Badai datang tiga hari setelah pertengkaran besar itu. Sejak pagi, langit sudah menunjukkan tanda-tandanya. Awan hitam bergumpal dan menggantung rendah di atas pegunungan, menghalau semburat matahari. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, menciptakan siulan tajam di puncak-puncak bukit. Burung-burung hutan terbang rendah dengan kepakan tergesa-gesa, seolah sedang mencari perlindungan di balik rimbunnya semak. Para petani yang berpengalaman pun mulai mempercepat pekerjaan mereka di sawah, memotong jerami sebelum cuaca berubah menjadi lebih buruk.
Gani berdiri di tepi hutan pinus sambil memandangi langit yang kian menggelap. Raut wajahnya tampak sangat serius.
"Ini bukan hujan biasa," gumamnya, merapatkan ikatan topi lapangannya.
Di sampingnya, Pak Jaya mengangguk sembari memandangi pucuk-pucuk pohon. "Saya juga merasakannya, Mandor. Udara terasa terlalu berat."
Angin kembali bertiup, kali ini dengan entakan yang lebih keras. Ranting-ranting pinus berderak saling berbenturan, menumpahkan jarum-jarum cokelat yang kering ke atas tanah. Jauh di puncak gunung, terdengar suara gemuruh rendah yang konstan—sebuah suara alam yang sedang mengumpulkan tenaga, bukan dari petir, melainkan dari embusan angin yang terperangkap di lembah.
Menjelang sore, badai benar-benar tiba menghantam bumi Priangan. Hujan turun begitu masif, seolah-olah seluruh air dicurahkan sekaligus dari langit. Angin menerjang lereng-lereng gunung dengan kekuatan destruktif yang membuat pohon-pohon pinus tua bergoyang hebat meliuk-liuk.
Atap-atap rumah bambu milik warga mulai berderit ngeri. Pintu-pintu kayu dipukul angin dari luar dengan hantaman yang konstan. Di tengah kepungan hujan, beberapa warga bergegas keluar untuk memperkuat ikatan genteng dan penahan bambu. Anak-anak kecil dikumpulkan ke sudut rumah yang paling aman, sementara hewan ternak segera dipindahkan ke kandang yang lebih terlindung.
Di tengah kekacauan itu, Gani bergerak lincah dari satu rumah ke rumah lain. Tubuhnya menerobos pekatnya air, membantu siapa pun yang membutuhkan pasak tambahan atau tenaga untuk memindahkan barang—seperti yang selalu dilakukannya setiap kali desa dilanda kemalangan.
Ketika langkahnya sampai di dusun bagian utara, seorang warga berlari menghampirinya dengan wajah panik dan napas memburu.
"Mandor! Mandor Gani!"
"Ada apa, Kang?"
"Pohon cemara besar di dekat rumah Pak Surya hampir tumbang! Tanahnya mulai tergerus air!"
Gani tidak membuang waktu. Ia langsung berlari cepat menuju lokasi yang dimaksud. Di sana, beberapa lelaki desa sudah berkumpul di bawah guyuran hujan dengan wajah cemas. Sebuah pohon cemara tua bertubuh raksasa memang terlihat miring, akarnya yang besar mulai mencuat ke permukaan akibat tanah lereng yang mulai longsor. Jika dibiarkan satu jam lagi terpaan angin, pohon itu dipastikan akan tumbang dan menghancurkan rumah panggung milik Pak Surya tepat di bawahnya.
"Kita harus potong cabang utamanya sekarang juga agar bebannya berkurang!" perintah Gani lantang, mengatasi deru angin.
Seorang warga tampak ragu, wajahnya pias. "Tapi Mandor... aturan Belanda bagaimana?"
Semua orang di sana seketika terdiam, memahami maksud ketakutan pria itu. Peraturan kehutanan kolonial yang ketat melarang keras penebangan, pemangkasan, atau perusakan pohon tertentu di kawasan sabuk gunung tanpa adanya izin tertulis dari pengawas Belanda. Pelanggaran terhadap hukum tersebut bisa dikenai denda finansial yang amat berat, atau yang paling buruk: hukuman penjara.
Gani menatap pohon yang kian miring itu, lalu mengalihkan pandangannya pada rumah panggung di bawahnya. Melalui celah jendela yang terbuka sedikit, ia bisa melihat seorang ibu tua dan dua anak kecil yang sedang berpelukan ketakutan.
Keputusan Gani hanya membutuhkan satu detik. "Ambil kapak dan talinya."
"Tapi Mandor—"
"Kalau ada yang harus diseret ke kantor administrasi dan bertanggung jawab atas pemotongan ini, biar aku yang maju. Ambil kapaknya sekarang!"