Setelah Mama Pergi

tettyseptiyani02
Chapter #13

13. Pelindung Utama Melangkah Terlalu Jauh

Suara deru angin malam yang berembus di perumahan Harjamukti membawa suasana dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di ruang tengah rumah Tian, suasana terasa sempit dan padat oleh gumpalan kekecewaan yang tak kasatmata. Nivir duduk bersedekap di atas sofa kain, matanya menatap tajam ke arah lantai keramik tanpa berkedip. Di sudut lain, April melipat lututnya rapat-raport, memeluk bantal sofa seraya memperhatikan tumpukan pakaian yang ia bawa seadanya dalam tas ransel. Keputusan mereka berdua meninggalkan rumah Tegalwangi subuh hari adalah bentuk perlawanan terbuka, sebuah aksi mogok yang tak pernah terbayangkan sebelumnya demi menuntut ketegasan Mahendra.

Siangnya, Zaskia yang baru saja mendapat kabar darurat langsung bergegas datang, melangkah cermat melintasi pintu depan yang setengah terbuka. Ia membawa dua kotak susu hangat dan langsung meletakkannya di meja kaca depan sofa. Zaskia menatap April, lalu mengalihkan pandangannya pada Nivir yang sedang berjalan bolak-balik seraya menimang Tafi. Tian duduk termenung masih memikirkan ucapan ayahnya semalam.

"Papa beneran gak ada respons pas tahu April sama Kak Nivir keluar rumah?" tanyak Zaskia pelan, berusaha mengurai kebekuan ruangan.

April meremas ujung bantal sofa hingga buku-buku jarinya memutih. "Gak ada, Zas. Sama sekali gak ada panggil telepon atau pesan masuk ke nomor aku." Gadis itu menghela napas. "Sepanjang hidup aku, Papa itu paling panik kalau tahu aku belum pulang lewat jam delapan malam. Sekarang, aku angkat kaki dari rumah membawa tas pakaian, Papa justru bersikap seolah di rumah baik-baik aja."

Nivir menimpali dengan dengusan kasar, rahangnya mengeras tajam. "Laki-laki kalau udah kepikat perempuan lain ya begitu! Nalar hukum dan mata hatinya udah ketutup rasa kasmaran! Dia lupa kalau anak-anaknya di sini yang terus pasang badan mempertahankan martabat rumah dan keluarga ini!"

Di tengah kepanikan yang membuncah di ruang tengah, ponsel Rasyid yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar nyaring. Nama Mahendra terpampang di layarnya. Suasana ruangan seketika menegang. Sebelum Rasyid sempat mengulurkan tangan untuk menggeser tombol hijau, Tian yang duduk bersandar lemas mendadak menahan lengan suaminya.

"Bij... jangan bilang Kak Nivir sama April ada di sini," bisik Tian terbata-bata dengan napas yang masih tersengal. "Jangan bilang mereka kabur ke sini..."

"Iya, Sayang. Tenang dulu," sahut Rasyid pelan.

"Kerasin suaranya, ya, viar semua dengar," pinta Tian lagi, matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke ponsel suaminya.

Rasyid mengangguk perlahan, lalu menggeser layar dan mengaktifkan mode pengeras suara. Suara Mahendra seketika memenuhi ruang tengah, terdengar parau, sarat beban dan seperti seseorang yang kehilangan pegangan. Pria tua itu menelepon Rasyid karena merasa tak punya tempat bersandar lagi untuk mencari dukungan.

"Rasyid..." panggil Mahendra di seberang telepon. "Papa tuh bingung sama anak-anak. Memangnya salah ya kalau Papa dekat sama perempuan lagi? Papa udah kasih semuanya buat anak-anak, sekolah mereka tinggi, hidup mereka layak... tapi kenapa untuk hal begini aja anak-anak gak ada yang bisa mengerti Papa?"

Rasyid mengusap tengkuknya, mencoba menjawab dengan nada sesopan dan sejelas mungkin. "Bukan begitu, Pa. Ini semua cuma terlalu mendadak buat mereka. Setahu Rasyid, yang bikin Tian kecewa itu Papa dari awal gak jujur sama Tian... bahkan ke semua anak-anak Papa."

"Mendadak gimana?" potong Mahendra, suaranya mulai terdengar lelah dan defensif. "Papa cuma dekat, dia bukan pacar dan belum mau nikah."

"Masalahnya sekarang April juga sampai kabur dari rumah, Pa...." Rasyid sengaja menggantung kalimatnya.

Namun, jawaban Mahendra di luar dugaan semua orang di ruangan itu.

"Biarin aja! Terserah dia mau ke mana!" tembak Mahendra dingin dari seberang telepon. "Capek Papa ngurusinnya!"

Kata 'terserah' yang terlontar dari bibir ayahnya menghantam dada April begitu keras. Tubuh gadis itu gemetar hebat. Tangisnya yang sejak tadi ditahan seketika pecah tanpa suara. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tersedu-sedu di sudut sofa, ini pertama kalinya dalam hidup, ia mendengar sang ayah sama sekali tidak peduli saat mengetahui dirinya pergi dari rumah.

Tian yang menyaksikan adiknya hancur dan tak tahan mendengar sikap ayahnya, langsung merebut ponsel dari tangan Rasyid.

"Pa!" teriak Tian dengan suara melengking dan napas yang memburu hebat. "Mahendra yang selama ini aku tahu itu peduli banget sama anak-anaknya! Kenapa pas tahu April kabur Papa malah gak nyari dan bilang terserah! Papa ini kenapa, sih?"

Di seberang sana, Mahendra mulai berkelit dan membela diri dengan nada tinggi. Perdebatan itu mendadak menjadi pemicu liar bagi kondisi psikologis Tian. Dada ibu muda itu naik-turun secara drastis, tampak sesak luar biasa dan serangan paniknya seketika memuncak.

"Kalau Papa tetap mau sama Roqirix... mending aku mati aja, Pa! Mending aku mati aja!" jerit Tian histeris, menangis terisak-isak hingga tubuhnya mulai kejang dan kaku.

Ponsel di tangan Tian terlepas dan meluncur ke lantai. Nivir yang tadinya memegang Tafi, refleks menyerahkan bayi itu dengan cepat ke dekapan Rasyid. Wajah Nivir pucat pasi melihat adiknya kejang-kejang di lantai. Tanpa memikirkan gengsi atau emosinya lagi, Nivir langsung menjatuhkan diri, merengkuh tubuh Tian erat-erat ke dalam pelukannya.

Lihat selengkapnya