SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #22

Secangkir Kopi dan Semanis Restu

Pagi datang dengan langit yang bersih. Setelah beberapa hari didera hujan, matahari akhirnya muncul tanpa terhalang awan. Cahaya keemasannya menyentuh lereng-lereng pinus dan membuat embun yang menempel di daun-daun berkilauan seperti kaca.

Di ujung desa, Gani sudah berada di ladang pembibitan sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Seperti biasa, ia memeriksa bibit-bibit pinus muda yang baru dipindahkan minggu lalu. Ia menyingkirkan gulma, mengecek kelembapan tanah, dan mencatat beberapa hal di buku kecil yang selalu dibawanya. Pekerjaan itu berulang, namun justru karena itulah segalanya terasa menenangkan.

Suara langkah kaki di atas tanah membuatnya mengangkat kepala. Ia mengira salah satu pekerja datang lebih awal, namun yang dilihatnya justru membuatnya langsung berdiri tegak.

Pak Baskoro.

Pria tua itu berjalan pelan menyusuri jalur pembibitan. Di tangannya terdapat sebuah termos kecil dan dua cangkir enamel—sebuah pemandangan yang begitu tidak biasa hingga Gani sempat mengira dirinya salah lihat.

"Pak?"

Pak Baskoro tersenyum tipis. "Pagi, Gani."

"Pagi, Pak." Gani segera membersihkan tangannya pada kain lap yang tergantung di pinggang. "Ada yang bisa saya bantu?"

Pak Baskoro mengangkat termosnya sedikit. "Hari ini saya yang datang untuk membantu."

Beberapa menit kemudian, mereka duduk bersama di bawah pohon pinus muda yang mulai tumbuh tinggi. Udara pagi masih sejuk, dan burung-burung kecil terdengar bernyanyi di kejauhan. Pak Baskoro menuangkan kopi hangat ke dalam dua cangkir enamel, membuat aroma kopi hitam langsung menyebar di udara.

Gani menerima cangkirnya dengan sedikit bingung. Selama bertahun-tahun, hubungan mereka selalu sopan namun kaku. Mereka tidak pernah sedekat ini—tidak pernah seperti dua orang yang duduk bersama tanpa sekat jarak sosial di antara mereka.

Untuk beberapa saat tidak ada yang membuka suara. Mereka hanya menikmati kopi, mendengarkan suara alam, dan membiarkan keheningan bekerja. Akhirnya, Pak Baskoro menghela napas panjang.

"Aku sudah memikirkan percakapan ini selama berbulan-bulan," ujar Pak Baskoro. Gani menatapnya tanpa menyela. Pria tua itu tersenyum pahit. "Dan ternyata tetap saja sulit."

Angin pagi berembus pelan, membawa aroma tanah dan getah pinus yang khas. Pak Baskoro memandang cangkir di tangannya cukup lama sebelum akhirnya berbicara lagi. "Aku datang untuk meminta maaf."

Keheningan langsung turun menyergap tempat itu. Gani tidak bergerak ataupun berkata apa-apa, karena ia tahu kalimat itu tidak mudah diucapkan oleh seseorang dengan ego sebesar Pak Baskoro.

"Aku pernah menganggap diriku sebagai orang yang paling bijaksana," suara pria tua itu terdengar rendah. "Padahal sebenarnya, aku hanya seorang penakut."

Lihat selengkapnya