SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #6

Cincin yang Dikembalikan

Malam turun perlahan di kaki gunung. Langit yang sejak sore berwarna keemasan kini berubah menjadi lautan biru gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan satu demi satu di antara celah awan tipis, sementara suara jangkrik memenuhi udara seperti nyanyian alam yang tak pernah absen dari desa itu.

Elena duduk sendirian di beranda kamarnya. Lampu minyak di atas meja memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, namun pikirannya jauh dari tenang. Percakapannya dengan Gani sore tadi terus berputar di kepalanya—senyum kecil yang sempat muncul di wajah lelaki itu, tatapan matanya yang tetap hangat meski berusaha menjaga jarak, dan kalimat ayahnya yang terus menghantui.

"Hidup tidak dibangun hanya dengan ketulusan."

Elena membenci kalimat itu karena sebagian dirinya tahu bahwa dunia memang sering berjalan demikian. Namun, bagian lain dalam dirinya menolak mentah-mentah untuk mempercayainya.

Suara ketukan pelan tiba-tiba terdengar dari jendela.

Tok. Tok. Tok.

Elena menoleh, dan jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Di luar jendela berdiri seseorang—tinggi, tegap, dan sangat dikenalnya.

Gani.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berjalan beriringan menyusuri jalan setapak menuju hutan pinus. Tidak ada yang berbicara, hanya suara langkah kaki di atas tanah lembap dan desir angin malam yang menyusup di antara batang-batang pohon.

Tempat yang mereka tuju adalah sebuah lapangan kecil di tengah hutan—tempat rahasia mereka sejak kecil. Di sana berdiri sebuah pohon pinus tua yang sangat besar, pohon yang pernah mereka tanami bersama ketika masih anak-anak. Kini, pohon itu menjulang tinggi ke langit, seolah ikut tumbuh bersama usia mereka.

Mereka berhenti di bawah naungan pohon tua itu. Untuk beberapa saat, keheningan meraja. Elena menatap wajah Gani yang diterangi cahaya bulan samar. Lelaki itu tampak lebih serius dari biasanya, dan hal itu membuat hatinya mulai dirayapi gelisah.

"Gani?"

"Hm?"

"Ada apa?"

Gani tidak langsung menjawab. Tangannya masuk ke saku celana, kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil yang berkilau redup di bawah cahaya bulan. Jantung Elena seakan berhenti berdetak seketika. Ia mengenal benda itu. Terlalu mengenalnya.

Sebuah cincin.

Cincin sederhana yang dibuat Gani bertahun-tahun lalu—cincin pertunangan masa kecil mereka. Saat itu Elena baru berusia tiga belas tahun, sedangkan Gani empat belas tahun. Mereka duduk di bawah pohon yang sama sambil membicarakan masa depan dengan kepolosan khas anak-anak. Ketika itu, Gani memberikan cincin sederhana yang ditempanya sendiri dari logam bekas. Dengan wajah memerah karena malu, ia berkata, "Kalau nanti aku sudah besar, aku akan menikahimu."

Lihat selengkapnya