SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #21

Enam Bulan Pemulihan

Musim hujan berlalu, digantikan oleh langit yang perlahan-lahan kembali cerah. Kabut pagi masih datang sesekali, tetapi tidak lagi membawa kesuraman yang sama seperti beberapa bulan sebelumnya. Di kaki gunung, kehidupan berjalan seperti biasa. Sawah-sawah mulai menghijau, burung-burung kembali ramai di hutan pinus, dan angin yang berembus di antara pepohonan terdengar lebih lembut—seolah alam sendiri sedang memberi kesempatan untuk memulai kembali.

Enam bulan telah berlalu sejak Elena meninggalkan rumah dinas Adrian. Enam bulan sejak gugatan itu diajukan; enam bulan perjuangan hukum yang tidak mudah. Namun pada akhirnya, keputusan hukum kolonial keluar. Perceraian dikabulkan. Dengan berbagai syarat administratif yang rumit dan proses yang panjang, status pernikahan itu akhirnya resmi diputus.

Ketika kabar itu tiba di desa, tidak ada perayaan besar, pesta, ataupun sorak-sorai. Semua orang memahami bahwa kemenangan seperti ini tidak datang tanpa menyisakan luka.

Pagi itu, Elena berdiri di beranda rumah ayahnya, memandangi kabut yang perlahan terangkat dari lereng gunung. Di tangannya terdapat salinan dokumen resmi yang baru diterimanya beberapa hari lalu. Sepotong kertas, namun beratnya terasa seperti memikul bertahun-tahun kehidupan.

Dulu ia mengira kebebasan akan terasa seperti kegembiraan yang meluap-luap. Ternyata tidak. Kebebasan rasanya justru seperti napas panjang setelah terlalu lama tenggelam—sunyi, lelah, tetapi melegakan.

Suara langkah kaki terdengar dari halaman. Gani datang membawa beberapa gulungan kertas dan buku catatan, seperti yang dilakukannya hampir setiap pagi dalam beberapa bulan terakhir.

"Selamat pagi," sapa Gani.

Elena tersenyum hangat. "Selamat pagi."

Kini tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Tidak ada lagi jarak yang dibuat-buat atau usaha untuk menyembunyikan perasaan di balik formalitas. Namun anehnya, hubungan mereka justru berjalan lebih lambat daripada sebelumnya—lebih hati-hati dan lebih dewasa. Seolah keduanya memahami bahwa beberapa hal yang terlanjur patah membutuhkan waktu yang cukup sebelum bisa tumbuh kembali.

Mereka berjalan bersama menuju kantor kecil pengelolaan hutan yang berada di pinggir desa. Bangunannya sederhana, berdinding kayu dengan atap seng, dan dipenuhi meja-meja yang menampung tumpukan dokumen. Di sinilah Elena menghabiskan sebagian besar waktunya sekarang, membantu Gani mengurus administrasi hutan pinus. Awalnya ia hanya berniat untuk mengisi hari, namun lama-kelamaan ia menemukan sesuatu yang tidak pernah diduganya: sebuah tujuan.

"Ini laporan batas wilayah yang baru," ujar Gani sembari menyerahkan beberapa berkas.

Elena membacanya dengan teliti, dan alisnya langsung berkerut rapat. "Van Houten mengirim surat lagi?"

Gani mengangguk pasrah. "Sudah ketiga kalinya bulan ini."

Lihat selengkapnya