Langit sore mulai menguning ketika kompleks pemakaman itu benar-benar lengang. Tanah yang masih basah tampak lebih gelap dibanding makam-makam di sekitarnya. Aroma pandan dari bunga tabur bercampur air mawar memenuhi udara, sementara beberapa helai bunga kamboja putih jatuh tertiup angin mengenai ujung rambut seorang gadis yang sebagian terbalut pasmina hitam. Doa-doa yang menjelang salat zuhur bersahutan kini telah berganti dengan bunyi burung dan desir pepohonan.
Mahendra yang biasa dipanggil Hendra berdiri cukup lama di sisi pusara istrinya. Kedua tangannya membenahi posisi peci songkok yang semula tak simetris. Wajah lelaki enam puluh tahun itu tampak lebih tua daripada seminggu lalu. Meski rambut yang tak tertutup peci tampak memutih, tetapi kumisnya yang tebal masih hitam pekat, belum ada uban. Kemeja putih gombrong yang biasa terlihat gagah saat dikenakan kini kusut, ia memakai sejak semalam saat istrinya harus masuk ICU.
Di samping kanan dan kiri Mahendra berdiri April memakai celana dan kemeja panjang serba hitam dengan pasmina dilingkarkan seadanya ke atas kepala. Ia berdiri di dekat kakak serta ipar-iparnya Nivir, Tianara, Rasyid, dan Adhika. Tak ada lagi tetangga, saudara, ataupun pelayat yang menemani. Hanya ketiga putri dan dua menantunya yang masih menemani. Orang-orang sudah kembali menjalani hidup masing-masing. Hanya keluarga kecil itu yang masih sulit menerima kenyataan bahwa Rokasya kini benar-benar berada di balik gundukan tanah.
April melirik wanita bergamis putih dengan hijab panjang menutupi dada di samping kirinya. "Teh... pulang, yuk," ajaknya pada Tian, kakak nomor dua.
Tian tidak menjawab. Kedua matanya terus menatap kayu nisan yang tertancap di atas kuburan sang ibu. Jemarinya menggenggam ujung kerudung panjangnya begitu kuat sampai buku-buku jarinya memucat.
"Teteh mau di sini dulu." Ia merapatkan tubuh pada Rasyid yang berdiri di samping kirinya.
Wanita dengan rambut pendek sebahu yang biasanya tersisir sangat rapi itu kini tampak letih. Meski sorot mata tajamnya yang biasa penuh penilaian itu kini meredup dan digenangi air mata yang ditahan mati-matian, ia tetap menolak terlihat lemah di depan adik-adiknya.
"Jangan gitu, Tian... ayok pulang, ah! Nanti kamu pingsan," ucap Nivir mendekat sambil menarik lembut lengan adiknya. Meski intonasi Nivir lebih tegas dan keras dari April, tetapi ia juga khawatir dengan kondisi sang adik.
"Enggak, Kak... aku janji bakal menguatkan diri. Aku pengin di sini dulu."
"Benar kata kakak kamu, Tian... ayok pulang. Jangan meratapi kepergian mama." Hendra menegaskan.
April yang melihat kondisi Tian tampak lemah dengan mata begitu sembab karena tak kunjung berhenti menangis pun mendekati kakaknya.
"Iya, Teh... ayok pulang, yuk. Mama gak akan suka lihat Teteh kayak gini." Gadis itu mengusap punggung sang kakak.
"Udah Dek... Kak... Pa... jangan khawatir, aku di sini temanin Tian. Papa, Kak Nivir dan yang lain pulang duluan aja gak apa-apa." Rasyid meyakinkan.
Mendengar kalimat tersebut, Mahendra diikuti menantu dan anaknya pun melangkah pergi. Rasyid merangkul Tian mengajak maju selangkah ke kuburan mertuanya sambil berjongkok.
Sebelum benar-benar pergi, April memandang nisan bertuliskan nama ibunya. Rasanya aneh. Selama ini kata ‘Mama’ berarti seseorang yang menyambut mereka di rumah, menyiapkan makan, mi rebus dan teh hangat saat hujan, atau sibuk mengingatkan ayahnya agar untuk makan sebelum berkutat dengan pesanan rotan sedang menumpuk. Kini nama itu dipahat di atas kayu dipertegas dengan spidol berwarna hitam.
Di belakang Tian dan Rasyid, April mendengar isak sang kakak dalam dekapan iparnya. "Bi... aku mau jadi orang terakhir yang menemani mama sebelum malaikat-malaikat itu datang."
April melihat Tian menyenderkan kepala di bahu Rasyid. Iparnya tak bersuara, hanya mengelus lembut puncak kepala yang terbalut kerudung.
"Orang-orang udah pada pulang, Bi. Sebentar lagi... tempat ini bakal sepi. Aku cuma mau nunggu di sini agak lama. Jadi yang terkahir menemaninya. Setidaknya, biar Mama tahu kalau anak yang dua tahun lalu hampir mati dan tiap hari ditangisi ini gak langsung lari meninggalkan dia sendirian menghadapi alam barzah."
"Iya, Sayang... aku temani kamu ya." Rasyid mendekap istrinya lebih erat.
"Saat kita pergi... apakah benar malaikat langsung datang dan Mama sendirian di bawah sana menghadapi mereka?"