Pagi berikutnya datang bersama kabut tipis yang menggantung di atas kebun belakang rumah Pak Baskoro. Embun masih menempel di daun-daun melati ketika Elena duduk di beranda sambil membaca koran lama yang dibawanya dari Batavia. Namun sejak beberapa menit lalu, matanya tidak benar-benar membaca satu kalimat pun.
Pikirannya masih tertinggal pada malam sebelumnya. Pada percakapan-percakapan yang terjadi, pada tatapan Adrian yang penuh percaya diri, dan terutama pada sikap Gani yang terasa begitu jauh.
Suara langkah kaki membuatnya mengangkat kepala. Pak Baskoro keluar dari ruang tengah sambil membawa secangkir kopi yang mengepul hangat.
"Sudah bangun sejak pagi?"
Elena tersenyum. "Aku sudah terbiasa."
Ayahnya duduk di kursi sebelah. Untuk beberapa saat, mereka hanya menikmati suasana pagiāsuara burung, angin yang menggesek dedaunan, dan aroma kopi yang menenangkan. Namun, Elena mengenal ayahnya dengan baik. Jika Pak Baskoro duduk sekondusif ini, biasanya ada sesuatu yang ingin didebatkan atau dibicarakan.
Dan benar saja.
"Nduk."
"Hm?"
"Kemarin bagaimana menurutmu Dokter Adrian?"
Elena menahan senyum kecil. Akhirnya sampai juga ke topik ini. "Beliau ramah."
"Ramah saja?"
"Ayah mengharapkan jawaban apa?"
Pak Baskoro tertawa pendek. "Dia lelaki yang sangat menjanjikan."
Elena tidak menjawab.
Ayahnya melanjutkan, "Pendidikan tinggi, jabatan bagus, masa depan cerah." Pak Baskoro mengangguk puas, seolah sedang menghitung satu per satu alasan yang mendukung pendapatnya sendiri. Kemudian ia menatap putrinya lekat-lekat. "Dan yang terpenting, dia menghargaimu."
Elena perlahan menutup koran di pangkuannya. Ia mulai memahami arah pembicaraan ini. "Ayah."
"Hm?"
"Kenapa rasanya seperti sedang menilai seekor kuda pacuan?"
Pak Baskoro tertawa, namun tawa itu tidak berlangsung lama karena topik selanjutnya jauh lebih serius.
Matahari semakin tinggi ketika percakapan itu berlanjut. Pak Baskoro memandang kebun di depan rumah, seakan memilih kata-kata yang paling tepat dan tidak melukai. "Nduk, lima tahun lalu ketika kau berangkat ke Batavia, aku punya harapan. Aku ingin hidupmu lebih baik daripada hidup kami. Aku tidak menyekolahkanmu jauh-jauh hanya supaya kau kembali pada kehidupan yang sama."
Kalimat itu terdengar sederhana, namun Elena menangkap makna tajam di baliknya. Perlahan, dadanya mulai terasa tidak nyaman. "Ayah ingin mengatakan apa?"