Pagi setelah malam di hutan pinus itu datang tanpa belas kasihan. Matahari tetap terbit, ayam tetap berkokok, dan para petani tetap berangkat ke sawah. Dunia berjalan seperti biasa, seolah tidak ada hati yang baru saja retak diam-diam di bawah naungan pohon tua.
Elena berdiri di depan cermin kamarnya dengan mata yang masih sembap. Di tangannya, tergenggam cincin sederhana yang semalam dikembalikan oleh Gani. Ia belum sanggup menyimpannya jauh-jauh, apalagi membuangnya. Cincin itu terasa seperti sebuah pertanyaan besar yang belum memiliki jawaban.
Perlahan, ia membuka laci meja dan meletakkannya di dalam kotak kayu kecil, lalu menutupnya rapat-rapat. Seolah dengan begitu, ia bisa mengunci seluruh kegelisahannya. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Beberapa luka tidak tinggal di permukaan kulit; mereka mengakar jauh di dalam hati.
Hari-hari berikutnya terasa ganjil. Elena dan Gani hampir tidak pernah bertemu. Jika pun berpapasan, itu hanya terjadi dari kejauhan—di pasar, di jalan desa, atau ketika Gani sedang memimpin pekerja di pinggir hutan. Tidak pernah ada lagi percakapan panjang, tidak ada kesempatan untuk mengungkit malam itu. Seolah keduanya diam-diam sepakat untuk membiarkan kenangan tersebut terkubur. Namun semakin mereka berusaha melupakannya, semakin jelas bayangannya muncul ke permukaan.
Sementara itu, Adrian mulai semakin sering datang berkunjung. Awalnya satu kali seminggu, lalu dua kali, hingga akhirnya hampir setiap beberapa hari sekali sepasang kuda penarik keretanya berhenti di depan pagar. Pria itu selalu membawa sesuatu: buku-buku baru dari Batavia, cokelat impor, majalah berbahasa Belanda, atau sekadar cerita-cerita menarik dari luar kota.
Pak Baskoro menyambutnya dengan tangan terbuka. Bu Sri pun menyukai sopan santunnya yang tertata. Adrian tahu persis bagaimana memanfaatkan keadaan itu. Ia tidak pernah tergesa-gesa ataupun terlihat memaksa. Ia membangun kedekatan seperti seorang dokter yang meracik obat—sedikit demi sedikit, sampai tidak ada yang menyadari kapan pengaruhnya mulai bekerja.
Suatu sore, hujan turun sejak siang dan kabut menggantung rendah di antara pepohonan. Di ruang tamu, Adrian dan Elena duduk berhadapan. Pak Baskoro baru saja pergi menemui kepala desa, sementara Bu Sri sibuk di dapur belakang. Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar berbicara berdua tanpa sekat formalitas.
"Boleh saya bertanya sesuatu?" kata Adrian memecah sunyi.
Elena mengangguk. "Tentu."
"Apa yang paling Anda rindukan dari Batavia?"
Elena berpikir sejenak, menatap riak air di halaman. "Kebebasan."
Adrian tersenyum kecil. "Jawaban yang menarik."
"Kenapa?"
"Kebanyakan orang akan menjawab gedung-gedung besar, trem, atau tempat hiburan."
Elena menoleh kembali ke arah hujan. "Di Batavia, saya bisa pergi ke perpustakaan sendiri. Bisa menghadiri diskusi, bertemu orang-orang baru, dan belajar banyak hal tanpa dicurigai."