Hari terus berganti, minggu demi minggu sudah April lewati dengan baik di ibukota Indonesia. Ia pernah tanpa sengaja melihat Mahendra keluar dari ruang tamu setelah berpamitan kepada ibu kos, berjalan menuju motor tuanya sambil membawa kantong plastik berisi cucian kotor milik April yang ingin ia bawa ke tempat laundry. Punggung lelaki itu tampak sedikit lebih membungkuk dibanding beberapa bulan lalu, tetapi langkahnya tetap mantap.
April memandangi ayahnya dari balik jendela kamar kos. Empat bulan lalu, ia pernah menghabiskan banyak malam memikirkan gosip bahwa Mahendra akan menikah lagi. Ia mengamati perubahan-perubahan kecil, mencurigai setiap panggilan telepon, bahkan sempat percaya bahwa ayahnya mulai menjauh dari kenangan tentang Rokasya.
Kini, setelah melihat sendiri bagaimana Mahendra menolak perhatian ibu kos dengan cara yang santun, semua kecurigaan itu perlahan kehilangan pijakan. Mungkin memang ada orang-orang yang mampu bertahan dalam kesepian tanpa mencari pengganti... ‘mungkin Papa benar-benar sedang berusaha memenuhi janjinya,’ pikiran seperti itu yang sering terbesit dalam benaknya.
April mengambil ponselnya, lalu membuka foto terakhir yang ia miliki bersama kedua orang tuanya. Senyum Rokasya masih sama seperti dulu, sementara Mahendra berdiri di samping istrinya dengan tatapan penuh kebanggaan. Untuk pertama kalinya sejak gosip itu muncul, April merasa beban di dadanya sedikit berkurang.
***
Masa KPL tiga bulan di LMG Gasindo Jakarta akhirnya sampai pada penghujung agenda. Di ruang rapat Divisi Evaluasi Formasi, April berdiri tegak di depan proyektor, mempresentasikan draf laporannya yang berjudul "Pengenalan Peralatan Laboratorium Routine Core di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi – LMG Gasindo". Dengan pembawaan yang tenang dan pemahaman instrumen yang presisi, ia berhasil menjawab setiap cecaran pertanyaan dari supervisor sekaligus pembimbing serta jajaran penguji.
Di sudut ruangan, Julian melempar senyum penuh apresiasi. Pemuda itu memberi isyarat bangga pada rekan satu ruangan yang tahu persis bagaimana April memeras pikiran setiap hari di depan laptop. Hari perpisahan itu diakhiri dengan foto bersama, jabat tangan hangat dan ucapan selamat tinggal kasual dari Julian di depan gerbang kantor. Tidak ada perpisahan dramatis, hanya kesadaran tenang di dada April bahwa ada batas kasat mata yang tak akan pernah mereka seberangi.
Saat April kembali ke rumah Tegalwangi usai menyelesaikan sidang laporan KPL di kampus, suasana rumah terasa jauh lebih hangat dibanding biasanya. Berita kehamilan Tian yang sudah divalidasi lewat kiriman foto USG via WhatsApp beberapa waktu lalu kini benar-benar terasa nyata.
Di meja makan, tersusun beberapa kotak kue yang masih utuh. Bau pelitur dari workshop belakang bercampur dengan aroma teh hangat yang mengepul. Tian sedang duduk di samping Mahendra. Perempuan itu sengaja menginap selama beberapa hari untuk berkumpul dengan adik, kakak juga ayahnya.
Tian tampak lebih berisi, tetapi ada raut ragu dan gamang yang belum sepenuhnya sirna dari wajahnya. Sesekali jemarinya meraba perutnya sendiri yang masih tampak rata.
April melempar senyuman seraya mengambil potongan kue. "Gimana rasanya hamil, Teh?"
"Ya gitu deh... kayak mimpi!"
"Pokoknya selamat, deh... buat terehku yang solihah ini!"
"Teteh sebenarnya takut banget, Dek... rasanya belum siap hamil! Soalnya Mama baru aja pergi. Teteh bingung nanti kalau pas lahiran atau ngerawat newborn gak ada yang bantuin."
April mengelus punggung Tian, ikut merasakan sesak di dada tetehnya. "Teteh itu bidan... teteh kuat! Radang selaput otak aja bisa dilewatin, PTSD, Bipolar, Anxiety... Teteh bisa berjuang melawan itu. Apa lagi hamil... yang notabene ini bukan sebuah penyakit atau kelainan. Aku yakin Teteh bisa lewatin ini, aku percaya Teteh jauh lebih paham dari aku."
Sementara itu, Mahendra yang duduk di dekat mereka mengulas senyum tipis. "Dengerin adek kamu yang udah mulai dewasa itu, Tian! Udah gak usah nangis-nangis lagi!"
April menatap ayahnya. "Emang Teteh nangis kenapa?"
"Ya waktu Papa ke kos kamu bilang si Teteh hamil... malamnya itu dia telepon, nangis. Keinget mama, katanya kenapa setelah mama pergi Allah malah ngasih dia hamil? Kenapa gak pas masih ada mama?"
"Lho... tapi Papa waktu itu yak cerita deh!" protes April.
"Kan waktu itu ada ibu kos yang ngasi rujak buah. Jadi papa lupa mau cerita tentang Tian!"
Tian terkekeh mendengar kata ibu kos. Ia tahu bahwa ayahnya sedang disukai wanita pemilik kos tiga puluh pintu itu. "Cieee... ibu kos!"
"Teteh tahu!" Kening April mengerut.
"Papa sering cerita, tuh! Katanya ibu kos kamu suka tiba-tiba chat."
"Tapi Papa gak ada apa-apa sama ibu kos. Beneran!" Garis-garis lelah di wajah pria itu seolah mengendur. Ada kehangatan kecil yang kembali menyala di matanya sejak ditinggal almarhumah Rokasya.
Sedangkan, di sudut ruang tengah, Nivir duduk sambil menyuapi Rissa. Suaminya yang sedang dipindahtugaskan ke luar negeri membuat Nivir harus menanggung sendiri beban rumah tangga dan rasa sepi di rumah. Matanya yang lelah menatap lurus ke arah ayah dan kedua adiknya di ruang makan.
Ada sesuatu yang bergejolak samar di balik tatapan Nivir. Setiap kali melihat Mahendra mengambilkan minum untuk Tian, atau saat ayahnya bertanya dengan nada teramat lembut apakah Tian merasa mual, jemari Nivir mendadak meremas pinggiran pakaian anaknya lebih erat. Prasangka-prasangka buruk mulai merayapi pikirannya: Apakah setelah bayi ini lahir, Papa masih ingat dengan cucu pertamanya? Apakah Papa akan semakin menganakemaskan Tian?
"Mami... Ammah mau punya bayi, ya? Nanti Rissa bakal ada temen, ya?'
Nivir hanya mengusap kepala anaknya tanpa mengalihkan pandangan, lalu meletakkan cangkir tehnya ke meja dengan denting porselen yang agak keras. Ia tidak mengucakpan sepatah kata pun. Keheningan dingin yang ia bangun justru menebarkan ketegangan yang membuat Tian perlahan menunduk segan, sementara April hanya bisa terdiam membaca situasi.
Kekacauan yang terpendam itu akhirnya pecah beberapa hari kemudian, diawali dari hal yang tak disangka-sangka.
Sebelum kembali ke rumahnya di kota, Tian hendak meminjam laptopnya sendiri pada April. Perangkat itu baru saja April bawa kembali dari Jakarta usai sidang laporan KPL.
"Dek, Teteh pinjam laptopnya, ya?" Tian sengaja menggunakan kata pinjam, karena ia tak mau terkesan mengambil laptop yang sedang dibutuhkan adiknya. "Ada berkas penting yang harus dikerjakan Kak Rasyid. Gak tahu kenapa laptop yang di rumah tiba-tiba LCD-nya mati. Mungkin karena udah tua."
"Pakai aja, Teh."
Tian dan Rasyid pun pulang membawa laptop miliknya. Mereka berniat akan meminjamkan kembali jika April membutuhkan. Namun, niat sederhana itu rupanya sampai ke telinga Nivir lewat percakapan telepon dengan ayahnya. Kecemburuan dan tekanan batin yang menumpuk akibat suami yang jauh di luar negeri serta krisis ekonomi keluarga mendadak meledak.
Dari meja makan, April mendengar suara Nivir ngobrol dengan Mahendra di ruang tengah. Nada bicaranya meninggi, penuh amarah terselubung. Nivir menyalahkan keputusan itu, menuduh Tian tidak tahu diri karena tega mengambil laptop yang sedang dibutuhkan April untuk urusan kampus. Ia juga memprotes Mahendra yang dianggap selalu mengalah dan memanjakan Tian tanpa batas.
"Kemarin tiga bulan di Jakarta itu April bawa laptop siapa?" tanya Mahendra.