Fajar datang perlahan ke lereng gunung. Kabut masih menggantung rendah di antara batang-batang pinus ketika cahaya pertama matahari menyentuh puncak-puncak pohon. Udara pagi terasa dingin dan segar, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam.
Di dalam pondok, Elena terbangun dengan perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan: tenang. Bukan karena masalahnya telah selesai—jauh dari itu—namun untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia berhasil tidur tanpa ketakutan. Tanpa cemas menunggu suara langkah kaki Adrian. Tanpa waswas memikirkan pertengkaran berikutnya. Hanya tidur. Sederhana, damai, dan itu terasa seperti kemewahan yang hampir terlupakan.
Ketika Elena membuka mata, ia melihat selimut tebal masih menutupi tubuhnya. Perapian tinggal menyisakan bara merah yang meredup. Sementara di dekat pintu, Gani tertidur dalam posisi duduk di kursi kayu. Kepalanya sedikit menunduk dengan kedua tangan terlipat di dada, seolah sepanjang malam ia tidak benar-benar mengizinkan dirinya sendiri beristirahat.
Hati Elena terasa sesak, bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang sulit dijelaskan. Lelaki itu tetap sama. Masih sama. Dunia boleh berubah, orang-orang boleh berubah, namun Gani tetap menjadi seseorang yang lebih memilih tidak nyaman demi memastikan orang lain aman.
Elena bangkit perlahan agar tidak membangunkannya. Namun, sebelum ia sempat berdiri sepenuhnya, suara Gani memecah sunyi pagi.
"Kau sudah bangun?"
Elena tersenyum kecil. "Ternyata kau tidak tidur nyenyak."
Gani mengusap wajahnya, mencoba mengusir kantuk. "Kebiasaan."
"Kebiasaan menjaga orang lain?"
Gani tidak menjawab, dan itu sudah cukup menjadi jawaban. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Elena tertawa kecil—sebuah tawa tulus yang membuat sepasang mata Gani melembut sesaat.
Mereka menikmati sarapan yang bersahaja: singkong rebus, kopi hitam, dan pisang hasil kebun warga. Tidak mewah, namun jauh lebih nikmat daripada banyak jamuan resmi yang pernah dihadiri Elena. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil; tentang kondisi hutan, kabar desa, dan pergantian musim. Tidak ada pembicaraan tentang Adrian. Tidak ada pembicaraan tentang masa depan. Seolah keduanya memahami bahwa pagi itu terlalu berharga untuk dirusak oleh rasa takut.
Namun, ketenangan tidak pernah bertahan lama—tidak dalam linimasa kehidupan mereka.
Suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan. Awalnya samar, kemudian terdengar semakin jelas dan menghentak bumi. Gani langsung mengangkat kepala, insting mandornya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa detik kemudian, terdengar suara roda kereta berhenti tepat di depan pondok.
Elena membeku. Jantungnya mendadak berdegup keras karena ia tahu dengan pasti siapa yang datang menjemputnya.
Pintu pondok dibuka paksa dari luar, dan dunia yang tenang itu langsung pecah berkeping-keping.
Dokter Adrian berdiri di ambang pintu. Ia masih mengenakan pakaian resmi semalam, namun penampilannya kusut. Matanya merah akibat kurang tidur dan luapan amarah yang tertahan. Di belakangnya, berdiri Pak Baskoro dengan wajah pucat dan tegang. Bersama mereka, ada dua orang centeng suruhan yang biasa bekerja di kantor administrasi kecamatan.
Udara pagi di dalam pondok langsung terasa sedingin es.
"Elena," suara Adrian terdengar dingin seperti bilah baja.
Elena berdiri perlahan. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, Adrian sudah melangkah maju mengintimidasi. "Kau membuat seluruh kota membicarakan kita. Sekarang, pulang."
Sebuah perintah mutlak, bukan permintaan. Elena merasakan amarah mulai membakar dadanya. Namun sebelum ia sempat menjawab, Adrian kembali menembakkan kalimatnya dengan intonasi yang lebih keras.