SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #9

Di Balik Pintu Tertutup

Rumah dinas dokter pemerintah itu berdiri kokoh di tepi kota kecamatan. Bangunannya besar—jauh lebih besar daripada rumah Pak Baskoro. Dindingnya dicat putih bersih, atapnya tinggi menjulang, dan jendelanya yang lebar dilengkapi kaca-kaca impor langsung dari Eropa. Di halaman depan, hamparan bunga mawar dan anyelir tumbuh subur di bawah perawatan tangan dingin seorang tukang kebun khusus.

Banyak orang akan menyebut rumah itu indah, bahkan mewah. Namun sejak hari pertama menapakkan kaki di sana, Elena merasa seperti sedang hidup di dalam sebuah bingkai foto yang kaku. Semuanya tampak sempurna dari luar, tetapi terasa begitu dingin ketika disentuh.

Bulan pertama pernikahan berlalu tanpa masalah berarti. Adrian bersikap sopan, ramah, dan penuh perhatian—setidaknya ketika ada pasang mata lain di sekitar mereka. Ia memperkenalkan Elena kepada para pejabat pemerintah, istri-istri pegawai Belanda, serta beberapa tokoh masyarakat kota kecamatan. Elena pun belajar menjalani peran barunya dengan patuh: tersenyum ketika diperlukan, mengangguk pada saat yang tepat, serta mengenakan kebaya sutra terbaiknya saat menghadiri jamuan makan.

Semua berjalan baik. Atau setidaknya, terlihat baik-baik saja dari permukaan. Namun perlahan, retakan kecil mulai muncul. Awalnya hampir tidak terlihat, serupa garis halus pada permukaan kaca.

Suatu sore, Elena sedang membaca buku di beranda ketika Adrian pulang dari klinik.

"Apa yang kau baca?" tanya Adrian sembari melonggarkan kerah kemejanya.

"Tulisan Multatuli."

Adrian mengerutkan dahi. "Buku itu lagi?"

Elena tersenyum tipis. "Aku menyukainya."

Adrian meletakkan tas dokternya di atas meja dengan ketukan yang sedikit lebih keras dari biasanya. "Lalu, apa gunanya membaca cerita tentang ketidakadilan setiap hari?"

Elena menatap suaminya dengan heran. "Karena kita perlu memahami dunia."

"Memahami dunia tidak akan membuat hidupmu lebih baik." Jawaban itu terdengar ringan, namun ada sesuatu di balik nadanya—sesuatu yang dingin dan meremehkan, membuat Elena mendadak tidak nyaman.

"Aku hanya sekadar membaca."

"Aku tahu," Adrian tersenyum, tetapi binar itu tidak pernah sampai ke matanya. "Kadang aku lupa bahwa istriku lebih suka bergelung dengan buku daripada bersosialisasi dengan kalangan kita."

Kalimat itu meluncur seperti lelucon biasa. Namun, Elena merasakan hunjaman sindiran halus di dalamnya. Dan itu adalah kali pertama. Pertama kalinya Adrian membuatnya merasa begitu kecil tanpa harus meninggikan suara sedikit pun.

Beberapa minggu kemudian, seorang pejabat Belanda mengadakan jamuan makan malam mewah. Adrian dan Elena hadir sebagai tamu kehormatan. Ruangan dipenuhi gelak tawa, dan percakapan dalam bahasa Belanda mengalir lancar di setiap sudut. Elena berusaha membaur dengan baik; ia menjawab beberapa pertanyaan dengan sopan, bahkan berhasil memancing tawa renyah dari seorang nyonya Belanda.

Namun ketika mereka berada di dalam kereta dalam perjalanan pulang malam itu, Adrian tiba-tiba memecah kesunyian. "Kau terlalu banyak bicara."

Elena menoleh, terkejut. "Apa?"

"Kepada Nyonya De Vries."

"Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan jujur."

"Kau tidak perlu menjelaskan segala sesuatunya secara panjang lebar," nada suara Adrian begitu tenang. Terlalu tenang.

"Kenapa?"

Lihat selengkapnya