SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #23

Hutan yang Dipertahankan

Musim kemarau datang lebih cepat tahun itu. Kabut pagi mulai jarang muncul, langit hampir selalu cerah, dan hutan pinus yang membentang di lereng gunung tampak hijau dan kokoh di bawah cahaya matahari yang terik. Namun di balik ketenangan visual itu, sebuah ancaman laten sedang bergerak merayap.

Bukan badai, bukan longsor, dan bukan pula kebakaran hutan. Melainkan selembar surat resmi berstempel dinas pemerintah kolonial Hindia Belanda—sebuah surat yang memiliki daya rusak mutlak untuk menghancurkan masa depan seluruh warga desa.

Surat itu tiba pada suatu pagi yang lengang. Seorang kurir berkuda pemerintah menyerahkannya langsung ke kantor kecil pengelolaan hutan. Gani membuka amplop tebal berbahan kertas linen itu, membacanya sekali dengan saksama, lalu mengulanginya sekali lagi demi memastikan ia tidak salah menginterpretasikan kata.

Raut wajah sang mandor seketika berubah menjadi teramat serius. Elena, yang sedang sibuk memeriksa tumpukan arsip lama di meja seberang, langsung mendongak menatapnya.

"Ada apa, Gani?"

Gani tidak menjawab dengan vokal. Ia hanya mengulurkan tangan, menyerahkan lembaran kertas berstempel lilin merah itu kepada Elena. Elena menerimanya, menyapu baris demi baris kalimat di sana, dan dalam sekejap, sirkulasi darah di tubuhnya terasa membeku sedingin es.

Pemerintah kolonial secara resmi telah mengeluarkan surat izin eksplorasi dan konsesi lahan baru kepada perusahaan perkebunan swasta milik keluarga Van Houten. Wilayah koordinat yang tercantum dengan detail di dalam lampiran surat itu mencakup hampir sebagian besar kawasan sabuk hijau hutan pinus yang selama ini dikelola dan dihidupi oleh warga desa.

Alasan yang tertulis di sana terdengar begitu klise dan familier di telinga Elena: Untuk optimalisasi komoditas ekonomi makro, peningkatan produktivitas wilayah, dan percepatan gerak pembangunan. Kata-kata yang begitu mulia, tertata, dan berwibawa. Namun, Elena sudah terlalu akrab dengan bahasa birokrasi kolonial semacam itu selama ia merantau di Batavia. Ia tahu betul bahwa di balik diksi agung bernama pembangunan, sering kali tersembunyi sebuah perampasan hak yang brutal atas kaum yang lemah.

"Ini benar-benar tidak masuk akal," gumam Elena, tangannya bergetar sedikit mencengkeram pinggiran kertas.

Gani menghela napas pendek, menatap keluar jendela ke arah barisan pohon pinus. "Karena sejak awal, ini memang bukan soal logika atau apa yang masuk akal, Elena."

Keheningan yang berat seketika menyergap ruangan kantor kayu itu.

"Tujuan mereka hanya satu," lanjut Gani lirih. "Mereka menginginkan tanahnya."

Kabar buruk itu segera berembus dan terbang bebas membelah desa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kedamaian fana, seluruh perwakilan warga desa berkumpul memadati balai pertemuan utama pada malam harinya. Para petani, pengrajin anyaman, guru sekolah rakyat, hingga jajaran para tetua adat hadir tanpa absen. Wajah-wajah yang biasanya ramah itu kini dipenuhi oleh awan kecemasan yang pekat. Karena tanpa perlu dijelaskan secara detail, semua orang memahami satu konsekuensi absolut: jika hutan pinus itu hilang dari lereng gunung, tatanan kehidupan desa mereka tidak akan pernah sama lagi.

Tuan Opzichter Willem van Houten datang mengeksekusi langkah pertamanya seminggu kemudian. Pria Belanda itu tiba dengan mengendarai sebuah mobil Ford hitam yang mengilap—sebuah simbol status modernitas yang kontras dengan jalanan tanah desa. Ia datang tidak sendirian; ia didampingi oleh beberapa pejabat administrasi kantor asisten residen serta seorang pengacara pribadi berpakaian necis.

Van Houten berdiri di atas panggung balai pertemuan dengan senyuman tipis yang terukir di wajahnya—senyuman condescending yang sejak dulu selalu berhasil memicu rasa tidak nyaman di ulu hati Elena.

"Saudara-saudara sekalian," ujar Van Houten, vokal bahasa Melayunya terdengar kaku namun penuh penekanan yang diatur. "Kedatangan kami ke tanah ini... adalah untuk membawa sebuah kemajuan baru."

Beberapa warga di barisan belakang langsung saling bertukar pandang dengan gurat skeptis. Mereka sudah cukup bijaksana untuk memahami sebuah pola: orang yang benar-benar berniat membawa kemajuan, biasanya tidak merasa perlu untuk mendeklarasikan kata 'kemajuan' secara berulang-ulang di depan korbannya.

Van Houten mulai memaparkan cetak biru rencananya secara ekspansif. Ia berbicara tentang perluasan lahan perkebunan komoditas ekspor, pembangunan akses jalan baru yang lebar, pembukaan lapangan pekerjaan baru bagi kaum pribumi, hingga proyeksi peningkatan variabel ekonomi wilayah. Semuanya terdengar begitu indah, prospektif, dan tanpa cela. Sampai seorang petani tua di barisan tengah memberanikan diri untuk mengacungkan tangannya dan berdiri.

Lihat selengkapnya