Aku menuliskan ini bukan semata ingin orang tau apa yang aku rasakan dan apa yang aku simpan sendirian selama ini. Aku menuliskan ini karena aku sudah tidak sanggup jika harus menahannya sendirian lagi. Aku hanya ingin berbagi. Aku takut, jika aku menyimpan semuanya sendiri, barangkali aku bisa mati berdiri. Tanpa aku sadari, aku telah membayar mahal demi terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Aku menukar sebagian besar ingatanku dengan ketenangan, membiarkan ingatan-ingatan itu hilang—mungkin untuk selamanya. Dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah amneisa psikogenik / amnesia disosiatif. Konon katanya, kondisi ini bisa terjadi sebagai bentuk pertahanan diri (defense mechanism), sebuah cara yang dilakukan agar pikiran terhindar dari rasa sakit yang luar biasa—rasa sakit yang tak pernah aku ingin rasakan.
Aku tak pernah meminta untuk dimengerti. Pun demikian. Aku juga tak selalu bisa mengerti dan memahami orang lain. Termasuk Bapak, Mas Sito, dan Yogi—adik bungsuku. Aku selalu menganggap bahwa mereka tak pernah memikirkanku. Aku selalu menganggap bahwa mereka hanya saling memikirkan dirinya masing-masing. Tak pernah ada yang memeluk lukaku. Tak pernah ada yang menenangkan tangisku. Dan tak pernah ada yang bertanya, ‘Kamu baik-baik saja kan?’. atau “Kamu nggak papa?”
Barangkali itu hanyalah prasangkaku. Barangkali aku sudah salah menilai mereka. Mereka mungkin peduli. Pasti peduli. Mana mungkin, raga yang di dalamnya mengalir darah yang sama tidak saling peduli, tidak saling mengasihi. Kami hanya jarang saling bicara. Hampir tak pernah. Kamu tahu apa yang paling membuat hatiku sesak? Kesunyian. Kesepian. Aku merasa sendirian. Tinggal di tempat yang sama. Makan makanan yang sama. Ternyata tidak membuat kami merasa saling mengisi. Ah, mungkin hanya aku saja yang merasa begitu. Aku tak pernah tahu apa yang mereka rasakan.