Tidak ada suara selama beberapa detik setelah kalimat Gani itu selesai diucapkan. Hanya desir angin yang bergerak bebas di antara batang-batang pinus, hanya bunyi sisa embun yang jatuh perlahan dari ujung daun, dan hanya keheningan pekat yang terasa jauh lebih berat daripada rentetan teriakan.
Pak Baskoro berdiri diam di atas tanah lereng yang becek. Matanya bergantian memandang Elena, Adrian, lalu beralih pada Gani. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, ia merasa dirinya sedang dipaksa melihat ke dalam sebuah cermin gaib. Dan apa yang teperdaya di sana sama sekali tidak membuatnya bangga.
Selama bertahun-tahun, ia selalu menganggap dirinya sebagai sosok ayah yang baik. Ia bekerja keras tanpa kenal lelah, menyekolahkan Elena setinggi mungkin hingga ke Batavia, memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya, serta membukakan pintu-pintu peluang yang dulu tidak pernah dimiliki oleh silsilah keluarganya sendiri.
Namun kini, di bawah langit pagi Priangan yang sedingin es, ia mulai mempertanyakan esensi dari seluruh ambisinya: Untuk apa semua pencapaian itu? Jika pada akhirnya, ia justru menyerahkan putri tunggalnya ke tangan orang yang salah.
Ingatan demi ingatan mendadak bermunculan dan menghujani kepalanya. Memori tentang malam ketika Elena pertama kali pulang dari Batavia; tatapan ragu dan getir di sepasang mata putrinya ketika mereka membicarakan Gani; senyum Elena yang kian pudar pascapernikahan; lembaran surat yang ditulis semakin pendek; hingga intensitas kunjungan ke desa yang kian jarang.
Semua tanda itu sebenarnya ada. Semua indikator kehancuran itu sudah terlihat dengan sangat benderang. Namun, ia telah memilih untuk membutakan mata dan menulikan telinga—karena ia terlalu sibuk memandang fatamorgana masa depan yang menurut logika dunianya jauh lebih terhormat. Dan kini, harga dari kebutaan egonya berdiri tepat di hadapannya, bermanifestasi dalam wujud seorang putri yang hancur dan terluka.
"Nduk..." suara Pak Baskoro meluncur pelan, bergetar di ujung tenggorokan.
Elena mengangkat wajahnya lambat. Air mata masih membasahi pipinya yang pucat. "Ayah..."
Pria tua itu melangkah mendekat secara perlahan, seolah takut putrinya akan menguap menghilang bagai kabut jika ia bergerak terlalu agresif. Kemudian, ia mengangkat tangannya yang mulai berkerut, menyentuh dan mengusap kepala Elena dengan kelembutan yang sama seperti ketika Elena masih kanak-kanak.
Dan pada detik itulah, bendungan emosi yang selama setahun ini ditahan oleh Elena akhirnya pecah total tanpa sisa. Elena menangis tergugu. Itu bukanlah tangisan yang histeris atau raungan yang keras, melainkan sebuah tangisan katarsis dari seorang anak perempuan yang akhirnya memutuskan untuk berhenti berpura-pura kuat di hadapan ayahnya.
Pak Baskoro menarik tubuh putrinya ke dalam dekapan, memeluknya dengan erat—sangat erat—seolah ingin menyatukan kembali kepingan jiwa Elena yang retak. Dan ketika telapak tangannya merasakan tekstur tubuh Elena yang kini jauh lebih kurus dan ringkih dari yang diingatnya, dada Pak Baskoro seketika terasa seperti dihujam oleh belati panas.
"Maafkan Ayah, Nduk..." kalimat itu lolos begitu saja dari bilik suaranya, sarat akan penyesalan yang mendalam.
"Ayah..."
"Maafkan Ayah," vokal Pak Baskoro mulai parau dan bergetar hebat, air mata kini memenuhi pelupuk mata pria tua itu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. "Ayah terlalu sibuk mengatur masa depanmu sampai-sampai Ayah lalai untuk melihat keadaanmu yang hancur hari ini."
Di samping mereka, Adrian yang menyaksikan adegan domestik itu tampak semakin kehilangan kesabaran. Baginya, drama emosional ini adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap efisiensi waktunya.
"Pak Baskoro," panggil Adrian dingin.
Tidak ada jawaban dari pria tua itu.
"Pak Baskoro!" Kali ini intonasi Adrian naik satu oktav, menuntut atensi.
Pria tua itu akhirnya memalingkan wajahnya lambat-lambat. Sorot matanya kini telah berubah total—sangat berbeda. Itu bukan lagi tatapan seorang mertua yang penuh kekaguman, bukan pula tatapan seorang priyayi desa yang berharap mendapat cipratan keuntungan dari sebuah relasi kuasa. Itu adalah tatapan murni dari seorang ayah. Dan di dunia ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ayah yang baru saja menyadari bahwa darah dagingnya telah disakiti.
"Ini adalah urusan domestik rumah tangga kami," Adrian mencoba menggunakan otoritas statusnya sekali lagi. "Elena adalah istri sah saya secara hukum."