Pagi di Tegalwangi dimulai seperti hari-hari sebelumnya. Bunyi palu dari bengkel tetangga bersahut-sahutan dengan desis kompresor yang menghidupkan spray gun. Bau pelitur dan debu kayu masuk bersama angin dari jendela dapur yang terbuka, memenuhi rumah yang sejak Rokasya meninggal tak lagi sehangat dulu. Mahendra sudah berangkat ke workshop sebelum matahari benar-benar tinggi, ia baru saja datang dari Jakarta semalam, lebih awal dari perkiraan.
Sementara itu, April masih memandangi layar ponselnya. Nama ‘Om Mahesa’ memenuhi bagian atas ruang obrolan. Pesan terakhir masih terlihat jelas, tetapi ia tidak berniat membacanya lagi. Perdebatan semalam tidak memberinya jawaban apa pun. Yang tersisa hanya kepala yang semakin penuh dengan pertanyaan.
Mahasiswi Teknik Perminyakan itu menekan beberapa menu. Arsipkan chat. Lalu membuka pengaturan kontak untuk memblokir panggilan. April mengembuskan napas pelan. Bukan karena membenci pamannya, melainkan karena tahu dirinya mudah terpancing jika percakapan itu berlanjut. Untuk sementara, menjaga jarak terasa lebih aman daripada memperpanjang perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa.
Sesaat kemudian ia melihat Mahendra dari arah workshop sedang berjalan menuju dapur. April buru-buru mendekat.
"Kenapa, Dek?" Mahendra tidak melihat wajah anaknya. Namun pria itu sibuk mengambil gelas.
April buru-buru meletakkan ponsel.
"Papa lagi dekat sama siapa?"
Mahendra menghentikan aktivitasnya dan menatap April. "Dekat gimana maksudnya?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang ayah, ia malah mengajukan pertanyaan lain. "Itu teman Papa yang suka sama mamanya Zaskia namanya siapa? Kapan dia mau nikahin mamanya Zaskia?" April sengaja menanyakan hal tersebut, karena beberapa kali Mahendra bercerita.
Bukan tidak percaya pada ayahnya, April hanya butuh validasi bahwa apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini hanyalah sebuah gosip.
"Kenapa emangnya Dek? Katanya sih habis Idul Adha ini dia mau nikahin mamanya Zaskia. Kemarin pas di Jakarta ketemu sama orangnya."
April hanya mengangguk-angguk. "Oh oke... oke! Ya udah... intinya aku baru aja dapat kabar kalau Papa itu lagi deket sama cewek. Satu, mamanya Zaskia dan satu lagi orang Megu! Aku gak tahu siapa orang Megu ini. Apakah wanita yang sama yang pernah papa tolak dan ceritakan pada Teteh? Atau ini wanita lain?"
"Papa gak dekat sama siapa-siapa!"
"Ya udah, oke! Aku percaya. Aku mau ngerjain tugas dulu." April meraih ponsel yang diletakkan di atas kulkas, kemudian bergegas ke lantai dua menuju kamarnya.
Sampainya di kamar, baru saja meletakkan punggung ke atas kasur, ponsel April berbunyi. Nama ‘Teteh’ sedang memanggil untuk video call dan ia langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, Dek... kamu lagi apa?" Tampak Tian tanpa kerudung di dalam kamarnya, bicara pada adiknya.
"Wa'alaikumussalam... ini lagi rebahan aja. Kenapa?"
"Chat kamu semalam soal gosip tentang Papa, itu malah merembet kemana-mana! Astaghfirullah Teteh sampai pusing banget!"
April mengernyit keheranan. " Kok bisa?"
"Omesa tuh teleponin terus gak berhenti! Ini baru selesai. Intinya dia gak mau kelihatan salah." Omesa yang dimaksud adalah Om Mahesa. Mereka memang lebih sering memanggil dengan sebutan Omesa.
April menyeringai. "Udah aku masukin ke arsip! Ngomong apa aja dia?"
"Intinya... semua orang salah! Cuma yang bikin Teteh jengkel, ujungnya dia nasihatin Teteh, katanya jangan melarang-larang papa untuk nikah lagi! Kita anak-anak itu gak berhak melarang papa menikah lagi! Udah gila ya dia... tiba-tiba ngomong kaya gitu! Kayak paling tahu gimana kondisi keluarga kita." Tian tampak begitu marah. Perempuan itu sebenarnya tidak jauh beda dengan April dan Nivir, sama-sama keras kepala dan mudah tersulut emosi.
Semua itu diturunkan dari genetik Mahendra. Namun, yang membedakan Tian sudah mendalami agama Islam lebih jauh dari kedua saudaranya. Ia berani bicara frontal hanya di depan keluarga inti dan juga Zaskia yang dianggap sudah sangat mengerti karakternya.
"Terus Teteh jawab apa?"
"Teteh jawab lah, kalau papa punya janji sama kita. Dan kita gak akan melarang papa nikah lagi... asal jujur dari awal. Nah kalau ini kan kita malah dapat kabar dari orang lain! Gimana kita gak emosi!"
April menghela napas. "Omesa juga ngomong kayak gitu sama aku!"
"Dia bilang, waktu acara empat puluh harian istrinya itu kan banyak keluarga yang kumpul. Nah tapi ada keponakan dia tuh yang nanyain, apakah benar Papa mau nikah sama mamanya Zaskia? Katanya banyak orang sering lihat mamanya Zaskia pergi bareng papa naik mobil. Padahal itu kan ada kita juga, lebih seringnya ya sama Kak Nivir. Nah, dari situ tuh... temennya Zaskia dengar dan kepo."
Setelah mendengar penjelasan Tian, April mulai mengerti kenapa gosip itu bisa menyebar. Bukan karena ada orang yang sengaja berbohong. Melainkan karena satu kalimat yang berpindah dari satu mulut ke mulut lain hingga berubah bentuk.
"Aku juga udah negur papa tadi, sebelum Teteh telepon."