Malam semakin larut di gereja tua itu. Lampu minyak di ruang arsip memancarkan cahaya kekuningan yang redup, membuat bayangan di dinding batu alam tampak bergerak-gerak seperti makhluk hidup yang mengintai dari kegelapan.
Di atas meja kayu tua yang berdebu, terhampar dokumen yang baru saja mereka temukan dari balik rongga rahasia—sebuah berkas yang selama tiga puluh tahun tersembunyi rapat dari dunia. Dokumen yang mungkin mampu menyelamatkan kelestarian hutan pinus, atau justru membahayakan nyawa semua orang yang mengetahuinya.
Tidak ada yang memproduksi kata selama beberapa menit yang menegangkan. Elena membaca ulang setiap halaman dengan ketelitian seorang kurator, sementara Gani berdiri kaku di sampingnya dengan napas yang tertahan. Pastor Antonius tetap duduk diam dalam takzim, kedua belah tangannya yang keriput bertaut di atas kepala tongkat kayunya.
Akhirnya, Elena mengangkat kepalanya lambat-lambat. "Apa... apa maksud dari penuturan Pastor dalam surat ini?"
Pastor tua itu menarik napas panjang—sangat panjang. Sepasang matanya yang berkabut menatap kosong ke langit-langit, seolah sedang menimbang dengan berat apakah sebuah rahasia kelam masa lalu memang layak untuk diurai kembali.
"Tiga puluh tahun yang lalu..." suara Pastor Antonius meluncur pelan, bergetar di ujung tenggorokan. "...terjadi sebuah peristiwa berdarah dan manipulasi sistematis yang tidak pernah dicatat dalam selembar pun arsip resmi pemerintah kolonial."
Keheningan seketika menyergap ruangan. Elena dan Gani saling melempar pandang.
"Saat itu, perusahaan swasta bersekutu dengan pemerintah kolonial untuk membuka perkebunan komoditas skala besar di seluruh kawasan lereng pegunungan ini," lanjut sang pastor.
Sejarah rupanya sedang mengulang polanya sendiri di atas tanah yang sama.
"Dan ayahmu, Gani... adalah orang pertama yang berdiri tegak menggalang kekuatan warga desa untuk menolak rencana itu," kata Pastor Antonius, tatapannya kini terkunci pada sosok Gani.
Sepasang mata Gani sedikit melebar, dadanya bergemuruh hebat. Sepanjang garis hidupnya yang bersahaja di desa, ia hampir tidak pernah mendengar cerita heroik tentang sang ayah. Para tetua hanya menceritakan bahwa lelaki itu adalah seorang pekerja keras biasa yang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja di hutan. Ternyata, ada belahan fragmen lain dari kisah tersebut—sebuah kisah pekat yang sengaja dikubur hidup-hidup oleh ketakutan masyarakat.
Pastor Antonius melanjutkan penuturannya, sementara suara rintik hujan tipis mulai terdengar mengetuk jendela kaca biara, menambah kesan sendu dan muram pada atmosfer malam itu. "Waktu itu, otoritas birokrasi agraria kabupaten dipegang oleh seorang pejabat kolonial yang dingin bernama Cornelis De Witt. Dialah yang mengarsiteki seluruh proyek ekspansi perkebunan."
Hening.
"Masalahnya, demi melapangkan keuntungan modal... De Witt secara sepihak memalsukan seluruh titik koordinat batas wilayah hukum antara tanah negara dan tanah adat."
Mendengar kalimat itu, Elena mengetatkan rahangnya. Batas wilayah yang dipalsukan, tanah ulayat yang dicuri secara legal, dan sejarah yang sengaja diubah lewat tinta birokrasi. Pola menjijikkan itu kini terasa begitu nyata di hadapannya.
"Namun, ayahmu bukanlah pria yang mudah diintimidasi, Gani," suara pastor tua itu mengalun bangga. "Beliau bergerak senyap di lapangan dan berhasil menemukan bukti autentik dari kecurangan tersebut—termasuk draf salinan Perjanjian Konsesi Bersama asli yang saat ini tergelar di depan meja kita."
Sepasang mata Gani tidak pernah lepas menatap lembaran kertas tua berbungkus kain minyak itu. Untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun menjalani hidup dalam kekosongan memori, ia seolah-olah bisa melihat pantulan bayangan keteguhan ayahnya hadir di dalam ruangan.
"Lalu, jika dokumen ini sedemikian kuat dan sah... mengapa pada masa itu ia harus disembunyikan di balik dinding batu ini, Pastor?" tanya Elena, menuntut kejelasan logis.