Setelah Ibu Tiada

Mar Kumbang
Chapter #3

SAAT DUNIA MENDADAK JADI ABU-ABU

SAAT DUNIA MENDADAK JADI ABU-ABU

Andai kamu bisa kembali pada hari itu, kamu akan memilih untuk membolos kelas Pak Paulus dan menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan motor butut mu untuk pulang ke rumah. Bertemu dengan Ibu. Merayakan ulang tahunnya. Sungguh kita tak pernah tahu kapan kematian akan datang. Tak pernah ada yang tahu kapan napas akan berhembus untuk yang terakhir kali. Tapi kita tahu bahwa akan ada hari dimana kita merindukan seseorang yang raganya sudah tak bisa dipeluk lagi.

Andai aku tahu jika itu akan menjadi ulang tahunnya yang terakhir, akan ku tinggalkan segala urusan kampus dan tugas-tugasnya yang menumpuk. Tapi begitulah. Setelah penyesalan, manusia seringkali hanya bisa berandai-andai. Sama seperti yang kamu lakukan setiap kali terbangun di tengah malam.

Kamu duduk di bangku belakang. Terlihat gusar dan gelisah. Sesekali kamu menatap ke layar ponsel. Sebuah pesan singkat dari Ibumu ada di sana. ‘Ayu, masih sibuk sama urusan kampus? Kapan bisa pulang ke rumah? Ibu kangen, ndo.’ Matamu berbinar. Air matamu di pelupuk dan siap jatuh. Kamu juga merindukan rumah. Terakhir kali kamu meninggalkan rumah, kamu sedang kecewa dengan kakakmu. Kamu pergi dengan amarah dan perasaan benci.

Hari itu, kamu berkelahi dengan dirimu sendiri. Antara menurunkan ego untuk menemui Ibu. Atau, tetap mengasingkan diri di kamar kos mu itu. Sayangnya, kamu masih memenangkan egomu. Lagi pula, masih ada perayaan ulang tahun di tahun berikutnya—pikirmu kala itu. Kamu membalas pesan Ibu mu dengan perasaan yang tak bisa kamu jelaskan. ‘Ibu, selamat ulang tahun. Ayu belum bisa pulang ke rumah. Ibu harus kuat ya. Ibu harus sehat. Ibu harus lihat Ayu jadi orang sukses.’

Berhari-hari semenjak hari itu, waktu tidurmu berantakan dan kurang. Bukan hanya soal kekhawatiran mu tentang kondisi kesehatan Ibu. Tapi, juga karena Ujian Tengah Semester. Kamu sering terjaga di malam hari hanya untuk belajar demi tidak mengulang mata kuliah. Ya, sekeras itu kamu berusaha berlomba dengan umur Ibu.

Ibumu adalah segalanya bagimu. Maka, saat Tuhan mengambil Ibumu, kamu seperti kehilangan duniamu. Ibumu mungkin memang bukan orang yang hidupnya beruntung. Ia hanyalah anak seorang petani di desa yang sawahnya tak begitu luas. Sebagian hasil panen disimpan untuk makan sehari-hari, sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Ibumu adalah anak kedua dari empat bersaudara. Satu kakak laki-laki. Satu adik perempuan. Satu adik laki-laki. Sejak kecil Ibumu sudah banyak berkorban untuk adik-adiknya. Pendidikan saat itu adalah sesuatu yang mewah—yang tidak semua orang bisa mengaksesnya. Ibu menjadi anak piatu sejak belia. Dia harus merelakan mengubur mimpinya menjadi guru agar saudara laki-lakinya bisa sekolah lebih tinggi.

Kamu cukup beruntung. Kamu menjadi orang pertama yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Meski kamu harus gagal di tahun pertama dan kedua. Di tahun ketiga kamu berhasil lolos di jurusan yang Ibumu inginkan. Meski pada awalnya kamu merasa tidak yakin dan keberatan dengan jurusan itu. Lagu pula, jika di tahun kedua kamu gagal kuliah—kamu memaksakan diri untuk pergi karena diterima di jurusan impianmu—di kampus yang jauh dari rumah—mungkin kamu sudah menjadi korbah wabah virus Corona yang saat itu menjadi pandemi di seluruh dunia.

Menulis adalah sebuah cara yang bisa kamu lakukan ketika apa yang memenuhi kepala tidak bisa kamu ceritakan kepada siapa pun. Bukan soal gengsi. Andai kamu punya tempat untuk bercerita, kamu sudah pasti bercerita—mungkin sambil menangis. Tentu saja, kamu masih melakukannya hingga saat ini. Kamu menulis saat kamu bersedih. Kamu menulis saat kamu gelisah. Kamu menulis saat kamu kecewa. Kamu menulis saat kamu merasa takut akan kegagalan yang bahkan masih sekadar bayang-bayang di pikiran mu.

Kamu diam-diam mengkhawatirkan Ibumu. Lebih dari dua puluh tahun lalu, hidupnya berubah. Tuhan mengujinya dengan sakit. Sebagian hartanya habis untuk berobat kesana-kemari. Akan tetapi, semua pengorbanan tak pernah berujung pada kesembuhan. Takdir hidupnya tak pernah mulus. Nasib baik Ibumu menikah dengan Ayahmu. Laki-laki yang meski tak pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar, dia sangatlah bertanggung jawab dan setia. Seorang yang pekerja keras hingga dia memiliki beberapa aset. Ayahmu tetap setia menjadi pasangan hidup sampai Ibumu berpulang.

Ibumu, mengandungmu di tahun ketiga dia penyakitan. Menentang kata bidan untuk tidak melanjutkan kehamilannya. Barangkali jika saat itu Ibumu aborsi, tidak akan pernah ada kamu dan adikmu. Ketika Tuhan berkehendak, sesuatu yang terasa tidak mungkin akan menjadi mungkin. Meskipun, penyakitnya tak pernah sembuh seperti sedia kala, Ibumu tetap mensyukuri nikmat Tuhan. Suaminya setia. Punya tiga orang anak. Sudah lebih dari cukup.

Lihat selengkapnya