SETEGAR PINUS DITENGAH BADAI

Ahmad Barnash
Chapter #26

Dokumen yang Hilang

Sore setelah sidang gelombang pertama berakhir, langit kota kabupaten berubah menjadi muram. Awan-awan tebal keabu-abuan menggantung rendah di atas jajaran bangunan kolonial yang menjulang dingin di pusat kota. Angin bertiup kencang membawa debu dari jalan-jalan utama, membuat atmosfer sore itu terasa jauh lebih berat dan menekan daripada biasanya.

Di ruang penginapan bersahaja tempat mereka menepi, Elena duduk terdiam di dekat jendela kaca yang buram. Sepasang tangannya masih bergetar tipis. Getaran itu bukan lagi bermanifestasi dari rasa takut, melainkan karena kelelahan mental yang luar biasa. Hari itu terasa seperti rentetan drama satu tahun yang dipadatkan secara paksa menjadi beberapa jam saja.

Di sudut ruangan, Pak Baskoro tampak tertidur pulas di atas kursi rotan. Tubuh tua priyayi itu tidak lagi sekuat dulu untuk mengarungi ketegangan birokrasi. Sementara itu, Gani memilih berdiri tegap di beranda luar, melemparkan pandangannya lurus pada jalanan kota yang perlahan-lahan mulai sepi ditinggalkan pelintas.

Untuk beberapa menit yang panjang, tidak ada satu pun kata yang diproduksi. Masing-masing dari mereka tenggelam dalam palung pikiran masing-masing, mencerna badai yang baru saja meledak di ruang sidang. Akhirnya, Elena memecah kesunyian ruangan dengan vokal yang lirih.

"Aku... sama sekali tidak merencanakan tindakan itu, Gani."

Gani membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Elena dari balik pembatas pintu beranda.

"Mengatakan dan menelanjangi semuanya di depan majelis hakim," Elena menyunggingkan senyum kecilnya yang getir. "Pagi tadi, saat melangkah masuk, aku hanya berniat untuk menjawab runtunan tuduhan administrasi mereka dengan data. Tapi... begitu aku berdiri dan melihat tatapan manipulatif Adrian..." Ia menjeda kalimatnya sejenak, mengambil napas dalam. "...aku tiba-tiba merasa teramat lelah untuk terus bersembunyi."

Gani menganggukkan kepalanya dengan takzim, sorot matanya melembut. Ia memahami dengan utuh esensi dari tindakan Elena. Karena terkadang, sebuah keberanian yang radikal tidak lahir dari akumulasi kekuatan fisik seorang manusia, melainkan dari titik nadir kelelahan jiwanya. Kelelahan untuk terus berpura-pura baik-baik saja. Kelelahan untuk mengunci mulut dalam sunyi, dan kelelahan untuk membiarkan sebuah kebohongan struktural terus berjalan merampas harga dirinya.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan yang keras dan tergesa-gesa tiba-tiba berdentam di pintu depan penginapan, memutus sirkulasi sunyi di antara mereka. Elena dan Gani saling melempar pandang dengan gestur waspada. Jarum jam dinding sudah merayap hampir menyentuh waktu senja. Di kota kabupaten yang asing ini, tidak banyak tamu yang memiliki kepentingan untuk mengetuk pintu kamar mereka pada jam-jam transisi seperti saat ini.

Gani melangkah taktis, lalu membuka daun pintu kayu tersebut.

Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun berdiri di ambang pintu dengan napas yang terengah-engah, seolah-olah ia baru saja menempuh pelarian sejauh berkilometer-kilometer. Pakaian jubah pastor magang yang dikenakannya tampak kusut dan sedikit dikotori oleh debu jalanan.

"Apakah... apakah benar ini tempat Nona Elena Baskoro menginap?" tanya pemuda itu dengan vokal yang putus-putus, menyeka peluh di dahinya.

Beberapa menit kemudian, ketegangan itu berpindah ke dalam ruangan. Mereka duduk melingkari sebuah meja bundar kecil. Pemuda itu memperkenalkan diri dengan nama Markus, seorang asisten frater yang bertugas mendampingi Pastor Antonius di bawah naungan gereja tua kota kabupaten. Mendengar nama spesifik itu disebut, sepasang mata Elena seketika melebar penuh atensi.

Pastor Antonius. Elena pernah menangkap riak nama itu dalam ingatan masa kecilnya dari penuturan para tetua. Beliau adalah seorang pastor tua yang telah mendedikasikan seluruh sisa umurnya untuk bertugas di wilayah paroki pegunungan Priangan selama berpuluh-puluh tahun—bahkan jauh sebelum Elena sendiri dilahirkan ke dunia.

"Ada kepentingan mendesak apa yang membuatmu mencari kami, Markus?" tanya Elena, mencondongkan tubuhnya ke depan.

Markus tidak langsung menjawab dengan vokal. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia merogoh kantong tas kanvasnya dan mengeluarkan selembar amplop surat berbahan kertas tebal. "Pastor Antonius meminta saya untuk melacak keberadaan Anda dan menyerahkan surat pribadi ini secepat mungkin sebelum sidang gelombang kedua dimulai esok hari."

Elena menerima amplop tersebut. Guratan tulisan tangan yang tertera di permukaan kertas tampak sangat tua, kaku, dan dihiasi goresan gemetar khas manusia lanjut usia. Dengan penuh kehati-hatian, Elena menyobek segelnya dan membaca bait demi bait kalimat di dalamnya.

Seketika, denyut jantung Elena berakselerasi dengan luar biasa cepat.

"Nanda Elena yang terhormat, saya telah mendengar riak gemuruh mengenai jalannya persidangan khusus kalian hari ini di kota. Jika variabel yang sedang kalian cari dengan peluh adalah sebuah pembuktian autentik mengenai tapal batas hukum atas kelestarian hutan pinus desa, maka mungkin Tuhan telah mengizinkan saya untuk mengulurkan bantuan.

Tiga puluh tahun yang lalu, mendiang ayah dari anakku Gani... pernah menitipkan sebuah benda sakral ke dalam rahim arsip gereja tua ini sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya. Sesuatu yang saya yakini, kini telah bertransformasi menjadi variabel yang teramat penting bagi keselamatan hidup kalian semua."

Ru ruangan seketika disergap oleh keheningan total yang magis. Gani meraih lembaran surat itu dari tangan Elena, menyapu pandang isinya sekali, lalu mengulangnya sekali lagi dengan sepasang mata yang berkilat tajam.

Ayahnya?

Lihat selengkapnya