Keberangkatan April untuk menjalani Kuliah Praktik Lapangan (KPL) sudah di depan mata. Mahasiswi Teknik Perminyakan itu baru saja selesai ujian akhir semester ganjil dan sudah kembali ke kampung halamannya. Kampus sudah menjadwalkan keberangkatan April untuk praktik di LMG Gasindo di Jakarta Selatan.
Persiapan kali ini jauh dari kata ideal. Di saat teman-teman satu angkatannya sibuk menyiapkan koper baru dan laptop spesifikasi tinggi untuk mengolah data perminyakan, April justru berdiri di ruang tamu rumahnya, menatap nanar layar laptop yang berkedip pasrah sebelum akhirnya mati total. Sudah dua hari ia mencoba menekan tombol daya, tetapi perangkat itu hanya mengeluarkan kedipan LED satu pendek lalu kembali mati. Padahal usia laptopnya belum ada tiga tahun.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu berjalan menghampiri ayahnya yang sedang sibuk mengecek kursi rotan. Bau thinner dan serbuk debu kayu yang menempel di baju kerja Mahendra mendadak terasa begitu pekat di udara.
"Pa... laptop aku udah gak bisa dipake lagi, nih," ucap April, memecah hening di antara bunyi kompresor yang mendesis dari arah workshop belakang. "Padahal minggu depan aku udah ke Jakarta."
Mahendra menatap anaknya. Garis-garis lelah di sekitar mata pria itu tampak makin dalam, memantulkan beban berat yang ditanggungnya sejak Rokasya pergi. Ia menatap putri bungsunya dengan raut bersalah.
"Aduh, Dek... Papa belum ada simpanan buat beliin yang baru," jawab Mahendra parau.
Ia tak mampu memberikan janji untuk membelikan laptop baru atau sekedar servis. Karena uang yang sekarang ia kumpulkan lebih dibutuhkan untuk biaya kuliah, kos serta makan April selama tinggal di Jakarta.
"Kalau ada uang lebih, pasti Papa usahakan, Dek."
April melempar senyum tipis agar ayahnya tidak merasa makin terbeban. Ia tahu betul arti kata 'usahakan' dari mulut sang ayah. Itu bukan sekadar janji manis, melainkan batas kemampuan maksimal yang sedang diperjuangkan Mahendra di tengah lesunya pesanan rotan di Blok Sigayam.
"Jangan dipaksain, Pa... aku cuma ngasih tahu aja," sela April menenangkan. "Nanti aku coba pinjam laptop punya Teteh dulu aja buat dibawa ke Jakarta. Tapi sebagai orangtua, pengennya aku Papa dulu yang izin ke Teteh."
Mahendra mendesah lega, mengusap wajahnya yang berhias kumis tebal hitamnya. "Iya, nanti Papa coba tanya ke Teteh kamu dulu. Lagian dia punya dua, kan?"
April mengangguk pelan. Meski masalah perangkat ini bisa teratasi sementara, senyap di dadanya belum sepenuhnya terangkat. Sambil melangkah kembali ke kamar untuk mengemas pakaian ke dalam tas, April menyadari bahwa keberangkatannya ke Jakarta kali ini bukan sekadar tentang tugas KPL di LMG Gasindo, melainkan juga tentang menyisakan ruang bernapas dari rumah yang fondasinya sedang diuji.
***
Jakarta menyambut April dengan udara yang lebih pengap daripada Cirebon. Jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak seperti aliran fluida dalam pipa bertekanan tinggi... jika satu titik tersumbat, seluruh jalur ikut melambat. Sebagai mahasiswa Teknik Perminyakan, April sering tanpa sadar memandang sesuatu sebagai sebuah sistem. Kota sebesar ini pun menurutnya bekerja dengan prinsip yang sama. Sedikit gangguan bisa menghasilkan efek berantai yang panjang.
Kos yang ia tempati tidak besar. Hanya cukup untuk sebuah tempat tidur, meja belajar, lemari pakaian, serta jendela kecil yang menghadap gang sempit. Namun, karena ini kota besar, Mahendra harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar sewa bulanan yang tiga kali lipat lebih mahal dari Bandung. Dari kamar ini April terdengar suara pedagang bakso setiap sore dan deru kereta yang melintas dari kejauhan.
Malam pertama, April membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Saldo yang tersisa membuat dadanya sedikit mengencang. Ia menghitung biaya makan, transportasi, fotokopi laporan, hingga kebutuhan praktik. Angka-angka itu bergerak di kepalanya lebih cepat daripada kalkulator.
Kalau toko Jakarta benar-benar sedang sepi... bagaimana Papa mengirim uang tiap minggunya dan dari mana biaya sewa bulan depan? Pertanyaan itu tidak pernah ia sampaikan kepada siapa pun.
***
Melangkah masuk ke Kompleks Perkantoran LMG Gasindo di Jalan Ciledug Raya pagi itu memberikan sensasi tersendiri bagi April. Gedung bertingkat dengan papan nama resmi instansi pengujian di bawah naungan Direktorat Jenderal Migas itu berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk Kebayoran Lama. Di sini, April ditempatkan di Divisi Evaluasi Formasi... sebuah divisi krusial di bawah Departemen Eksploitasi. Tempat ini menjadi jantung pengujian data batuan dan fluida reservoir yang dikirim langsung dari anjungan lepas pantai maupun sumur bor darat di seluruh Indonesia.
Hari pertama diawali dengan orientasi peserta magang di ruang rapat utama balai pengujian. April duduk di barisan tengah, memangku buku catatan dan laptop pinjaman milik Tian. Aroma pendingin udara ruangan bercampur dengan bau samar bahan kimia yang terbawa dari koridor laboratorium.
"Selamat datang rekan-rekan mahasiswa di Divisi Evaluasi Formasi," buka seorang pria dengan jabatan supervisor. Ia yang nanti membimbing April serta mahasiswa lain untuk KPL dari LMG Gasindo. "Di sini kalian tidak hanya belajar teori, tapi langsung menyentuh real-world sample. Eksplorasi dan eksploitasi migas itu mahal... dan akurasi data dari divisi kita adalah penentu apakah sebuah blok migas layak diproduksi atau tidak."
Saat sesi perkenalan diri bergulir melingkari meja rapat, giliran seorang mahasiswa di sudut kanan depan yang berdiri.
"Perkenalkan, nama saya Michael Julian dari Teknik Perminyakan Universitas Trisakti," ucapnya tenang.