SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #25

Sidang di Kota Kabupaten

Pagi keberangkatan menuju kota kabupaten datang dengan langit kelabu. Bukan karena gumpalan mendung yang membawa hujan, melainkan karena hamparan awan tipis yang menutupi matahari, membuat suasana terasa muram. Udara bertiup berat, seolah-olah alam sendiri mengetahui bahwa hari itu bukanlah hari yang biasa bagi masyarakat kaki gunung.

Di beranda rumah, Elena berdiri diam memandang lurus ke arah jalan setapak yang membentang jauh menuju pusat kota. Di dalam pelukannya, tergenggam erat sebuah map kulit cokelat berisi susunan dokumen yang telah mereka kumpulkan dengan peluh selama berbulan-bulan. Lembaran peta topografi lama, surat-surat keputusan birokrasi, catatan tapal batas wilayah, hingga lembar kesaksian lisan warga desa. Seluruh taruhan atas eksistensi tanah kelahiran mereka kini terlipat ringkas dalam beberapa lembar kertas. Dan entah mengapa, kesadaran itu mendadak menghantarkan rasa takut yang dingin ke ulu hatinya.

Pak Baskoro melangkah keluar dari dalam rumah, mengenakan kain beskap terbaiknya sembari membawa sebuah payung besar dan tongkat kayu tuanya. "Ayo, Nduk," ajaknya dengan intonasi pelan namun mantap.

Elena mengangguk patuh. Namun, sebelum pasang kakinya melangkah naik ke atas delman sewaan yang sudah menunggu di halaman, matanya menangkap siluet seseorang berjalan tergesa-gesa dari ujung jalan desa.

Gani.

Lelaki itu datang dengan memikul sebuah tas kanvas besar yang sarat akan tumpukan dokumen tambahan. Raut wajahnya tampak setenang telaga di dalam hutan, seperti biasanya. Dan seperti yang selalu terjadi di setiap titik nadir hidupnya, kehadiran konstan pria bersahaja itu seketika membuat debaran di dada Elena terasa jauh lebih ringan.

Perjalanan menuju kota kabupaten berlangsung dalam keheningan yang panjang, hampir tanpa adanya produksi kata. Masing-masing dari mereka memilih untuk menenggelamkan diri ke dalam palung pikiran masing-masing. Roda delman berderit konstan, melindas jalanan berbatu yang lembap. Hamparan sawah berundak dan deretan perkebunan kopi berlalu begitu saja di kiri dan kanan mereka, hingga akhirnya, siluet kota kabupaten perlahan-lahan muncul memotong cakrawala di depan mata.

Bangunan-bangunan berarsitektur kolonial berdiri tegak dan kaku, tampak seperti barisan penjaga angkuh yang tidak ramah menerima kedatangan kaum pribumi. Gedung administrasi pengadilan kolonial hari itu terasa jauh lebih megah dan mengintimidasi daripada biasanya—atau mungkin, itu hanya distorsi dari ketegangan mental yang sedang mereka bawa di dalam kepala.

Di area halaman depan gedung, lautan manusia ternyata sudah berdiri menyemut. Para wartawan dari surat kabar lokal, barisan pegawai rendahan pemerintah, para pedagang acung yang penasaran, hingga rombongan warga desa Priangan yang sengaja menempuh perjalanan jauh demi memberikan dukungan moral. Kabar mengenai jalannya persidangan khusus ini rupanya sudah terbang dan menyebar terlalu jauh.

Ketika Elena melangkahkan kakinya turun dari pijakan delman, riak bisik-bisik seketika menggema membelah udara peron. Ada kelompok yang melontarkan kalimat dukungan, ada yang mencibir sinis, dan ada pula kelompok pasif yang hanya ingin menonton sebuah keributan. Begitulah tabiat massa; mereka akan selalu tertarik pada sebuah panggung pertarungan, terutama ketika variabel yang dipertaruhkan adalah harga diri dan nama baik seorang manusia.

Di undakan tangga gedung yang tinggi, Dokter Adrian sudah berdiri tegap menanti. Ia mengenakan setelan jas wol abu-abu yang dijahit dengan teramat rapi tanpa cela—persis seperti penampilannya di malam pelaminan mereka dulu.

Namun kali ini, tepat ketika sepasang mata Elena merekam visual pria itu, tidak ada satu pun letupan emosi yang bergolak di dalam dadanya. Ia tidak merasakan amarah yang membakar, tidak merasakan kesedihan yang meratap, dan tidak pula dirayapi oleh rasa takut. Yang tersisa di dalam hatinya hanyalah sebuah ruang kosong yang dingin. Dan keheningan absolut itu, entah mengapa, terasa jauh lebih destruktif bagi ego Adrian ketimbang sebuah luapan kebencian yang meledak-ledak.

Mata mereka bertabrakan lurus selama beberapa detik. Adrian menyunggingkan senyum tipisnya—sebuah senyuman terlatih yang dahulu selalu efektif ia gunakan untuk mengintimidasi dan membuat mental Elena merasa kecil. Namun pagi ini, taktik psikologis itu gagal total secara mekanis. Karena Elena sudah tidak lagi menaruh kebutuhan apa pun atas pengakuan atau validasi dari moralitasnya.

"Aku berharap kau sudah menyiapkan mentalmu dengan baik, Elena," cetus Adrian dengan nada meremehkan saat mereka berpapasan di koridor.

Elena menghentikan langkah kakinya sejenak, menoleh, lalu menatap lurus tepat di manik mata mantan suaminya. "Aku sudah teramat siap, Adrian," sahutnya dengan intonasi yang teratur dan dingin.

Tanpa menunggu respons, Elena kembali melangkah maju, meninggalkannya terpaku di belakang. Ia melangkah melampaui Adrian, tak ubahnya seperti seorang manusia yang sedang berjalan meninggalkan puing masa lalu yang tidak lagi memiliki kuasa hukum untuk mengikat jiwanya.

Interior ruang sidang administrasi kolonial dipenuhi oleh barisan kursi kayu panjang yang kaku. Di area depan, sebuah meja jati berukuran masif diletakkan sebagai takhta bagi tiga orang pejabat hakim kolonial Belanda yang duduk dengan raut wajah masygul. Di sisi sebelah kiri ruangan, Willem van Houten sudah duduk tegap didampingi oleh tim pengacara pribumi dan Belandanya yang necis. Sementara di sisi sebelah kanan, Elena mengambil posisi bersama Gani dan Pak Baskoro. Di antara kedua belah pihak, tumpukan berkas perkara tergelar lebar—menjadi saksi bisu dari pertarungan yang akan menentukan masa depan kelestarian hutan desa mereka.

Lihat selengkapnya