Pagi sidang terakhir datang bersama hujan. Bukan hujan deras yang mengguyur bumi, melainkan gerimis tipis yang turun tanpa suara, membasahi jalan-jalan kota kabupaten dan membuat udara pegunungan terasa semakin dingin menusuk tulang.
Di dalam kamar penginapan, Elena berdiri diam di depan jendela, menatap rintik air yang memburamkan kaca. Hari itu. Akhirnya hari yang dinanti itu datang juga—hari yang akan menentukan segalanya. Bukan hanya soal nasib kelestarian hutan, bukan hanya soal keserakahan Van Houten, melainkan seluruh riwayat perjalanan hidup yang telah mereka lalui selama bertahun-tahun.
Di atas meja kayu tergeletak sebuah map kulit tua. Di dalamnya tersimpan lembar salinan perjanjian yang baru saja mereka temukan di rongga rahasia gereja tua semalam. Dokumen otentik yang telah tersembunyi rapat selama tiga dekade dari radar dunia; dokumen yang dahulu telah membuat orang-orang jujur menghilang, membuat para tetua diancam, dan mungkin telah membuat ayah Gani kehilangan nyawanya secara ganjil.
Kini, lembaran kebenaran itu akan dibawa melintasi gerbang ruang sidang. Dibawa ke satu tempat yang selama tiga puluh tahun ini mati-matian berusaha menguburnya hidup-hidup.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan teratur terdengar di daun pintu. Ketika Elena membukanya, sosok Gani sudah berdiri tegap di ambang pintu, mengenakan kemeja putih bersahaja yang bersih. Rambutnya masih sedikit basah oleh tampias gerimis pagi.
Sepasang mata mereka bertemu, mengunci satu sama lain. Tidak ada untaian kata-kata besar yang melodramatis, tidak ada pidato penyemangat yang berapi-api. Hanya sebuah kalimat pendek yang meluncur dari bibir Gani.
"Siap, Elena?"
Elena menarik napas panjang, membiarkan udara pagi mengisi paru-parunya, sebelum akhirnya mengangguk mantap. "Siap, Gani."
Atmosfer di sekitar gedung administrasi kolonial hari itu jauh lebih ramai dan sesak jika dibandingkan dengan jalannya persidangan sebelumnya. Lautan manusia tampak memenuhi area halaman depan. Para wartawan dari berbagai surat kabar lokal datang dalam jumlah yang jauh lebih masif, dan rombongan warga desa Priangan bahkan sengaja menempuh perjalanan jauh sejak dini hari demi bisa mengawal jalannya keadilan. Kabar mengenai konflik agraria ini telah terbang berkembang jauh melampaui batas wilayah kabupaten. Kini, bagi publik, ini bukan lagi sekadar sengketa batas tanah biasa, melainkan sebuah panggung pertarungan terbuka antara arogansi kekuasaan kolonial dan kesucian sebuah kebenaran murni.
Di dalam ruang sidang, suasana terasa bertransformasi menjadi begitu berbeda—lebih tegang, lebih berat, dan mencekam. Bahkan raut wajah para pejabat hakim kolonial Belanda tampak jauh lebih serius dari biasanya. Karena mereka tahu betul, apa pun keputusan hukum yang diketuk hari ini dipastikan akan meninggalkan jejak sejarah yang mendalam bagi birokrasi.
Willem van Houten sudah duduk tegap di tempatnya. Setelan jas hitam mewahnya tampak melekat sempurna tanpa cela. Namun, wajah pria Belanda itu tidak lagi memancarkan ketenangan absolut seperti beberapa minggu lalu. Ada sebuah riak ekspresi baru yang terlukis di sela kerutan dahinya: sebuah kekhawatiran yang tipis, namun nyata.
Tidak jauh dari posisinya, Dokter Adrian duduk terdiam. Pria muda itu tampak jauh lebih pasif daripada biasanya, wajahnya pias dan terlihat jauh lebih tua daripada beberapa bulan lalu. Perubahan fisik itu bukan dipicu oleh faktor usia, melainkan karena rentetan kekalahan psikologis yang perlahan-lahan menggerogoti kesombongan dan ego aristokratnya.
Sidang darurat itu resmi dibuka. Sang ketua majelis hakim membuka berkas perkara, lalu memberikan kesempatan bagi pihak Van Houten untuk menyampaikan pernyataan final mereka.
Pengacara perusahaan swasta itu bangkit berdiri dengan penuh rasa percaya diri. Ia meluncurkan draf argumen hukumnya secara taktis dengan bahasa yang rapi, yang telah dipersiapkan matang selama berminggu-minggu. Ia kembali mengeksploitasi narasi agung tentang urgensi pembangunan, percepatan kemajuan, proyeksi manfaat ekonomi makro, hingga pemenuhan kepentingan logistik negara. Semuanya terdengar begitu meyakinkan di telinga awam, sampai akhirnya Elena menangkap sebuah anomali: tim pengacara lawan tidak lagi berfokus memaparkan akurasi bukti fisik. Karena mereka tahu fondasi data mereka telah bocor; mereka kini sedang mati-matian beralih mengandalkan kekuatan pengaruh politik di balik meja.
Ketika pihak Van Houten akhirnya menyudahi draf kalimatnya, keheningan yang sunyi seketika melanda ruangan. Ketua majelis hakim menoleh, menatap lurus ke arah Elena.
"Nona Elena Baskoro, apakah dari pihak Anda masih memiliki draf bukti tambahan sebelum majelis hakim menarik kesimpulan hukum?"
Elena bangkit berdiri dari tempat duduknya dengan tenang. Jantungnya sempat memukul dinding dada dengan ritme yang cepat, namun kali ini dorongannya bukan lagi bersumber dari rasa takut yang melumpuhkan logikanya, melainkan karena ia memahami sepenuhnya urgensi sakral dari momentum ini.
Ia membuka kancing map kulit di genggamannya, menarik keluar lembaran dokumen kuno berbungkus kain minyak tersebut. Dan seketika, seluruh ruang sidang disergap oleh keheningan total yang luar biasa pekat.
"Saya memiliki selembar dokumen salinan perjanjian resmi negara yang belum pernah sekalipun diperlihatkan atau tercatat dalam birokrasi perkara ini sebelumnya, Yang Mulia," ujar Elena, vokalnya terdengar begitu jernih dan stabil menggema memenuhi ruangan.