Setelah Mama Pergi

tettyseptiyani02
Chapter #12

12. Runtuh Dari Dalam

Keheningan di dalam mobil terasa begitu kental, seperti cairan lumpur bor pekat yang menyumbat pipa pernapasan. Sepanjang jalan dari pinggiran Bandung hingga memasuki gerbang perumahan Harjamukti, tidak ada satu pun percakapan yang bergulir. Mereka memiliki pulang ke rumah Tian karena letaknya yang hanya dua menit dari gerbang tol Ciperna. Anak tengah Mahendra bersama keluarga kecilnya itu tinggal di Perumahan Bumi Citra Lestari Kota Cirebon.

Di dalam mobil, April memilih melemparkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan kerlip lampu jalan yang membias kabur oleh sisa air mata di pelupuk matanya. Di sebelahnya, Nivir melipat tangan di dada dengan pandangan lurus ke depan, sementara Mahendra memegang kemudi dengan buku-buku jari yang memutih, berkali-kali mencuri pandang lewat spion tengah untuk memantau para putrinya yang saling membisu.

Begitu mesin mobil dimatikan di halaman rumah Tian, April langsung turun tanpa menunggu penumpangnya yang lain. Langkah kakinya bergegas membawa tas toga dan buket bunga lili dari Julian masuk ke dalam rumah. Gadis itu memasuki kamar tamu yang biasa jadi tempatnya tidur saat menginap. Mahendra menyusul dari belakang seraya mengusap tengkuknya yang tegang, menatap canggung pada Tian yang sedang menenangkan Tafi di sofa ruang tamu. Tak lama, Nivir bersama Rissa masuk ke kamar Tian. Rasyid mempersilahkan kakak ipar dan keponakannya istirahat di kamar utama bersama Tian dan Tafi, sedangkan dirinya ke ruang kerjanya.

"Papa pusing kalau kalian diam-diaman begini," ujar Mahendra pelan. "Masa dari Bandung sampai Cirebon mau begini terus?"

Tian mengernyitkan kening. "Papa kenapa ngomongnya sama aku? Aku diem karena takut salah ngomong."

"Ya perwakilan aja, kamu juga kan anak Papa."

Tian yang lelah masuk ke kamar. Namun, ia mendapati Nivir sedang menangis. Ia panik melihat kondisi kakaknya.

"Kakak kenapa?" Tian buru-buru meletakkan Tafi di dekat Rissa.

"Kak Nivir capek, Tian. April itu dari kemarin dia kesel-kelas terus. Tadi pagi aja sebelum acara mulai dia udah kesel-kelas." Nivir menghela napas. "Maksud aku kan... kita semua udah effort buat acara dia. Kenapa dia malah mau sama Zaskia!"

Tian mengelus pundak kakaknya. Kali ini posisi yang biasanya ditempati April berpindah pada Tian.

"Buket yang dibawa Papa itu Kakak yang bikin, April yang minta dibuatkan. Tapi apa? Disentuh pun enggak! Dia malah marah-marah di gedung katanya ngapain dibawa? Ribet!" Nivir tampak menghela napas. " Tapi pas si Julian-Julian itu datang bawa bunga, dia pegang, dia senyum bahagia langsung foto-foto. Apa namanya kalau gak menghargai keluarga?"

Tian tertegun mendengar penjelasan sang kakak. "Ya Allah... kok April begitu, ya, sama Kakak? Iya, Kak Nivir wajar banget kalau kecewa sama April. Kalau aku jadi Kakak juga pasti udah nangis-nangis."

Nivir mengusap air matanya. " Kakak mau pulang aja, Tian." Wanita itu bergegas mengajak anaknya. Saat keluar kamar, ia juga berkata pada Mahendra. "Ayok pulang, Pa... aku capek mau istirahat."

Mahendra berdiri mematung. Ia tampak kebingungan. Pria itu bergegas ke kamar tamu untuk mengajak April pulang. Namun, gadis yang baru saja menyandang gelar sarjana teknik itu membisu.

"Adek kamu itu diem aja! Papa bingung ini harus gimana?"

"Papa pulang ke Tegalwangi aja sama Kak Nivir, ya. Biar Papa bisa istirahat, kasihan Papa dari pagi nyetir terus. Nanti aku yang ngobrol sama April." Tian meyakinkan.

"Ya udah, biar April menginap di sini dulu." Mahendra menghela napas. "Tapi pastiin adek kamu itu mau makan. Dia belum kaiaj dari pagi."

Tian hanya mengangguk. Mahendra menatap Tian cukup lama, lalu bergegas. Pria tua itu melangkah keluar rumah tanpa mampu berkata-kata lagi saat melihat Nivir sudah berdiri di samping mobil dengan wajah kaku seperti tembok beton. Begitu deru mobil Mahendra menghilang menyusuri jalan raya Harjamukti, keheningan di rumah itu mendadak berganti oleh desis halus angin sore yang membawa aroma tanah basah.

Tak sampai setengah jam kemudian, suara ketukan pintu depan memecah kecanggungan di dalam rumah. Zaskia melangkah masuk membawa tas sandang kecilnya, sementara dari ambang pagar, Julian tampak melambaikan tangan pamit menuju taksi yang sudah menunggu di pinggir jalan. Julian tidak ikut masuk karena masih harus mengejar urusan pekerjaan di kota asalnya. Pemuda itu hanya sempat menitipkan salam hangat melalui Zaskia untuk April dan Tian.

Zaskia melepas sepatunya di teras, lalu berjalan menghampiri April yang sedang duduk bersandar di sudut tempat tidur kamar tamu, masih mengenakan kain kebaya wisudanya yang agak kusut.

Lihat selengkapnya