Malam turun bersama hujan. Rintiknya membentur jendela kaca rumah dinas tanpa henti, menciptakan irama monoton yang biasanya menenangkan. Namun malam itu, tidak ada satu pun sudut di dalam rumah yang menawarkan ketenangan.
Elena duduk mematung di ruang tamu. Sendirian. Lampu minyak di atas meja kayu memancarkan cahaya kekuningan yang redup dan bergoyang pelan. Di depannya, terletak secangkir teh yang sudah mendingin sejak satu jam lalu—dibiarkan begitu saja tanpa disentuh. Ia hanya menunggu, dan untuk pertama kalinya sejak menikah, ia tidak menunggu dengan rasa cemas yang menggerogoti. Ia menunggu dengan sebuah kepastian yang mutlak.
Kereta kuda Adrian akhirnya tiba menjelang pukul sembilan malam. Suara derak roda dan hentakan kaki kuda yang memasuki halaman terdengar jelas di sela deru hujan. Pintu depan terbuka, mengalirkan hawa malam yang lembap saat langkah kaki Adrian memasuki rumah.
Lelaki itu tampak lelah, namun penampilannya tetap rapi dan terkontrol seperti biasa. Ketika mendapati Elena masih duduk diam di ruang tamu yang temaram, ia sedikit mengangkat sebelah alisnya.
"Kau belum tidur?"
"Tidak."
Adrian melepaskan jas wolnya dengan gerakan metodis. "Ada sesuatu?"
Elena menatapnya. Lama. Sangat lama. Sorot mata yang lurus dan dingin itu entah mengapa membuat Adrian mendadak merasa tidak nyaman.
"Aku melihatmu hari ini."
Gerakan tangan Adrian yang sedang melonggarkan ikatan dasinya terhenti seketika. Hanya sekejap mata, namun riak itu sudah lebih dari cukup bagi Elena.
"Apa maksudmu?"
"Aku pergi ke kota kabupaten hari ini."
Keheningan pekat seketika turun menyergap ruangan, terasa begitu tegang dan mencekam. Hujan di luar terdengar kian bising, seolah sedang menegaskan sunyi yang merayap di antara mereka.
"Aku melihatmu keluar dari jalan samping di belakang kantor administrasi," lanjut Elena, intonasi suaranya datar tanpa riak emosi. "Aku juga melihat perempuan itu."
Tidak ada lagi yang perlu didebatkan. Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi atau sangkalan. Mereka berdua tahu kebenaran telah tersingkap, dan mereka berdua tahu tidak ada kebohongan baru yang cukup kokoh untuk menghapus apa yang sudah disaksikan oleh mata kepala Elena sendiri.
Untuk beberapa detik, Adrian hanya berdiri mematung. Namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia berjalan tenang menuju meja sudut, menuangkan air putih ke dalam gelas porselen, lalu meminumnya perlahan—seolah percakapan ini hanyalah interupsi kecil yang tidak penting. Seolah pengkhianatan yang baru saja terbeberkan hanyalah kesalahpahaman remeh.
Elena merasakan sesuatu mendidih di dalam dadanya. Bukan lagi luapan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan rasa terhina yang amat sangat. Karena bahkan dalam situasi seperti ini pun, Adrian masih berkeras untuk memegang kendali dan meremehkan akal sehatnya.
"Aku sedang menunggu penjelasan, Adrian."
Akhirnya Adrian membalikkan badan. Namun, bukan untaian kata maaf atau penjelasan yang keluar dari bilik suaranya, melainkan sebuah pertanyaan balik.
"Kenapa kau mengikutiku?"
Elena hampir tertawa hambar. Sangat hambar. "Jadi, menurutmu bagian itu yang paling penting sekarang?"
"Kau telah melanggar kepercayaanku dengan memata-mataiku," sergah Adrian tanpa kedipan.
Kalimat itu membuat Elena benar-benar melepaskan tawa pendek yang pahit—sebuah suara yang terdengar begitu asing, bahkan di telinganya sendiri. "Kepercayaan?" Ia bangkit berdiri perlahan, menopang tubuhnya di tepi meja. "Berani sekali kau bicara tentang kepercayaan di rumah ini."
Rahang Adrian mengetat keras. Dan untuk pertama kalinya malam itu, topeng kesabaran aristokratnya mulai retak secara visual.
"Siapa perempuan itu?" Elena menuntut, suaranya naik satu oktav, menuntut ketegasan.
Adrian menatapnya dengan sepasang mata yang sedingin es, lalu menyahut singkat, "Seorang teman."
"Kau memegang lengannya dengan begitu intim."
"Dan?"