewa baginya. Namun, ia tidak tahu bahwa ayahnya memiliki pemikiran lain.
Menjelang magrib, para tamu mulai berdatangan. Beberapa kepala dusun hadir bersama keluarga mereka. Tampak pula seorang guru HIS, pedagang kopi dari kota kabupaten, seorang pegawai kantor pos, serta beberapa tokoh masyarakat lainnya. Pak Baskoro menyambut semua orang dengan wajah berseri-seri. Malam itu, ia tampak seperti seseorang yang sedang memamerkan hasil kerja keras bertahun-tahun: putrinya, lulusan sekolah Belanda, kebanggaannya.
Di antara para tamu, Elena memperhatikan satu sosok yang baru tiba.
Gani. Ia datang mengenakan kemeja putih sederhana yang tampak baru dicuci, celana panjang hitam, dan sepasang sandal kulit. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Namun entah mengapa, kehadirannya justru lebih mudah dikenali dibanding siapa pun di halaman itu.
Gani menyapa Pak Baskoro dengan hormat, kemudian memilih duduk di salah satu kursi paling pinggir. Jauh dari keramaian, jauh dari pusat perhatian. Seperti biasa.
Elena memperhatikannya beberapa saat. Lelaki itu tampak lebih nyaman berbicara dengan para petani daripada ikut bercakap-cakap dengan tamu-tamu yang membahas politik kolonial atau perkembangan Batavia. Dan justru hal itulah yang membuatnya terasa berbeda—lebih nyata, lebih jujur.
Sementara Elena masih memandang ke arahnya, suara derap kuda terdengar dari luar pagar. Semua kepala spontan menoleh. Sebuah kereta kuda berhenti tepat di depan rumah.
Seorang lelaki muda turun dengan gerakan tenang. Tingginya hampir setara Gani, namun kesan yang dipancarkannya sangat berbeda. Ia mengenakan jas wol abu-abu yang dijahit rapi, sepatu kulit mengilap, dan jam tangan perak yang berkilauan di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya disisir ke belakang dengan minyak rambut hingga nyaris tanpa cela. Senyumnya bahkan sudah mengembang sebelum ia mencapai beranda.