Rumah Zaskia menjadi tempat paling aman bagi Tafi, meski ketenangan tersebut hanya tampak di permukaan. Bayi Tian terlelap di dalam pangkuan April. Sesekali bibir mungilnya bergerak seperti sedang menyusu dalam mimpi, sementara napasnya terdengar lembut memenuhi kamar Zaskia yang beraroma minyak telon.
April memindahkan keponakannya ke atas springbed. Tafi dibaringkan di dekat Rissa. Kemudian ia mengambil botol susu yang baru selesai dicuci. Tatapannya berkali-kali beralih kepada bayi itu. Ia masih sulit mempercayai bahwa hanya beberapa jam sebelumnya kakaknya hampir menghilang karena merasa seluruh dunia tidak lagi berpihak kepadanya. Kini bayi itu tertidur tanpa mengetahui betapa rapuh keadaan orang-orang dewasa yang mengelilinginya.
Zaskia keluar dari dapur membawa dua cangkir teh.
"Minum dulu. Dari tadi kamu belum istirahat."
April menerima cangkir itu sambil mengangguk pelan.
Zaskia keluar ke ruang tamu yang berada tepat di samping kamarnya. Ia duduk di dekat ambang pintu menatap keluarga sahabatnya. Ia sudah cukup lama mengenal keluarga Mahendra untuk memahami bahwa mereka bukan keluarga yang suka memperlihatkan luka kepada orang lain. Justru ketika semua tampak baik-baik saja, biasanya ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan.
Di harapannya, Mahendra dan Nivir duduk berdampingan. Sesekali suara motor melintas memecah percakapan mereka. Mahendra mengusap wajahnya yang terlihat semakin tua dibanding beberapa bulan lalu.
"Papa takut Tian sama Rasyid tambah ribut."
"Orang habis melahirkan itu emosinya memang gampang naik turun. Harusnya keluarga Rasyid ngerti." Nivir menimpali.
Mahendra mengangguk pelan.
"Papa nggak nyalahin Rasyid sepenuhnya. Mungkin dia juga capek."
"Iya, tapi sebagai orang tua harusnya paham ... dia baru aja datang, naik motor dari luar kota. Masa mau gendong bayi!"
Belum sempat Mahendra menjawab, ponselnya bergetar. Nama besannya muncul di layar. Mahendra langsung mengangkat dan mengaktifkan mode pengeras suara.
"Assalamu'alaikum." Mahendra mengawali.
Tak ada jawaban. Sambungan telepon itu malah terputus. Sesaat kemudian, sebuah pesan suara masuk lewat WhatsApp. Mahendra menekan tombol putar tanpa curiga.
Suara laki-laki paruh baya memenuhi ruang tamu rumah Zaskia. "Pak Mahendra, saya cuma mau bilang. Kalau sekali lagi Tian berbuat seperti itu, Rasyid akan saya bawa pulang. Biar dia pulang ke rumah orang tuanya. Kami juga kasihan lihat anak kami."
Kalimat itu berhenti di sana. April yang mendengar suara tersebut sempat tertegun. Apa yang dilakukan mertua dari kakaknya?
Tangan Mahendra masih menggenggam ponsel, tetapi jemarinya mulai gemetar. Nivir meminta ponsel itu tanpa bicara, lalu memutar ulang pesan tersebut. Semakin didengar, rahangnya semakin mengeras.
"Enak sekali ngomongnya!" bentak Nivir.
Mahendra menunduk. "Mungkin mereka lagi emosi."
"Anak dia juga tadi teriak-teriak, kenapa malah ngomong mau bawa pulang Rasyid? Dia pikir Rasyid ini anak perempuan! Orangtua kok ikut campur banget urusan rumah tangga anaknya!"
"Kalau sama-sama emosi, masalahnya nggak selesai." Mahendra menengahi.
"Anaknya sendiri bentak-bentak istri habis operasi. Sekarang malah ngancam mau bawa pulang." Nivir masih sangat kesal.
Nada suara kakaknya yang tinggi begitu jelas masuk ke kamar. April yang duduk di dekat Tadi saling mencuri Padang dengan Zaskia yang duduk di ambang pintu kamar.
Zaskia mengalihkan pandangannya menatap Mahendra. "Pak, orang yang baru melahirkan itu bukan cuma butuh obat. Dia butuh rasa aman. Ancaman seperti ini justru bisa memperburuk kondisi mental Teteh."