Badai telah berlalu. Namun seperti banyak hal dalam hidup, kerusakan terbesar sering kali baru terlihat jelas setelah langit kembali cerah.
Beberapa hari setelah malam ketika Gani memperbaiki atap rumah dinas, udara di kota kecamatan terasa luar biasa dingin dan lembap. Kabut tebal turun lebih awal setiap sore, menyelimuti jalan-jalan kecil dan jajaran kebun di pinggir kota dengan warna putih yang pekat dan sendu.
Elena menjalani hari-harinya dalam kebenaran yang sunyi. Ia dan Adrian hampir tidak lagi saling berbicara, kecuali untuk hal-hal yang benar-benar mendesak. Rumah dinas yang besar dan megah itu kini tak ubahnya sebuah bangunan mati yang kebetulan dihuni oleh dua orang asing. Mereka tidur di kamar yang berbeda, makan di meja yang sama tanpa secuil pun percakapan, dan melewati detak demi detak waktu dengan jarak yang membentang semakin lebar.
Namun, Elena tahu betul bahwa keadaan abnormal seperti ini tidak mungkin bertahan lama. Orang seperti Adrian tidak akan pernah membiarkan apa pun dalam hidupnya berada di luar kendali. Cepat atau lambat, ketegangan ini pasti akan meledak.
Ledakan itu akhirnya datang pada sebuah malam berkabut di penghujung musim hujan.
Hari itu Adrian pergi ke kota kabupaten sejak pagi buta. Menurut penuturan pelayan rumah, suaminya menghadiri jamuan makan malam formal yang diadakan oleh beberapa pejabat kolonial. Elena tidak bertanya lebih jauh; ia bahkan tidak lagi peduli.
Menjelang pukul sepuluh malam, kabut di luar turun begitu tebal hingga lentera minyak di tepi jalan nyaris tidak terlihat dari balik kaca jendela. Keheningan malam mendadak pecah ketika suara derak roda kereta kuda terdengar memasuki halaman rumah, disusul oleh dentum pintu depan yang dibanting dengan kekuatan luar biasa.
Elena yang sedang membaca buku di ruang tengah langsung menegakkan kepalanya. Ada sesuatu yang berbeda dari atmosfer malam itu—sebuah riak ganjil yang membuat tengkuknya meremang. Langkah kaki Adrian yang melintasi koridor terdengar sangat berat dan tidak teratur. Tepat ketika pintu ruang tamu terbuka, Elena langsung mengetahui penyebabnya.
Adrian mabuk berat.
Selama satu tahun pernikahan mereka, Elena hampir tidak pernah melihat Adrian kehilangan kendali diri sehebat ini. Sang dokter muda biasanya adalah sosok yang mati-matian memuja citra kesempurnaan di depan publik. Namun malam ini, wajah pria itu memerah padam, gerak tubuhnya goyah, dan aroma pekat alkohol langsung menguap memenuhi ruangan.
Adrian melemparkan topi lakennya ke atas sofa secara serampangan. Dengan jemari yang gemetar, ia menuangkan kembali cairan dari botol minuman yang dibawanya ke dalam gelas porselen.
Elena menutup bukunya perlahan, menatap suaminya datar. "Kau mabuk."
Adrian tertawa pendek, suara tawa yang sarat akan sarkasme. "Dan? Apa urusanmu?"
"Kau seharusnya langsung masuk kamar dan istirahat."
"Aku tidak butuh nasihat moral dari mulutmu, Elena!" sergah Adrian tajam. Vokalnya terdengar jauh lebih kasar dan dingin, seolah seluruh kekesalan yang selama ini ia bendung kini siap dimuntahkan.
Keheningan yang mencekam sempat merayap selama beberapa menit. Adrian meneguk minumannya, lalu tiba-tiba melontarkan kalimat tanpa peringatan apa pun.
"Kau bertemu dengan si bajingan Gani itu saat badai kemarin, bukan?"
Elena membeku seketika di tempat duduknya. Jantungnya memukul dada satu kali dengan hentakan yang luar biasa keras. "Apa maksudmu?"
"Aku mendengar dari laporan warga. Si mandor desa itu datang ke rumah ini tengah malam," suara Adrian merendah, sarat akan intensitas ancaman yang berbahaya.
"Dia datang bersama warga lain untuk membantu memperbaiki struktur atap yang hampir lepas," jawab Elena lambat, mencoba menstabilkan suaranya. "Hanya itu."