Tiga hari setelah Adrian meninggalkan hutan pinus, seluruh kota kecamatan mulai dipenuhi bisik-bisik. Di pasar, di kantor pos, di serambi masjid, hingga di warung-warung kopi, orang-orang membicarakan hal yang sama. Tentang Elena. Tentang dokter pemerintah. Tentang pondok di tengah hutan. Tentang sebuah pernikahan yang retak berantakan.
Kabar burung berkembang secepat api yang menemukan rumput kering. Setiap orang menambahkan versinya sendiri, setiap orang merasa paling mengetahui kebenaran. Padahal, hampir tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sesungguhnya terjadi di balik pintu tertutup itu.
Elena kembali tinggal di rumah ayahnya. Kamar lamanya dibersihkan, seprai lama diganti, dan jendela-jendela besar dibuka lebar agar udara gunung yang murni masuk kembali. Namun meskipun telah pulang ke pelukan orang tuanya, hati Elena belum benar-benar tenang. Ia tahu betul, kepulangan ini bukanlah sebuah akhir; pulang hanyalah jeda fana sebelum pertempuran berikutnya yang jauh lebih melelahkan dimulai.
Malam itu, Pak Baskoro mengetuk pintu kamarnya perlahan. "Boleh Ayah masuk, Nduk?"
Elena tersenyum kecil. "Tentu, Yah."
Ayahnya melangkah masuk sambil membawa dua cangkir teh panas yang mengepulkan aroma melati—sebuah kebiasaan lama yang hampir terlupakan selama setahun ini. Mereka duduk berhadapan dalam sunyi beberapa saat, mendengarkan simfoni suara jangkrik dari luar jendela.
Kemudian, Pak Baskoro membuka suara, memecah keheningan. "Apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun Elena memahami bobot berat yang tersimpan di dalamnya. Itu bukan pertanyaan tentang agenda esok pagi, melainkan tentang masa depannya yang dipertaruhkan.
Untuk beberapa saat, Elena memandangi riak teh di genggamannya. Kemudian, ia menjawab dengan vokal yang pelan namun sarat akan ketegasan mutlak. "Aku ingin bercerai."
Keheningan seketika turun menyergap ruangan. Bukan karena terkejut—Pak Baskoro sudah menduga resolusi ini akan lahir dari mulut putrinya—tetapi mendengar kata tabu itu diucapkan secara verbal tetap terasa begitu berat bagi hatinya. Pada masa itu, perceraian bukanlah sesuatu yang lumrah terjadi, apalagi bagi seorang perempuan pribumi, dan apalagi jika harus berhadapan dengan suami yang mengemban jabatan tinggi di institusi kolonial.
Pak Baskoro menghela napas panjang, menatap putrinya lekat-lekat. "Kalau itu yang kau yakini sebagai jalan yang benar... Ayah akan mendukungmu sepenuhnya."
Sepasang mata Elena langsung berkaca-kaca menahan haru. "Ayah tidak marah kepadaku?"
Pria tua itu tersenyum pahit, gurat penyesalan menghiasi wajahnya. "Ayah sudah terlalu banyak marah pada kebutaan diri Ayah sendiri, Nduk. Ayah tidak akan pernah lagi menambah beban di pundakmu."
Malam itu, Elena kembali meneteskan air mata. Namun, tangisannya kali ini sangat berbeda dengan keputusasaan di rumah dinas dulu. Ini adalah tangisan legalitas dari seorang manusia yang akhirnya menyadari bahwa ia tidak perlu lagi berjuang sendirian melawan dunia.
Seminggu kemudian, mereka berangkat menuju kota kabupaten. Perjalanan dilakukan jauh sebelum matahari terbit. Kabut tebal masih menyelimuti jalanan tanah ketika delman bergerak meninggalkan batas desa. Pak Baskoro duduk tegap di samping Elena. Di belakang mereka, terdapat satu tas kulit berisi dokumen-dokumen penting: surat nikah, catatan rumah tangga, dan beberapa lembar surat bertinta emosi yang ditemukan Elena di tas dokter Adrian. Bukti yang sedikit, namun cukup untuk membuka pintu gerbang perjuangan hukum yang panjang.
Kantor administrasi kolonial berdiri angkuh di pusat kota kabupaten. Bangunannya besar dengan pilar-pilar tinggi bergaya Eropa, dan bendera Belanda berkibar kaku di halaman depan. Beberapa pegawai pribumi tampak keluar masuk membawa tumpukan berkas. Untuk pertama kalinya, Elena merasakan bagaimana sebuah arsitektur bangunan bisa dirancang sedemikian rupa untuk membuat mental seorang manusia merasa kecil dan terintimidasi.
Mereka diterima di sebuah ruang sidang oleh seorang pejabat administrasi kolonial—seorang pria Belanda berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dan nada bicaranya sedingin es. Pria itu membaca lembaran berkas yang dibawa Elena dengan ketukan jemari yang konstan, sebelum akhirnya mengangkat kepalanya lambat-lambat.
"Anda, seorang perempuan pribumi, ingin mengajukan gugatan cerai resmi terhadap seorang dokter pemerintah?" tanya pejabat itu, menatap Elena seolah baru saja mendengar sebuah lelucon yang ganjil.
Elena mengangguk tegap. "Benar, Tuan."
"Atas dasar apa?"