Setelah Mama Pergi

tettyseptiyani02
Chapter #3

3. Siapa Wanita Itu?

Pagi di Blok Sigayam datang bersama suara pintu-pintu workshop yang mulai dibuka. Dari halaman samping rumah, beberapa pekerja tetangga mengangkat kerangka kursi rotan ke atas gerobak dorong. Bau rotan yang baru dijemur bercampur dengan aroma thinner dari bengkel finishing di ujung gang, sementara bunyi kompresor dan spray gun kembali terdengar setelah beberapa hari berhenti selama masa berkabung.

Workshop milik Mahendra justru masih sunyi. Tumpukan kerangka kursi yang belum dipelitur memenuhi sudut ruangan. Beberapa batang rotan mulai berubah warna karena terlalu lama terkena udara lembap. Kaleng pelitur masih tersusun rapi di rak kayu, tetapi tutupnya dipenuhi debu tipis. Hanya seekor kucing kampung yang berjalan santai melewati lorong sempit di antara tumpukan barang.

April berdiri di ambang pintu workshop sambil memperhatikan semuanya. Tempat itu begitu akrab sejak kecil. Dulu, hampir setiap pulang sekolah ia melihat ibunya berjalan membawa teko berisi es teh manis untuk para tukang amplas, sementara Mahendra sibuk memeriksa hasil semprotan warna satu per satu. Kini hanya tersisa bau bahan kimia yang perlahan memudar, seolah pekerjaan di ruangan itu ikut kehilangan semangat setelah Rokasya pergi.

"Jangan ngelamun, Dek! Masih pagi." Suara Mahendra membuat April menoleh.

Ayahnya berjalan seraya duduk di bangku kayu dekat meja kerja. Kemeja lengan panjang yang biasa dipakai menyemprot pelitur kini hanya dilipat sampai siku. Di depannya tergeletak buku pesanan lama dengan beberapa halaman yang mulai menguning. April menghampiri tanpa banyak bicara.

Mahendra membuka salah satu halaman. "Dulu Mama kamu yang bantu cek tulisan ini."

April ikut melihat deretan angka, nama pelanggan, dan jadwal pengiriman yang ditulis menggunakan tinta biru. Tulisan Rokasya tidak serapi Mahendra, tetapi setiap pesanan ia beri garis warna berbeda agar mudah dibaca.

"Kalau ada pelanggan telepon, Mama langsung tahu barang mana yang siap dikirim." Mahendra mengusap salah satu halaman menggunakan ujung jari. "Papa terlalu fokus sama pegawai dan target pesanan yang harus selesai. Mama itu lebih teliti tentang pelanggan."

April tidak menjawab. Pandangannya justru berhenti pada sebuah noda bulat bekas cangkir teh di sudut buku. Entah mengapa, benda kecil seperti itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada melihat foto-foto ibunya. Karena seringkali ia melihat Rokasya tak sengaja meletakkan minuman di atas buku tersebut.

Mahendra menutup buku perlahan. "Semalam Papa kepikiran."

"Tentang utang?" tanya April.

Mahendra menggeleng. "Tentang kamu."

April mengernyitkan kening tak bersuara.

"Kamu sekarang sudah besar." Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi membuat April merasa pembicaraan mereka tidak akan ringan. "Papa lihat beberapa hari ini kamu berubah."

"Aku lagi berusaha mencerna semua kejadian ini, Pa. Aku belajar menerima bahwa Mama udah gak ada."

Mahendra tersenyum kecil, lalu bangkit menuju rak kayu tempat berbagai peralatan kerja tersimpan. Ia mengambil celemek tua berwarna cokelat yang biasa dipakai Rokasya saat membantu membungkus barang pesanan. Debu tipis beterbangan ketika kain itu dikibaskan.

"Dulu Mama sering marah kalau Papa pulang terlalu malam."

April ikut tersenyum tipis.

"Katanya, kerja boleh, tapi rumah jangan sampai kehilangan bapaknya." Mahendra memandangi celemek itu beberapa saat sebelum melipatnya kembali. "Sekarang Papa baru ngerti maksudnya."

Angin pagi berembus dari pintu belakang workshop. Bau pelitur yang menempel di dinding kembali memenuhi ruangan. April mengusap permukaan meja kerja yang dipenuhi serbuk amplas halus. Jemarinya langsung berubah kecokelatan.

"Apa usaha ini mau Papa jalanin lagi?"

Mahendra mengangguk pelan. "Harus."

"Tapi pekerjanya tinggal beberapa orang aja, kan?"

"Dicoba dulu, memanfaatkan stok bahan baku yang udah ada. Jadi gak perlu modal."

Jawaban itu terdengar lebih seperti harapan daripada keyakinan.

April memperhatikan wajah ayahnya. Beberapa bulan terakhir garis-garis di sekitar mata Mahendra tampak semakin dalam. Rambut putih yang dulu hanya sedikit kini mulai mendominasi. Sosok yang selama ini dikenalnya paling sibuk di workshop justru lebih banyak duduk memandangi halaman kosong.

"Apa yang bisa aku bantu, Pa?"

Mahendra langsung menggeleng. "Bantu kuliah saja yang bener dan lulus tepat waktu."

"Aku serius, Pa!"

"Papa juga serius." Mahendra menarik kursi lain agar April duduk menghadapnya. "Dari kemarin Papa lihat kamu terlalu banyak mikirin rumah."

"Memang harus ada yang mikirin, Pa."

"Tapi harusnya bukan kamu yang tanggung!"


April menatap lantai semen yang dipenuhi bekas cipratan pelitur. Kata-kata itu terdengar menenangkan, tetapi kenyataannya berbeda. Surat pemberitahuan lelang masih berada di laci ruang tamu. Utang bank tetap berjalan. Workshop belum benar-benar hidup kembali.

"Terus siapa, Pa? Aku satu-satunya anak mama yang belum menikah. Setelah Mama pergi, rumahku tetap di sini. Sedangkan Kakak dan Teteh bisa ikut suaminya."

Ia terbiasa melihat persoalan sebagai rangkaian sebab dan akibat. Dalam pikirannya, setiap masalah memiliki jalur penyelesaian jika semua variabelnya diketahui. Namun keluarga tidak bekerja seperti rumus teknik yang dipelajarinya di kampus. Ada terlalu banyak hal yang tidak bisa dihitung.

Lihat selengkapnya