SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #12

Memar yang Berbicara

Musim hujan semakin dalam. Sungai-sungai kecil di kaki gunung meluap lebih sering, mengubah jalan-jalan tanah menjadi kubangan lumpur yang licin. Kabut tebal turun hampir setiap pagi, menyelimuti desa dan kota kecamatan dengan warna abu-abu yang muram.

Di rumah dinas dokter pemerintah, suasana di balik pintu tertutup pun tidak jauh berbeda. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja, mandali, dan berwibawa. Namun di balik dinding putih yang rapi itu, sebuah pernikahan sedang retak sedikit demi sedikit, menyisakan puing-bahana yang sunyi.

Sejak menemukan surat-surat dari Clara, Elena tidak lagi memandang Adrian dengan cara yang sama. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai istri dengan patuh—tetap menyambut tamu-tamu suaminya, menghadiri undangan resmi, dan mengulas senyum ketika diperlukan. Namun, sesuatu yang paling krusial telah mati: kepercayaan. Dan sekali kepercayaan itu pecah, tidak ada lem yang benar-benar mampu mengembalikannya utuh seperti semula.

Adrian menyadari perubahan itu. Ia melihat bagaimana Elena kini lebih sering diam, lebih jarang bertanya, dan menghabiskan sisa waktunya dengan membaca atau menulis surat untuk ibunya. Anehnya, keheningan Elena justru membuat Adrian semakin mudah tersinggung. Sebagai pria yang terbiasa menjadi pusat perhatian, dikagumi, dan dipatuhi tanpa protes, sikap dingin istrinya terasa seperti sebuah ancaman laten terhadap hal yang paling ia agungkan: egonya sendiri.

Suatu malam, mereka menghadiri jamuan makan di kediaman seorang pejabat tinggi Belanda. Sepanjang acara, Elena hampir tidak bersuara. Ia hanya menjawab pertanyaan seperlunya dan lebih banyak membiarkan dirinya tenggelam dalam riuh percakapan orang lain.

Saat mereka berada di dalam kereta kuda dalam perjalanan pulang, Adrian akhirnya membuka suara dengan ketus. "Kau sengaja melakukan itu?"

Elena menoleh lambat. "Sengaja apa?"

"Mempermalukanku di hadapan kolega-kolegaku."

Elena mengernyit, merasa lelah yang luar biasa. "Aku bahkan hampir tidak bicara malam ini, Adrian."

"Itu masalahnya!" sergah Adrian tajam. "Tamu-tamu tadi bertanya kepadaku, kenapa istriku terlihat begitu murung dan tidak bersemangat."

Elena tertawa kecil—sebuah tawa hambar, bukan karena lucu, melainkan karena ia merasa ironis. "Jadi, sekarang aku bahkan harus mengatur ekspresi wajahku sendiri hanya demi kenyamanan sosialmu?"

Rahang Adrian mengeras, urat di lehernya menegang. "Jangan mulai menantangku, Elena."

"Aku tidak memulai apa pun." Elena kembali memalingkan wajah, menatap ke luar jendela yang basah oleh sisa hujan.

"Kau berubah menjadi pembangkang sejak menemukan lembaran surat itu," desis Adrian dingin.

"Karena aku tidak buta," sahut Elena lirih namun menusuk.

Keheningan yang mencekam dan berbahaya seketika turun di antara mereka. Ketika roda kereta akhirnya berhenti di halaman rumah dinas, tidak ada lagi kata-kata yang diucapkan. Namun, kemarahan itu tidak menguap; ia hanya mengendap di tempat yang gelap, menunggu pemicu yang tepat untuk meledak.

Beberapa hari kemudian, Elena mencoba meminta izin untuk mengunjungi kedua orang tuanya di desa. Ia sudah berbulan-bulan tidak pulang, dan rasa rindu pada rumah masa kecilnya kini terasa bagai beban yang mendesak dadanya.

"Aku ingin menginap di desa selama dua atau tiga hari," ujar Elena saat Adrian sedang memeriksa laporan klinik di ruang kerja.

Adrian mengangkat kepalanya lambat. "Untuk apa?"

"Aku merindukan Ayah dan Ibu. Aku ingin bertemu mereka."

"Kemarin mereka baru saja datang berkunjung ke sini."

"Itu dua bulan yang lalu, Adrian."

Lihat selengkapnya