Setelah Mama Pergi

tettyseptiyani02
Chapter #9

9. Sebuah Bayaran Besar untuk Retakan

Setelah Tian dan bayinya dirawat tujuh hari, akhirnya mereka diperbolehkan pulanh. Selama seminggu setelah operasi sesar, rumah Tian kembali dipenuhi suara orang. Bukan suara tamu yang datang bergantian mengucapkan selamat, melainkan bunyi panci yang beradu, langkah kaki kecil anak Nivir yang berlarian di ruang tamu, tangis bayi yang pecah setiap beberapa jam, serta suara April yang mondar-mandir membawa termos air hangat dan popok bersih. Rumah sederhana itu terasa hidup, meski setiap penghuninya masih menyimpan lelah masing-masing.

April beberapa kali menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar. Dari sana ia melihat Nivir sedang membantu Tian bangun dan menuntun ke kamar mandi. Tangan kakaknya cekatan membetulkan posisi bantal, merapikan selimut bayi, lalu mengusap pelan rambut Tian yang basah oleh keringat. Tidak banyak kata keluar dari mulut Nivir. Sesekali ia hanya mengingatkan dengan nada khasnya.

"Jangan makan sembarangan sekarang mah, kan lagi menyusui!"

Tian mengangguk pelan. Namun, setelah April perhatikan beberapa hari terakhir ini... Nivir menjadi lebih mirip Rokasya. Perhatian yang diberikan pada Tian tidak seperti biasanya.

Ucapan Nivir terdengar sederhana. Namun bagi April, pemandangan tersebut jauh lebih mahal daripada apa pun yang bisa dibeli dengan uang. Beberapa bulan terakhir ia hanya melihat keduanya saling menjauh. Kini mereka kembali berada dalam satu ruangan tanpa saling melukai dengan ucapan.

Di dapur, Mahendra sedang memotong pepaya. Cara memegang pisaunya masih sama seperti ketika Rokasya masih hidup. Bedanya, kini tidak ada lagi suara istrinya yang mengingatkan agar buah dipotong lebih kecil untuk cucu. Mahendra meletakkan hasil potongannya ke piring, lalu memanggil pelan.

"Itu buatnya Papa taruh di kulkas, ya!"

April tersenyum tipis. Rumah mereka belum benar-benar pulih, tetapi perlahan mulai menemukan ritmenya lagi.

***

Seminggu kemudian, rumah Tian semakin ramai. Keluarga inti Rasyid datang. Mahesa serta Ragil juga datang bersama anak istrinya. Hari itu diadakan pengajian sekaligus aqiqah sederhana untuk perempuannya. Aroma gulai kambing dan nasi kebuli memenuhi halaman. Rasyid dan Mahesa membantu menata kursi, sementara suara Rissa dan temannya memenuhi ruangan.

Dari ambang pintu tengah, April memandangi suasana ruang tamu yang mulai dipadati kerabat dan keluarga. Nivir sedang sibuk merapikan kardus-kardus konsumsi, sementara Mahendra baru saja selesai menyapa para tamu. Di sudut ruangan, dekat ayunan bayi berhias kain renda putih, Rasyid sedang menyambut kedatangan ayahnya sendiri yang baru tiba. Mertua Tian itu tampak letih, wajahnya memerah dan berdebu usai menempuh perjalanan jauh dari Bandung mengendarai sepeda motor.

Naluri bidan Tian muncul begitu saja saat melihat sang ayah mertua langsung meminta Rasyid untuk menggendong cucunya. Tian memandang wajah lelah ayah mertuanya dan kulit sensitif bayinya yang baru berusia dua mimggu.

"Sayang, sini dedenya. Bapak mau gendong katanya."

"Bi, Bapak mandi dan ganti baju dulu, ya," tutur Tian pelan. Suaranya amat lembut, tulus tanpa niat merendahkan. "Bapak kan baru sampai naik motor dari Bandung, takut banyak debu dan kuman yang nempel. Nanti habis bersih-bersih baru gendong dede."

Namun, ucapan sederhana itu rupanya menghantam harga diri Rasyid secara telak. Muka Rasyid memerah seketika.

"Kalau Bapak harus mandi dulu, kenapa tadi pas papa, April, Kak Nivir dan yang lain baru datang nggak disuruh mandi dulu?" cetus Rasyid tiba-tiba. Suaranya memotong keheningan ruangan dengan nada tajam.

Ruang tamu mendadak sunyi senyap. April yang berdiri tak jauh dari sana menghentikan gerakannya. Rasyid menatap April.

"Kamu mandi belum, Dek? Kalau belum, mandi dulu sana!"

Tian menoleh, matanya membelalak kaget. "Maksud kamu apa, Bi?"

"Kamu selalu beda perlakuan!" gertak Rasyid, melangkah mendekati Tian dengan mata menatap sengit. "Aku tahu kamu gak mau Tafi dipegang keluarga aku, kan?"

Lihat selengkapnya