Setelah Mama Pergi

tettyseptiyani02
Chapter #8

8. Menautkan Kembali Retakan Panjang

Pagi itu, udara Bandung yang dingin terasa kontras dengan kecemasan yang terus membebani dada April. Di salah satu ruang dosen Jurusan Teknik Perminyakan, April berdiri dengan beberapa lembar draf judul proposal di tangannya. Hari-harinya di kampus minggu ini begitu padat, mulai dari mengisi Kartu Rencana Studi semester akhir, mengurus administrasi perkuliahan, hingga menemui dosen pembimbing skripsi yang baru saja ditunjuk.

"Dari tiga judul yang kamu ajukan ini, Pril," ujar seorang pria seusia Mahendra sambil mengoreksi draf proposal April dengan pulpen merah, "saya lebih menyarankan kamu ambil topik pengujian non-destruktif. Landasan teorimu di pengujian laboratorium pas KPL kemarin sudah cukup kuat."

April mengangguk khidmat, menyimak setiap arahan dosennya.

"Kita fokuskan skripsimu pada 'Perhitungan Nilai Porositas pada Batuan Reservoir Menggunakan Metode Dual Energy CT-Scanning'," lanjut sang dosen seraya membubuhkan tanda tangan memberi persetujuan judul di lembar pengesahan. "Ini topik yang sangat baik. Tapi kamu harus hati-hati saat eksekusinya, ya."

"Baik, Pak. Terima kasih banyak. Segera saya susun bab pertamanya," jawab April. Gadis itu merasa sedikit lega. Setidaknya, ia tinggal fokus langkah apa yang harus diambil untuk menyusun skripsi, tidak pusing-pusing lagi memikirkan judul mana yang harus diambil.

Begitu keluar dari gedung jurusan dan berjalan menyusuri koridor kampus menuju kosannya, rasa lega itu menguap seketika. Laptop Tian baru kembalikan, meski tetehnya bilang pinjam, tetapi itu hak pemiliknya. Ia masih sangat butuh mengolah data skripsi. Lebih dari itu, gambaran bentakan Nivir dan pesan suara isak tangis Tian menjelang acara haul satu tahun almarhumah Rokasya terus membayangi pikirannya.

Saat April sampai di kamar kos dan merapikan berkas KRS, ponselnya bergetar. Nama Zaskia tertera di layar. Ibu jarinya dengan lancar menggeser ikon telepon untuk menerima panggilan.

"Assalamu'alaikum, April." Suara Zaskia terdengar lewat telepon.

"Wa'alaikumussalam, Zas. Aku belum baca WhatsApp kamu. Gimana Teteh?" tanya April.

Di seberang telepon terdengar jeda sejenak. "Udah mendingan, kok... lagi fase ceria dia! Habis cerita katanya paket baju-baju bayinya baru pada datang. Kemarin malam aku main sih, ngobrol lumayan lama sama Teteh."

April memutar kursinya menghadap jendela kosan. "Teteh cerita soal chat sama Kak Nivir?"

"Iya." Zaskia terdengar menarik napas. "Kayaknya si Teteh bukan cuma sakit hati karena dibilang manja atau dituduh jadiin Kak Nivir supir. Dia ngerasa sejak Mama nggak ada jadi gak punya saudara. Yaaa, kamu tahu lah pasti... dengan riwayat anxiety-nya dan kondisi hamil besar sekarang, Teteh ngerasa sendirian banget."

April memejamkan mata, memegang ponselnya makin erat. "Sebenarnya Kak Nivir juga nggak sepenuhnya salah, Zas... karakter dia emang keras."

"Aku tahu," sahut Zaskia pelan. "Aku sempat ngobrol juga sama Teteh... dan sebenarnya Teteh juga sadar tentang kerasnya Kak Nivir. Cuma... dalam kondisi tertentu atau pas mood dia gak baik, sikap kerasnya Kak Nivir itu bikin dia sakit hati."

April menahan napas. Selama ini ia sibuk merasa bersalah dan memadamkan api setiap kali kedua kakaknya bergesekan. Ia tidak pernah benar-benar berdiri di tengah untuk melihat dari arah mana pemicu amarah itu berasal.

"Mereka itu sama-sama pengin dipahami, Pril," ucap April.

"Bedanya, cara mereka minta dipahami itu beda. Teteh minta dipahami lewat tangisan dan keluhan, sedangkan Kak Nivir minta dipahami lewat emosi dan nada keras."

Percakapan itu berakhir tanpa solusi instan. Namun untuk pertama kalinya, sudut pandang April bergeser. Sebagai calon sarjana perminyakan, ia paham bahwa jika dua tekanan dari arah berlawanan terus menekan satu titik reservoir, struktur itu akan retak. Keluarga mereka tidak butuh siapa yang paling benar, melainkan seseorang yang sanggup menjadi penengah agar tak ada yang merasa berjalan sendirian.

Beberapa hari kemudian, setelah seluruh urusan KRS dan administrasi skripsi di Bandung rampung, April pulang ke Cirebon.

Udara Tegalwangi langsung menyambutnya dengan aroma khas yang selalu dirindukannya, campuran debu kayu rotan, thinner dan pelitur dari workshop di sepanjang jalan. Dari kejauhan, bunyi kompresor dan desis spray gun bersahut-sahutan.

Saat melangkah menuju kamarnya, melintasi kamar Mahendra yang pintunya terbuka, langkah April terhenti di dekat lemari kayu milik orang tuanya. Pintu lemari tua itu sedikit terbuka, memperlihatkan tumpukan buku kuitansi, berkas angsuran bank dan lembaran perjanjian utang usaha yang bertahun-tahun ini mengimpit bahu ayahnya. Di balik tumpukan kertas itu, April tahu ada amplop cokelat tebal yang kosong... tempat di mana sertifikat tanah dan rumah yang ditempati ini seharusnya tersimpan rapi, sebelum akhirnya terpaksa diagunkan demi menutupi krisis keuangan usaha rotan Mahendra.

Dada April mendadak terasa makin sesak. Bau pelitur yang menguar dari arah belakang rumah kini seolah berbisik tentang kerja keras ayahnya yang tak kenal henti, membanting tulang dari pagi hingga malam di usianya yang makin sepuh, demi bertahan hidup dan memastikan kuliah April selesai.

Ketegangan antara kedua kakaknya memang menyakitkan, tetapi tumpukan utang dan rumah yang belum sepenuhnya aman ini adalah kenyataan pahit lain yang menunggu untuk diselesaikan. Aku harus cepat lulus, batinnya tegas. Aku harus segera kerja, dapat gaji pertama di industri migas dan tebus kembali sertifikat rumah ini. Aku nggak mau Papa terus-terusan memikul beban ini sendirian sampai tua. Tekad yang mengeras itu membakar sisa-sisa rasa lelahnya.

***

Keesokan harinya, Arpil pergi ke Harjamukti untuk berkunjung ke rumah Tian. Niat utamanya meminta izin untuk meminjam kembali laptop milik Tian demi menggarap skripsi yang baru di-ACC dosen. Namun, alasan terbesarnya adalah ingin meluruskan benang kusut di antara kedua kakaknya.

Pintu rumah di Harjamukti terbuka. Tian tersenyum menyambut adiknya. Perempuan itu mengenakan dress hamil feminin berwarna pastel yang anggun dan sudah menyediakan cheseecake yang baru dipesan. Meski senyumnya terulas manis, lingkar hitam di bawah matanya tak bisa menyembunyikan rasa lelah. Perutnya yang kian membuncit membuat tiap langkahnya dilakukan dengan perlahan.

Lihat selengkapnya