SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #24

Kembalinya Lelaki Itu

Telegram itu tiba menjelang malam. Selembar kertas tipis berwarna kuning pucat yang dibawa oleh seorang petugas pos kolonial menuju rumah dinas sementara tempat Adrian tinggal di kota kabupaten.

Ketika menyapu baris demi baris pesan singkat di atasnya, Adrian langsung tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, bibirnya menyunggingkan kurva. Namun, itu bukan bentuk senyuman bahagia, melainkan seringai sinis dari seseorang yang baru saja menemukan celah kesempatan—kesempatan emas untuk membalas kekalahan domestiknya yang memalukan.

Sejak putusan perceraian dikabulkan oleh pengadilan, kehidupan Adrian tidak berjalan semulus dan sehormat yang ia bayangkan. Secara hukum dan struktur birokrasi, ia memang masih mengemban jabatan sebagai seorang dokter pemerintah. Ia masih memiliki posisi resmi, masih mengantongi gaji yang utuh, dan masih memegang jaringan koneksi.

Namun, ada satu variabel fundamental yang telah bergeser secara radikal: reputasinya.

Bisik-bisik miring tentang skandal perselingkuhannya dengan Clara memang tidak pernah tercatat secara hitam di atas putih dalam laporan dinas resmi. Tetap saja, gosip di kalangan priyayi dan pejabat kolonial selalu menemukan jalannya sendiri untuk menyebar. Beberapa kolega medisnya kini mulai menjaga jarak aman, beberapa pejabat administrasi tidak lagi menyambutnya dengan keramahan yang sama, dan yang paling menghancurkan ego tertingginya adalah satu fakta telanjang: Elena berhasil pergi meninggikannya. Perempuan itu berhasil memilih jalannya sendiri, dan penolakan itu melukai harga diri Adrian jauh lebih destruktif ketimbang perceraian itu sendiri.

Kini, melalui lembar telegram di genggamannya, sebuah informasi strategis mendarat di kepalanya. Willem van Houten sedang mengalami hambatan besar di lapangan. Perlawanan warga desa Priangan ternyata jauh lebih terstruktur dari proyeksi awal perusahaan. Rentetan dokumen hukum lama yang berhasil diekskavasi oleh Elena membuat proses eksekusi perluasan lahan perkebunan terhenti di meja administrasi. Van Houten membutuhkan sebuah taktik baru yang agresif untuk memecah kebuntuan.

Adrian membaca ulang telegram itu, lalu melipatnya perlahan sembari tersenyum dingin. Inilah momentum yang selama ini ia tunggu-tunggu dalam sunyi.

Tiga hari kemudian, deru mesin mobil Ford hitam membelah keheningan jalanan tanah desa. Anak-anak kecil yang sedang berlarian bermain di tepi jalan langsung menghentikan langkah mereka, menatap takjub sekaligus asing. Beberapa warga yang sedang beraktivitas di halaman rumah saling melempar pandang dengan raut wajah yang mendadak menegang. Mereka mengenali siluet kendaraan mewah itu, dan mereka mengenali dengan sangat baik sosok pria yang melangkah turun dari pintu kabin.

Dokter Adrian.

Kabar mengenai kedatangan kembali mantan suami Elena itu berembus dan membelah desa dengan kecepatan yang luar biasa—bahkan jauh lebih cepat daripada persebaran berita perceraian mereka beberapa bulan lalu.

Ketika riak kabar itu sampai ke kantor pengelolaan hutan, Elena sedang sibuk menyusun akurasi salinan peta topografi lama bersama Gani. Gerakan jemarinya yang sedang memegang penggaris kuningan seketika terkunci, membeku di udara.

"Adrian... kembali ke desa ini?" vokal Elena merendah, menatap kosong ke arah meja.

Pak Jaya, yang bertindak membawa pesan itu dari batas desa, menganggukkan kepalanya dengan tegap. "Benar, Nona. Pagi tadi keretanya merapat di penginapan kolonial bersama rombongan Tuan Van Houten."

Atmosfer di dalam ruangan kantor kayu itu mendadak terasa begitu sempit dan mengintimidasi. Namun, respon mental Elena kali ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan pertengkaran mereka setahun lalu. Tidak ada lagi sisa ketakutan atau trauma domestik yang melumpuhkan logikanya; yang lahir di dalam sepasang matanya kini adalah sebuah kewaspadaan yang dingin dan tajam.

Gani mengalihkan pandangannya dari kertas kalkir, menatap lekat garis wajah Elena yang menegang. "Elena, jika kau merasa tidak nyaman atau tidak ingin berpapasan dengannya, tetaplah di dalam rumah. Biar aku yang menangani urusan di luar."

Elena terdiam beberapa saat, menstabilkan ritme napasnya, sebelum akhirnya menggelengkan kepala pelan. "Bukan itu yang sedang kupikirkan, Gani."

"Lalu?"

"Aku tahu persis bagaimana karakter Adrian," Elena menoleh, menatap lurus sepasang mata mandor hutan itu. "Aku tahu ia tidak akan pernah sudi menurunkan gengsinya untuk menginjakkan kaki kembali ke desa ini hanya demi memintaku pulang. Ia datang bukan untuk urusan personal denganku."

Keheningan melanda sejenak.

"Aku teramat takut," lanjut Elena, suaranya bergetar tipis. "Ia datang ke sini untuk bersekutu dengan Van Houten demi menghancurkan hutan pinus kita."

Dan analisis intuisi Elena terbukti valid tanpa cela.

Lihat selengkapnya