Setelah Mama Pergi

tettyseptiyani02
Chapter #4

4. Gosip Pertama yang Terdengar

Empat bulan berlalu sejak kepergian Rokasya, tetapi rumah di Blok Sigayam belum benar-benar menemukan ritmenya lagi. Workshop di samping rumah masih mengeluarkan suara spray gun yang mendesis pelan setiap pagi, disusul bunyi amplas menggesek permukaan kursi rotan. Bau pelitur bercampur thinner kembali memenuhi udara, seolah pekerjaan sedang berjalan seperti biasa. Hanya saja, bagi April, semua terdengar seperti mesin yang dipaksa hidup meski salah satu baut utamanya telah hilang.

Sejak mendapat kabar dari Zaskia beberapa hari lalu, perhatian April berubah. Melihat ayahnya bukan lagi sebagai lelaki yang masih dalam masa berduka, melainkan seseorang yang mungkin sedang menyembunyikan sesuatu.

Malam harinya, April yang hendak menceritakan pengamatannya kepada Nivir justru mendapat kabar lebih dulu dari kakaknya.

"Kamu ngerasa Papa berubah enggak?" tanga Nivir.

April bahkan tidak mengangkat kepala.

"Maksudnya berubah gimana, Kak?"

"Kayak lebih sering keluar atau apa gitu?"

Nivir yang sudah dua hari menginap di rumah orangtuanya mendapat desas-desus dari salah satu tetangga yang suaminya bekerja di workshop.

"Kamu tahu gak kalau Papa katanya mau  sebenarnya tahu info ini dari Zaskia. Cuma masalahnya benar atau enggak kita gak tahu, kan? Kalau beneran, parah banget, sih!" April mengernyit.

"Mana Papa pulangnya bulan depan!" Nivir menggerutu.

Mahendra baru saja mengantar pesanan ke toko miliknya yang ada di Jakarta. Tempat itu dijaga oleh Ragil, adik dari Rokasya.

"Aku nanti yang telepon Papa, Kak! Dia udah janji, lho... katanya gak akan nikah kecuali kita yang nyari calonnya!"

Nivir terdiam. Ia teringat tentang berita yang disampaikan tetangganya.

"Kak, emang beritanya kayak gimana?"

Wanita yang bekerja sebagai pengacara itu tidak langsung menjelaskan. "Kamu tahu kan, kalau Zaskia itu neneknya orang sini?"

April mengangguk.

"Orang yang ngomong sama Kakak itu ya neneknya Zaskia. Katanya, ‘Nivir, coba lihat deh di Facebook bener apa enggak? Katanya ada foto Pak Hendra mesrah-mesrah sama cewek. Katanya mau nikah sama cewek itu?’ Nah, pas Kakak nanya, dia emangnya punya Facebook? Jawabnya, berita itu tahu dari Zaskia."

April menghela napas berat. "Orang kampung itu paling senang bikin cerita. Mulai gosip orang hamil dulua, nikah,  selingkuh ... semua dijadiin bahan gosip! Aku tahu dari Zaskia, Kak. Tapi justru dia nanya bener apa enggak? Dan beritanya gak ngaco kayak gitu!"

April menjelaskan cerita Zaskia, bahwa gadis itu mendapat informasi dari anak sepupu mereka, yang artinya anak dari keponakan dari Mahendra juga Mahesa.

Nivir menyugar rambut seolah berusaha menyapu bersih gosip tak jelas tentang ayahnya yang baru saja mampir ke otaknya. Informasi serancu itu hanya membuat kepalanya makin berat. Ia menganggap berita ini terlalu rumit. Kepergian Adhika ke Thailand untuk tugas selama setahun telah memaksa Nivir mengunci rapat rumah mereka di Kedawung dan pulang ke Tegalwangi. Di sini, ia hanya ingin menyandar pada dinding rumah masa kecilnya, meresapi rotan yang akrab. Kedatangannya ke Tegalwangi untuk mencari kedamaian dan kehangatan keluarga, bukan mengurusi gosip murahan.

***

Langit Tegalwangi di sore hari mulai menguning ketika April mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Dari jendela kamar, ia melihat Zaskia melepas helm sambil melambaikan tangan. Sejak kerja di salah satu klinik Kota Cirebon, mereka jarang bertemu. Namun perawat yang suka menulis itu sekarang pindah ke tempat yang lebih dekat di daerah Megu. Karena itu, kedatangannya membuat suasana rumah yang beberapa hari terakhir dipenuhi kecurigaan terasa sedikit lebih ringan.

April membukakan pintu. "Ke kamar aja, yuk."

Zaskia tersenyum sambil membawa rujak ala Cirebon kesukaan mereka. "Aku bawa rujak Gamel buat nemenin ngobrol."

April hanya membalas dengan senyum tipis. Ia mengantar sahabatnya masuk ke kamar. Bau lemari kayu yang masih menyimpan aroma parfum Rokasya bercampur dengan lotion yang belum sempat dihabiskan pemiliknya. Di atas meja belajar, buku-buku Teknik Perminyakan masih terbuka bersama beberapa lembar catatan kuliah.

"Kamu makin kurus," kata Zaskia pelan.

"Aku lagi pusing banget jadi mahasiswi tingkat akhir! Pokoknya, setelah Mama pergi rasanya capek banget! Dan...."

"Masih mikirin gosip itu?"

April tidak langsung menjawab. Ia menuangkan es jeruk dari dalam teko plastik ke dua gelas, lalu duduk di lantai bersandar pada sisi ranjang.

Lihat selengkapnya