SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #10

Anyelir Liar di Jalan Setapak

Musim berganti tanpa banyak suara. Di kaki gunung, hujan mulai lebih sering turun pada sore hari. Kabut kembali turun lebih awal, menyelimuti lereng-lereng pinus dengan warna abu-abu yang sendu.

Bagi sebagian orang, pergantian musim hanyalah urusan siklus cuaca. Namun bagi Gani, musim selalu membawa kabar mendalam tentang kehidupan: pohon mana yang tumbuh sehat, bibit mana yang perlu segera dipindahkan, serta akar mana yang mulai membusuk diam-diam di dalam tanah. Dan tahun itu, tanpa perlu diberi tahu oleh siapa pun, ia tahu ada sesuatu yang sedang meranggas dan membusuk di balik dinding kehidupan pernikahan Elena.

Kabar di desa selalu bergerak lebih cepat daripada deru kereta api. Kadang lebih cepat daripada surat, bahkan kadang melesat lebih cepat daripada kebenaran itu sendiri. Dari celoteh para pedagang acung yang kerap pulang pergi ke kota kecamatan, Gani mulai menangkap cerita-cerita kecil yang mengusik ketenangannya.

"Nyonya Elena sekarang jarang sekali keluar rumah."

"Dulu dia sering terlihat membaca buku di taman kota. Sekarang tidak pernah lagi."

"Wajahnya kelihatan pucat."

"Kurus juga, kasihan."

Awalnya, Gani berusaha keras untuk menulikan telinga dan mengusir pikiran-pikiran itu. Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri. Elena telah memilih jalannya, dan ia harus menghormati pilihan itu dengan mutlak. Namun, semakin banyak desas-desus yang singgah di telinganya, semakin sulit baginya untuk tetap berdiam diri. Karena yang berubah bukan hanya sekadar keadaan fisik Elena, melainkan cahaya hidup dalam setiap cerita tentang perempuan itu—cahaya yang dulu selalu benderang, kini perlahan-lahan meredup dan menghilang.

Suatu pagi, Gani harus mengurus laporan hasil produksi hutan ke kantor administrasi kolonial di kota kecamatan. Perjalanan itu memakan waktu hampir dua jam menggunakan delman. Ketika seluruh urusan birokrasinya selesai, matahari sudah mulai condong ke barat.

Saat delman yang ditumpanginya melintasi jalan utama dekat klinik pemerintah, ia melihat seseorang keluar dari bangunan putih bercat kusam itu. Langkah kakinya pelan, tubuhnya tampak jauh lebih kurus daripada yang diingat Gani, dan gurat wajahnya menyiratkan kelelahan yang amat sangat.

Elena.

Jantung Gani seketika terasa berat seolah dihantam batu. Baru hampir tiga bulan sejak hari pernikahan megah itu berlalu, namun dalam waktu yang singkat itu, Elena tampak berubah jauh lebih banyak ketimbang selama lima tahun ia merantau di Batavia. Perempuan itu memang tetap cantik dan anggun, namun kecantikannya kini serupa sekuntum bunga yang kekurangan cahaya matahari. Masih hidup, tetapi tidak lagi memiliki energi untuk mekar.

Elena sedang berjalan menuju kereta kuda rumah dinasnya ketika tanpa sengaja ia menoleh ke arah jalan. Mata mereka bertemu. Sesaat. Sangat singkat. Namun dalam sepersekian detik itu, waktu seakan melambat secara paksa.

Elena tampak terkejut, sebelum akhirnya mengulas senyum kecil. Sebuah senyuman yang amat sopan, namun sama sekali tidak mencapai sepasang matanya. Dan hal itulah yang justru membuat hati Gani semakin didera gelisah. Karena Elena yang ia kenal dulu, selalu tersenyum dengan melibatkan seluruh binar di wajahnya.

Hari itu Gani pulang ke desa jauh lebih lambat daripada biasanya. Sepanjang jalan, pikirannya disandera oleh bayangan wajah Elena yang pucat. Malamnya, ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Ia hanya duduk termenung di beranda pondok kerjanya sembari menatap hamparan hutan yang bermandikan cahaya bulan.

Angin berdesir lembut di antara tajuk-tajuk pinus tua. Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan Elena, Gani mengakui sebuah kebenaran mutlak kepada dirinya sendiri: ia masih mencintainya. Mungkin akan selalu begitu sampai akhir hayatnya. Namun, cinta yang ia miliki kini tidak lagi menuntut untuk saling memiliki. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mengetahui bahwa Elena baik-baik saja dalam hidupnya. Dan jika ternyata kenyataannya bertolak belakang—maka segalanya menjadi jauh lebih rumit dan menyakitkan baginya.

Lihat selengkapnya