Setelah Mama Pergi

tettyseptiyani02
Chapter #11

11. Masih Meninggalkan Duka

Seminggu menginap di rumah Tian mengubah ritme harian April secara drastis. Di atas meja belajar kayu dekat jendela kamar tamu, laptop perak berdesain tipis milik Tian terbuka lebar. Perangkat keluaran terbaru dengan spesifikasi tinggi itu memancarkan kilau mulus, menampilkan draf Bab I proposal skripsinya yang berjudul Perhitungan Nilai Porositas pada Batuan Reservoir Menggunakan Metode Dual Energy CT-Scanning. Baik Tian ataupun Rasyid rela mengalah pada April dengan memakai laptop tua pemberian Mahendra sebelas tahun lalu demi memastikan adik bungsu mereka bisa mengolah data skripsi tanpa kendala.

Saat jari-jari April baru saja selesai mengutip jurnal untuk menyempurnakan layar belakang, Tafi yang terbaring di sampingnya mulai menggeliat. Bibir mungil bayi itu mencecap udara, disusul tangisan tipis yang perlahan mengeras. Tanpa ragu, April menggeser laptop Tian menjauh, mengulurkan kedua tangan untuk merengkuh keponakan kecilnya ke dalam dekapan. Ia menimangnya perlahan seraya menggoyangkan badan secara konstan, menghafal setiap lekuk wajah bayi yang masih memerah itu.

"Udah bangun, Sayang? Bentar dulu ya... ummah lagi mamam dulu, Tafi sama Oyi dulu, ya," bisik April pelan, menepuk-nepuk lembut bagian belakang tubuh Tafi hingga isakannya mereda.

Tak lama setelahnya, Tian melangkah masuk ke kamar membawa segelas susu cokelat dingin untuk menjaga mood-nya. Wajah Tian masih memendam sisa-sisa keletihan, tetapi binar matanya jauh lebih hidup dibandingkan beberapa hari lalu. Ada ketenangan tipis yang perlahan kembali mengendap di raut wajahnya. Tian tersenyum kecil melihat April begitu telaten menimang anaknya, lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang untuk bersiap menyusui.

"Makasih ya, Dek. Kamu jadi harus ngetik sambil pangku Tafi dari kemarin," kata Tian seraya menerima bayinya dari dekapan April.

"Nggak apa-apa, Teh. Lagian laptop Teteh ini enak banget dipakenya, kencang buat running simulasi angka." April melempar senyuman. "Mengolah data skripsi itu mirip kayak menjaga kestabilan tekanan di sumur migas, butuh presisi dan momen yang pas," sahut April dengan kekehan kecil.

"Aduh aduh... pusing banget deh! Teteh gak paham lah kamu ngomong apa... yang Teteh tahu kalau di dunia kebidanan, nyusun skripsi itu ibarat memantau pembukaan persalinan." Tian terkekeh. "Butuh kesabaran ekstra, nggak bisa dipaksa ngejan kalau belum waktunya dan kalau ada kendala dikit... ya harus siap-siap cito kayak Teteh kemarin!"

"Iya deh... Bu Bidan!" April membalas kekeham sambil merapikan beberapa lembar kertas draf di meja, memperhatikan bagaimana Tian kini berinteraksi dengan bayinya secara jauh lebih rileks.

Melihat kondisi psikologis Tian yang kian stabil dan pola komunikasi kakaknya dengan Rasyid yang semakin tertata usai melewati badai seminggu lalu, April merasa tugas daruratnya di Harjamukti sudah terpenuhi. Ia tidak boleh berlama-lama melalaikan target akademisnya. Usai memastikan stok perlengkapan bayi aman dan Tian mendapat pendampingan yang cukup, April akhirnya memboyong kembali tas laptop dan pakaian kotornya pulang ke rumah Tegalwangi.

Kepulangan April ke Tegalwangi menyajikan pemandangan yang berbeda dari beberapa bulan sebelumnya. Bengkel finishing rotan milik Mahendra di belakang rumah masih menderum oleh bunyi mesin spray gun dan menyebarkan aroma khas thinner serta pelitur cair ke udara. Namun, suasana di dalam rumah inti terasa jauh lebih hangat. Kehadiran Tafi yang kerap diboyong Tian menginap di Tegalwangi tatkala Rasyid dinas luar kota menjadi magnet baru yang menyatukan mereka.

***

Di kamar kosnya yang sepi di Bandung, hawa dingin menusuk kulit saat April baru saja meluruskan punggungnya usai berjam-jam menatap grafik analisis porositas batuan di layar laptop. April berjalan menuju meja kecil untuk mengambil air minum. Tepat ketika ia memegang gelas, ponselnya di atas kasur bergetar nyaring.

Sebuah notifikasi video masuk di grup keluarga, dikirimkan oleh Nivir. April menggeser layar ponselnya seraya tersenyum. Di dalam video berdurasi singkat itu, tampak Nivir sedang mendorong kereta bayi Tafi dengan satu tangan, sementara tangan satunya menggandeng Rissa yang mengenakan seragam serba putih khas murid baru SD. Wajah Nivir yang biasanya dibayangi guratan tegas dan nada bicara bertekanan tinggi, kini melunak total. Suara Nivir terdengar amat renyah di balik rekaman, membujuk Tafi yang dibedong hangat agar tidak rewel selama mengantar keponakannya bersekolah.

Tak lama kemudian, pesan singkat dari Tian menyusul di ruang obrolan pribadi.


Teteh:

Dek, Kak Nivir makin sering main ke Harjamukti. Tafi tadi diajak jalan-jalan pagi sama Kak Nivir sekalian antar Rissa sekolah. Senang banget deh, Tafi ditemenin terus.


Pesan lain dari Zaskia pun ikut masuk, mengonfirmasi betapa hangatnya perubahan sikap Nivir yang kini telaten merawat Tafi dan mendampingi Tian tanpa ada lagi prasangka atau kata-kata pedas yang melukai.

Membaca deretan kabar itu dari perantauan, dada April terasa membuncah oleh kehangatan yang luar biasa. Retakan panjang yang dulu membendung aliran emosi di antara kedua kakaknya kini benar-benar telah runtuh. Nivir tak lagi memandang Tian sebagai beban yang manja, dan Tian tak lagi menganggap keharmonisan keluarga sebagai hal yang mustahil. Kehadiran Tafi seolah menjadi katalisator yang mencairkan kebekuan yang bertahun-tahun mengendap setelah mama pergi.

Ketenangan dan kabar bahagia dari rumah Tegalwangi serta Harjamukti menjadi pendorong terbesar bagi psikis April. Rasa tenang bahwa keluarganya baik-baik saja memerdekakan pikirannya dari kecemasan yang selama ini membebani. Hari-harinya di kampus berjalan penuh fokus dan terarah. Masa-masa kritis sidang proposal ia lewati dengan hasil yang memuaskan, lembar demi lembar revisi ia tuntaskan tanpa tunda, hingga akhirnya data pengujian Dual Energy CT-Scanning miliknya dinyatakan lengkap oleh dosen pembimbing.

Saat menyusuri koridor gedung jurusan menuju ruang administrasi, pandangan April sempat tertambat pada lembaran berkas pendaftaran sidang skripsi yang kini mantap berada di genggamannya. Rasa hangat dari kabar keluarganya bersinggungan indah dengan semangatnya yang membara. Rumah Tegalwangi telah menemukan kembali kedamaiannya, dan kini giliran April yang melangkah satu tahap lebih dekat untuk menuntaskan studinya, meraih gelar sarjana, serta menepati janjinya memerdekakan Mahendra dari belenggu utang.

Lihat selengkapnya