“Di kehidupan selanjutnya, jadilah ibuku lagi.”
Konon, sebagian orang percaya bahwa setelah kehidupan di dunia ini, akan ada kehidupan yang lain lagi. Pemikiran seperti itu sering kali diromantisasi sebagian orang yang ingin bersama kembali dengan seseorang yang dia cintai. Termasuk kamu. Jika setelah kehidupan di dunia ini ada kehidupan lagi, kamu mau lahir dari rahim perempuan itu lagi. Perempuan hebat yang menghabiskan separuh usianya di atas tempat tidur. Bukan karena malas. Tapi karena sesuatu yang tidak diinginkan oleh siapapun. Andai tubuhnya bugar, dia juga ingin seperti orang lain. Merantau. Bukan untuk sekadar melihat dunia. Lebih dari itu. Untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Sayang sekali. Garis takdir tak pernah selaras dengan yang diinginkan. Barangkali Tuhan masih ingin mendengar doa yang lebih keras lagi.
Meski tidak dibesarkan dengan kemewahan, dengan harta yang berlimpah, kamu sangat bahagia dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Ibumu adalah pendukung nomor satu. Dia yang selalu mendorongmu untuk selalu berkembang sehingga kamu tumbuh menjadi putri kecilnya yang berprestasi, putri kecilnya yang selalu dibanggakan. Meski saat dewasa, kamu habis juga dihajar realita.
Kamu mengusap batu nisan di depanmu. Meratakan air mawar yang kamu siram di atasnya. Merapatkan susunan bunga di sana. Angin berhembus tipis menerpa wajahmu. Pohon-pohon di sekeliling sedikit bergoyang. Sepucuk bunga kamboja jatuh tepat di pangkuanmu. Kamu ambil, kamu dekatkan ke indra penciumanmu, lalu kamu hirup perlahan aroma kematian itu.