Ruang tengah yang biasanya menjadi area kumpul keluarga sambil tertawa kini berubah menjadi tempat sidang yang sunyi. April baru menunjukan amplop yang membuat tenggorokannya tercekat setelah acara tuju harian selesai.
Tirai jendela dibiarkan terbuka sehingga angin malam masuk bersama aroma khas rumah itu. Bau pelitur yang menempel di udara bercampur dengan aroma kopi yang sudah dingin di atas meja. April meletakkan amplop yang ditemukan empat hari lalu ke atas meja. Tatapannya bergantian mengarah pada Mahendra, Nivir, lalu Tian. Tidak seorang pun langsung menyentuh amplop berwarna cokelat itu. Namun, kedua alis Mahendra berubah kerung saat memandangnya.
Nivir mengambil amplop pertama kali. Sesaat setelah membaca, ia memandang ayahnya. "Apa Papa tahu soal ini?"
Mahendra mengangguk. "Iya."
"Sejak kapan?" tanya Tian yang sudah selesai membaca surat pemberitahuan tunggakan utang.
"Udah lama... seperti tanggal yang ada di surat itu!"
Nivir menarik kembali surat tagihan itu dari Tian lalu membaca ulang. Matanya bergerak cepat. "Udah dua tahun nunggak, Pa. Dan... ini total utangnya beneran lima ratus juta?"
Suasana langsung membeku. April bisa mendengar suara motor melintas dari jalan depan rumah. Tak jauh dari sana terdengar seseorang memanggil temannya yang masih nongkrong di depan paska tahlilan hari terakhir Rokasya. Kehidupan desa tetap berjalan, sementara di dalam rumah itu waktu seperti berhenti.
"Lima ratus juta, Pa?" ulang Tiar, ia butuh validasi.
Mahendra tidak segera menjawab.
"Kenapa sebanyak itu?" April menimpali.
"Itu bukan utang baru," jawab Mahendra. "Sudah dari tahun dua ribu tujuh belas."
"Tahun dua ribu tujuh belas?" Tian mengernyit. "Waktu aku sakit?"
Mahendra mengangguk.
"Awalnya cuma buat biaya berobat."
"Berapa?" Tian mengerutkan kening. "Emang semahal itu biaya berobat aku?"
"Papa cuma butuh lima puluh juta." Mahendra menjelaskan.
Nivir memandang ayahnya tanpa berkedip. "Kalau lima puluh juta, kenapa bisa jadi lima ratus juta?"
Mahendra mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia seperti sedang menyusun keberanian untuk membuka sesuatu yang selama ini disembunyikan dari anak-anaknya.
"Waktu itu... asuransi pendidikan April bangkrut."
April yang sejak tadi menyimak langsung mengangkat kepala dan bersuara, "Asuransi?"
"Iya." Mahendra memandang ke arah putri bungsunya. "Sama halnya seperti Teteh, kamu juga Papa daftarin asuransi pendidikan, itung-itung nabung! Tapi tabungan itu hilang. Papa panik! Di saat yang sama workshop lagi dapat pesanan cukup banyak. Papa pikir sekalian pinjam modal untuk tambah pekerja, beli bahan baku, sama bayar uang muka rotan dari Kalimantan."
Tatapan April bergeser ke arah halaman belakang rumah. Dari tempat duduknya ia bisa melihat sedikit ujung gudang yang dulu selalu ramai. Ia masih ingat bagaimana truk engkel keluar masuk membawa kerangka kursi dan meja. Dulu suara kompresor hampir tidak pernah berhenti sejak pagi.
"Tapi usaha kan sempat bagus?" tanya April hati-hati.
"Memang! Makanya kami lancar nyicil. Tapi kan ada pandemi!"
Satu kata terkahir itu cukup menjelaskan banyak hal bagi April dan kedua kakaknya.
Mahendra menarik napas pendek. "Karena covid itu, pesanan di Jakarta turun. Ada pembeli yang batal ambil barang. Ada yang minta tempo makin panjang. Papa tetap harus bayar para perajin. Bank juga tetap jalan bunganya."
Nivir menutup berkas itu dengan sedikit keras. "Kenapa kami baru tahu sekarang?"
Mahendra tidak menjawab.
"Bahkan Mama juga nggak pernah cerita." Tian mengeluh.
"Mama nggak mau kalian kepikiran."
"Justru sekarang kami lebih kepikiran." April menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
Dhika dan Rasyid memilih untuk duduk di depan rumah, mereka masih harus menemani para tamu yang belum bergegas pulang.
"Papa sama Mama mikirnya apa sih? Kami ini keluarga. Bukan orang luar." Nada bicara Nivir mulai tinggi. "Kalau waktu itu bilang, kan bisa jual mobil aku. Atau Dhika bisa minta bantuan bosnya!"
Tian menatap lantai. Kedua tangannya saling menggenggam. "Kalau waktu itu aku nggak sakit..."
Semua mata langsung mengarah kepadanya.