SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #11

Pesan di Balik Kertas Surat

Hujan turun sejak pagi. Rintiknya membentur genting rumah dinas dengan irama yang teratur, menciptakan suara yang biasanya disukai Elena. Dahulu, ketika masih tinggal di desa, hujan selalu membawa ketenangan. Namun kini, bahkan suara hujan terasa seperti sesuatu yang jauh—seperti kebahagiaan yang pernah dikenalnya.

Sudah hampir setahun sejak pernikahannya dengan Adrian. Setahun yang dari luar tampak sempurna, namun dari dalam terasa semakin kosong dan mengisap jiwanya.

Hari itu Adrian berangkat lebih awal ke kota kabupaten. Katanya, ada pertemuan mendadak dengan pejabat kesehatan kolonial. Ia bahkan tidak sempat menyentuh sarapannya, sebuah hal yang jarang terjadi. Biasanya, Adrian selalu memperhatikan jadwal dan rutinitasnya dengan ketepatan yang nyaris obsesif.

Elena baru menyadari kejanggalan itu ketika seorang pembantu mengetuk pintu ruang bacanya dengan ragu.

"Nyonya."

"Ya?"

"Tas dokter Tuan tertinggal di meja depan. Tadi beliau terburu-buru."

Elena mengangkat kepala dari buku yang sedang dibacanya, menghela napas pendek. "Itu pasti penting untuk pertemuannya. Apakah perlu kita kirim menggunakan delman?"

"Sais kereta sudah telanjur pergi, Nona. Apakah saya perlu mencari kurir?"

"Tidak usah," Elena berdiri. "Aku sendiri yang akan mengurusnya."

Pembantu itu menyerahkan tas kulit hitam milik Adrian—tas yang selalu dibawanya ke mana-mana, benda personal yang hampir tidak pernah diizinkan disentuh oleh orang lain. Elena bermaksud meletakkannya di atas meja kerja suaminya agar bisa dikirimkan lewat pegawai klinik nanti. Namun, ketika ia mengangkat tas tersebut, kunci pengaitnya yang ternyata belum rapat terlepas. Sesuatu terselip dan terjatuh dari lipatan kulit bagian dalam.

Beberapa lembar kertas yang terikat rapi dengan pita kain berwarna biru pucat.

Elena membungkuk, memungut bundelan kertas itu. Awalnya, ia tidak berniat membaca—sama sekali tidak. Namun, satu hal langsung menyita perhatiannya: guratan tulisan tangan di lembar terluar.

Itu bukan tulisan tangan Adrian yang cenderung kaku dan tegas. Tulisan ini terlalu lembut, terlalu personal, dan dihiasi lengkungan yang feminin.

Jantung Elena mulai berdetak lebih cepat. Ia duduk perlahan di kursi kerja Adrian, masih menimang kumpulan surat tersebut. Logikanya berteriak untuk berhenti, untuk menghormati privasi suaminya dan mengembalikan benda itu ke tempatnya. Namun, ada riak intuitif dalam dirinya yang menolak patuh—sebuah perasaan aneh yang selama berbulan-bulan ini tumbuh tanpa nama. Perasaan bahwa ada belahan kehidupan Adrian yang sengaja dikunci rapat dari pandangannya.

Dengan jemari yang mulai sedingin es, Elena melepas ikatan pita biru itu. Ia membuka lipatan surat paling atas, dan seketika, dunianya perlahan runtuh.

"Adrian tersayang..."

Hanya dua kata pembuka, namun cukup untuk membuat napas Elena tercekat di tenggorokan. Tangannya mulai gemetar hebat, tetapi sepasang matanya menolak berhenti membaca. Baris demi baris, kalimat demi kalimat.

Surat itu ditulis dalam bahasa Belanda—bahasa yang dipahami Elena dengan sangat baik berkat pendidikannya. Dan setiap kalimat di sana terasa seperti mata pisau yang perlahan ditarik di atas kulitnya.

Perempuan yang menulisnya bernama Clara, seorang wanita yang tinggal di Semarang. Surat itu dipenuhi dengan untaian memori intim tentang pertemuan mereka, rasa rindu yang menggebu, serta janji untuk segera bersua kembali. Tidak ada ruang untuk salah paham atau penyangkalan. Surat itu ditulis oleh seorang perempuan yang memosisikan dirinya sebagai kekasih Adrian.

Lihat selengkapnya