Kabut malam turun seperti selimut raksasa yang menutupi lereng gunung. Jalan setapak yang biasanya dikenali Elena dengan mudah kini nyaris menghilang di balik putih pekat yang menggantung rapat di antara pepohonan.
Namun, sepasang kakinya terus melangkah maju. Satu demi satu, menembus rintangan serasah basah. Meski tubuhnya didera lelah yang teramat sangat, meski udara dingin mulai menusuk dan menembus kain kebaya tipisnya, dan meski pikirannya dipenuhi oleh kabut ketidakpastian yang tebal. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bergerak menuju tempat yang ia pilih atas kemauan dirinya sendiri—bukan tempat yang didikte oleh ambisi ayahnya, bukan pula sangkar emas yang dibangun oleh Adrian. Tempat ini dipilih oleh kemurnian hatinya.
Malam semakin larut ketika Elena akhirnya mencapai kawasan hutan pinus yang lebih dalam. Angin gunung berdesir lembut di antara batang-batang tinggi menjulang yang tampak seperti pilar-pilar gelap penopang langit. Suara desiran itu begitu ia kenali, begitu akrab di telinganya. Seolah-olah, hutan itu sendiri sedang membisikkan senandung selamat datang atas kepulangannya.
Namun, pertahanan fisiknya mulai runtuh. Tubuhnya bergetar hebat, bukan lagi sekadar karena gigilan udara dingin, melainkan karena kelelahan emosional yang menguras energinya. Ia telah berjalan terlalu jauh sendirian. Dan dalam sunyi itu, gumpalan rasa takut mulai menyelinap di benaknya.
Bagaimana jika Gani tidak ada di sana? Bagaimana jika pria itu sedang berada di desa? Bagaimana jika pondok kerja itu kosong?
Elena menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, mencoba mengusir pikiran buruk itu sembari mempercepat ritme langkah kakinya. Di kejauhan, dari balik tirai kabut pekat, seberkas cahaya akhirnya tertangkap oleh matanya. Kecil dan samar, namun memancarkan kehangatan yang nyata.
Lentera minyak. Jantung Elena langsung berdebar kencang.
Pondok itu. Pondok kerja milik Gani.
Elena hampir melarikan kakinya, namun tenaganya terlalu rapuh untuk itu. Beberapa menit kemudian, ia akhirnya berdiri tepat di depan pintu kayu sederhana yang teramat ia kenali struktur seratnya. Namun pada detik itu juga, seluruh keberanian yang menuntun langkahnya mendadak menguap tanpa sisa.
Bagaimana jika Gani menolaknya? Bagaimana jika kehadirannya di malam buta ini justru akan menyeret Gani ke dalam pusaran masalah baru? Bagaimana jika—
Kriitt.
Belum sempat pikirannya selesai merajai ketakutan, pintu kayu itu tiba-tiba terbuka dari dalam.
Gani berdiri tegak di ambang pintu, tangan kanannya memegang lentera minyak yang bergoyang. Ia mengenakan kemeja kerja bersahaja dengan bagian lengan yang digulung hingga ke siku. Sepasang matanya melebar, merekam sosok perempuan di hadapannya dengan keterkejutan yang luar biasa.
Untuk beberapa detik yang panjang, mereka hanya saling mengunci pandangan dalam keheningan yang membeku. Seolah-olah, visual di depan mata masing-masing adalah sebuah ilusi fana yang tidak boleh dipercayai.
"Elena...?" vokal Gani meluncur hampir serupa bisikan lirih yang sarat akan ketidakpercayaan.
Elena mencoba membuka mulutnya untuk membalas sapaan itu, namun bibirnya bergetar terlalu hebat untuk bisa memproduksi kata yang jelas. Seluruh tubuhnya bergoyang limbung.
Baru pada detik itulah, kesadaran Gani pulih sepenuhnya melihat kondisi objektif perempuan di depannya: wajah yang putih pucat seputih kabut, pakaian yang basah lembap oleh tampias embun malam, jemari tangan yang kaku kedinginan, serta sepasang mata yang menyiratkan luka mendalam dari seorang manusia yang telah berjalan sangat jauh melewati badai kehidupan.
Tanpa membuang waktu untuk melontarkan pertanyaan birokrasi, Gani segera menggeser tubuhnya dan membuka daun pintu lebar-lebar. "Masuklah."
Hangat. Itulah sensasi pertama yang merayap di kulit Elena begitu ia melangkahkan kakinya melewati ambang pintu pondok. Sebuah perapian kecil di sudut ruangan masih menyala dengan bara yang memerah, menari-nari memancarkan suhu panas. Aroma khas kayu pinus dan getah kering memenuhi udara dalam pondok, menghadirkan efek menenangkan.
Sebuah meja kayu sederhana berdiri kokoh di dekat jendela besar, ditemani oleh jajaran rak yang dipenuhi buku-buku serta catatan administrasi kehutanan di dinding seberang. Tempat itu tidak besar, jauh dari kata mewah jika dibandingkan dengan rumah dinas putih yang ia tinggalkan. Namun entah mengapa, pondok sunyi ini terasa ribuan kali lebih aman daripada bangunan mana pun yang pernah dihuni Elena selama setahun terakhir.