Setelah Mama Pergi

tettyseptiyani02
Chapter #14

14. Memunguti Sisa-Sisa Duka

Seminggu berlalu sejak Nivir diperbolehkan keluar dari rumah sakit, atmosfer di rumah Tegalwangi masih terasa mengendap seperti debu kayu rotan yang enggan terbang. Pagi itu, April duduk di depan laptop peraknya di kamar, merapikan kemeja putih berkerah yang baru saja ia setrika. Setelah berminggu-minggu didera kecemasan tanpa kepastian, dua panggilan wawancara kerja online dari perusahaan perminyakan akhirnya masuk ke surelnya. April menarik napas dalam-dalam, mengatur pencahayaan lampu kamar dan memeriksa kestabilan koneksi internet, berusaha memfokuskan pola pikirnya pada parameter evaluasi well-testing yang siap ia paparkan di hadapan tim perekrut.

Namun, baru saja ia membuka aplikasi ruang pertemuan virtual, gema teriakan melengking memecah keheningan rumah dari arah kamar utama. Suara Nivir meluncur deras, penuh penekanan tajam dan nada bicara tinggi khas dirinya saat sedang menangani kasus berat di persidangan. April refleks menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik, menahan napas di balik pintu kamar yang setengah terbuka.

"Pergi saja dari rumah ini kalau memang mau hidup sama wanita itu!" bentak Nivir di ujung telepon, suaranya gemetar oleh murka yang tak lagi tertahan. "Saya tahu rumah ini milik Papa dan Mama! Tapi kalau Papa lebih pilih wanita itu, lebih baik tinggalkan kami semua! Jangan pernah injakkan kaki di sini lagi!"

Suara pintu kamar utama yang dibanting keras menyisakan keheningan kaku yang mencekam. Belum sempat April mencerna kalimat sengit kakaknya, getaran beruntun dari ponsel di samping laptop mengejutkannya. Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari Tian, menyertakan sebuah berkas rekaman suara berdurasi beberapa menit.

April menekan tombol putar dengan jemari gemetar, menempelkan speaker ponsel ke telinganya. Suara Tian seketika menyengat indra pendengarannya, bukan lagi isakan pelan, melainkan jeritan histeris yang pecah, penuh caci maki tak terarah kepada Mahendra. Di sela deru napasnya yang sesak dan putus-putus, Tian menjerit bahwa ia lebih baik mati daripada harus menyaksikan ayahnya bersanding di pelaminan bersama Roqirix.

Dada April bagai dihantam tekanan balik secara mendadak. Di layar laptop, wajah tim penguji wawancara kerja sudah muncul, melambaikan tangan seraya memanggil namanya di dalam ruang virtual. April menatap wajah-wajah asing di layar itu, lalu beralih menatap nama Tian yang berkedip di ponselnya. Pilihan itu tak membutuhkan waktu lama untuk diputuskan, dengan tangan yang sedikit gemetar, April mengetik pesan permohonan maaf singkat di kolom obrolan virtual, lalu menutup paksa aplikasi wawancara tersebut. Karir perminyakan yang ia impikan seketika melayang, kalah telak oleh sirine darurat yang meraung dari kehidupan kakaknya.

Tanpa memikirkan kemeja kerjanya yang masih rapi, April langsung melempar tas ransel ke pundak dan memacu sepeda motornya membelah jalanan menuju Harjamukti. Pikiran April terus tertuju pada Tafi yang baru berusia tujuh bulan. Rasyid baru saja dipindah tugaskan ke kantor cabang luar kota yang berjarak lebih dari satu jam perjalanan, memaksa pria itu selalu pulang melintasi tengah malam. Jika serangan panik Tian memuncak di rumah sendirian, tidak ada satu pun orang dewasa yang bisa menjaga keselamatan bayi mungil itu.

Begitu pintu rumah Harjamukti berhasil ia buka, April menemukan Tian terduduk lemas di lantai ruang tengah dekat ayunan bayi, dengan mata sembap dan wajah pucat pasi. Tafi yang berada di dalam ayunan merengek pelan, menggoyangkan kaki kecilnya yang belum mengerti kepedihan orang dewasa di sekitarnya. April segera berlutut, merengkuh bahu Tian yang dingin dan gemetar hebat ke dalam pelukannya.

"Teh... tenang, Teh. Aku di sini dulu, ya, sampai Kak Rasyid pulang," bisik April lembut, menepuk-nepuk punggung Tian seraya mengatur irama napasnya sendiri agar tidak ikut terbawa kepanikan. "Semua bakal baik-baik saja. Ada aku, ada Kak Nivir. Teteh nggak sendirian."

Tian menyandarkan kepalanya yang berat di bahu April, tangisnya kembali pecah dalam suara yang makin memelan. "Papa beneran tega, Pril... Papa udah nggak sayang sama kita."

"Kak Nivir tadi marah besar sama Papa," potong April cepat, mencoba mengalihkan fokus pikiran kakaknya pada fakta dukungan yang ada. "Kak Nivir usir Papa dari rumah kalau Papa masih ngotot sama perempuan itu. Kak Nivir murni ngebela Teteh dan kita semua. Dia keras begitu karena dia paling nggak bisa lihat adiknya disakiti."

Tian mengusap air matanya yang terus menetes, menatap April dengan binar mata yang meredup pasrah. Keputusan bersama akhirnya mengkristal di antara mereka sore itu tanpa perlu perdebatan panjang. Baik Tian maupun Nivir sepakat untuk menutup rapat-rapat pintu komunikasi dan memutus total seluruh interaksi dengan Mahendra.

Lihat selengkapnya