SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #8

Pernikahan yang Gemerlap, Hati yang Redup

Musim kemarau datang perlahan ke kaki gunung. Kabut pagi mulai menipis, langit tampak lebih cerah, dan desa kecil itu dipenuhi kesibukan yang tidak biasa. Semua orang membicarakan satu hal: pernikahan Elena Baskoro.

Rumah Pak Baskoro berubah menjadi pusat kegiatan. Para perempuan berkumpul setiap hari untuk menyiapkan seserahan, kain-kain batik terbaik dikeluarkan dari peti penyimpanan, perhiasan keluarga dibersihkan, dan halaman rumah dirapikan. Pagar dicat ulang, bahkan jalan menuju rumah ditambal agar kereta para tamu penting tidak kesulitan melintas.

Pak Baskoro tampak sepuluh tahun lebih muda. Ia berjalan ke sana kemari dengan wajah berseri-seri. Sesekali ia menerima tamu dari kota kecamatan, sesekali ia membicarakan rencana pesta dengan nada bangga. Tidak ada yang bisa menyalahkannya. Di mata banyak orang, putrinya akan menikah dengan lelaki yang memiliki masa depan cerah. Seorang dokter pemerintah, orang terhormat, orang penting, seseorang yang dekat dengan lingkar kekuasaan kolonial. Bagi masyarakat saat itu, itu adalah pencapaian besar.

Namun di tengah semua kesibukan itu, Elena justru merasa semakin sepi.

Malam sebelum upacara siraman, Elena duduk di depan cermin. Ibunya sedang menyisir rambutnya dengan gerakan lembut penuh kasih sayang—gerakan yang sama seperti ketika ia masih kecil.

"Kau gugup?" tanya Bu Sri.

"Sedikit."

Ibunya tersenyum. "Itu wajar."

Elena menatap bayangannya sendiri, wajah yang akan menjadi pengantin esok hari. Wajah yang seharusnya tampak bahagia, namun yang dilihatnya justru seseorang yang sedang berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri.

"Bu..."

"Hm?"

"Apakah Ibu pernah menyesal menikah dengan Ayah?"

Tangan Bu Sri berhenti sesaat. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba. Kemudian ia tersenyum kecil. "Tidak."

"Bagaimana Ibu tahu Ayah orang yang tepat?"

Bu Sri memandangkan putrinya melalui cermin lama sekali, seolah sedang mencari jawaban yang cukup bijak. "Ayahmu membuat hidupku terasa lebih ringan."

Lihat selengkapnya