Sejak pertemuan di pasar itu, Elena tidak bisa lagi berpura-pura—tidak kepada dirinya sendiri, tidak kepada kesunyian yang setia menunggunya setiap malam, dan terutama tidak kepada luka yang semakin hari semakin sulit disembunyikan. Memar di pergelangan tangannya memang mulai memudar berganti warna kekuningan, namun bekasnya tetap tinggal dengan kokoh. Bukan pada permukaan kulit, melainkan jauh di dalam hati.
Adrian berubah drastis sejak pertengkaran mereka beberapa minggu lalu. Di depan publik, ia tetap sama: sosok dokter pemerintah yang sopan, suami yang tampak memperlakukan istrinya dengan penuh hormat, dan lelaki yang disegani oleh banyak orang. Namun, begitu pintu rumah dinas tertutup rapat dan menyisakan mereka berdua, topeng itu luruh. Sikapnya menjadi jauh lebih dingin, penuh perhitungan, dan mudah tersinggung.
Pria itu kerap memanipulasi keadaan, membuat Elena merasa bersalah atas hal-hal yang bahkan tidak dipahaminya. Setiap percakapan bertransformasi menjadi ujian mental, setiap perbedaan pendapat dicap sebagai kesalahan fatal, dan setiap kali Elena mencoba mengartikulasikan perasaannya, Adrian selalu berhasil membalikkan logika hingga istrinya tampak sebagai pihak yang tidak masuk akal.
Awalnya Elena mencoba melawan, kemudian mencoba menjelaskan, hingga akhirnya ia memilih diam. Namun, tidak ada satu pun sikapnya yang mampu mengubah keadaan.
Suatu pagi, Adrian mengumumkan bahwa ia harus menghadiri rapat dinas kesehatan penting di kota kabupaten. Perjalanan itu cukup jauh, biasanya memakan waktu hingga setengah hari menggunakan kereta kuda.
"Aku mungkin baru akan pulang larut malam nanti," ujar Adrian sembari merapikan manset jas wolnya di depan cermin.
Elena hanya mengangguk samar tanpa gairah.
Adrian berbalik, menatapnya tajam sebelum melangkah keluar. "Kau tidak perlu keluar rumah hari ini. Tetaplah di dalam."
Kalimat itu terdengar seperti perhatian biasa, namun Elena sudah terlalu sering mendengarnya sebagai sebuah perintah pembatasan. Dan entah mengapa, pada pagi yang basah itu, sesuatu di dalam dada Elena mulai merasa jenuh dan lelah untuk terus mematuhi sangkar emasnya. Sangat lelah.
Ketika derap kereta kuda Adrian akhirnya menghilang di ujung jalan, Elena berdiri mematung cukup lama di beranda. Angin pagi bertiup pelan, mengantarkan aroma tanah basah yang pekat setelah diguyur hujan semalam. Dan tiba-tiba, sebuah letupan pikiran muncul di benaknya—sederhana, berani, namun mustahil untuk diabaikan.
Bagaimana jika ia mengikuti Adrian?
Gagasan itu sempat mengejutkan dirinya sendiri. Elena bukanlah tipikal orang yang suka menaruh curiga atau gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Namun sejak menemukan lembaran surat berbita biru dari Clara, keraguan telah hidup dan beranak-pinak di dalam dirinya. Dan keraguan yang tidak pernah dikonfrontasi hanya akan tumbuh menjadi monster yang menggerogoti akal sehat.
Satu jam kemudian, Elena sudah duduk di dalam sebuah delman sewaan yang ia pesan secara diam-diam. Sebuah topi bertepi lebar menutupi sebagian wajahnya, dan selendang katun sederhana membungkus rapat bahunya. Ia sengaja memilih pakaian yang paling bersahaja—bukan karena ingin bersembunyi layaknya kriminal, melainkan karena ia tidak ingin memicu perhatian dari kenalan suaminya.